Di daun jendela selalu termenung. Bulan sepenggal membentuk sabit
pucat di lingkar mega menuju mati. Ada ketakutan saat kau masuki dini hari
kesedihan samar menjalar dalam penantian. Kau lindas gelinjang yang sudah lama
terperam sampai sekarat. Musim gugur di hatimu tak kunjung usai meranggaskan tunas
kerontang ketika semi hendak berkelopak. Kelebat bayang masa silam hadir dalam sengkarut
mimipi-mimpi pengganggu tidur. Begitu rupa ia hadir membawa kaleidoskop luka datang
beruntun menaburkan perih dari langit. Pada resik malam yang sepuh angin mendedah kisah
Qais bernyanyi pada sunyi . Rembulan membungkus nanar wajah Layla. Cinta terpenggal dalam
labirin pekat air mata. Masih di daun jendela selalu termenung. Bulan sepenggal di rimba awan
membentuk sabit siap mengeksekusi penantian sia-siamu. Ketika kau tersadar ujung malam
telah beringsut mendekat.
Komentar
Tulis komentar baru