KETIKA BUJANG KURAP DATANG KE DANAU RAYO
Sebuah Percakapan di Tepi Air Bersama Derrida, Foucault, dan Para Penjaga Makna
Oleh: Wiko Antoni
Sore itu Danau Rayo tampak tenang.
Angin berembus perlahan dari arah perbukitan. Air danau memantulkan langit yang mulai menguning. Di kejauhan, rumpun-rumpun rumput kekuningan bergoyang pelan. Orang-orang di Sungai Jernih percaya, di situlah dahulu pondok Nenek Bengkuang terapung ketika Dusun Remayu tenggelam menjadi danau.
Saya duduk di tepian.
Sendiri.
Atau setidaknya saya kira demikian.
Sebab tak lama kemudian, satu per satu tamu aneh datang menghampiri.
Seorang lelaki tua berkacamata bundar memperkenalkan diri sebagai Jacques Derrida. Di sampingnya duduk Michel Foucault dengan kepala plontos yang berkilat diterpa cahaya senja. Roland Barthes datang membawa setumpuk catatan. Sedangkan Jean-François Lyotard tampak sibuk memperhatikan permukaan air yang sesekali beriak.
Kami semua menghadap danau.
Dan tiba-tiba saya merasa seolah Bujang Kurap sedang berjalan dari balik kabut.
"Nah Pak Derrida," saya membuka percakapan, "mengapa masyarakat begitu membenci Bujang Kurap?"
Derrida tidak langsung menjawab.
Ia mengambil segenggam pasir lalu membiarkannya jatuh perlahan dari sela-sela jarinya.
"Karena manusia selalu menciptakan pusat dan pinggiran."
"Maksudnya?"
"Di dalam cerita ini, Raja adalah pusat. Putri Seruni adalah pusat. Istana adalah pusat. Pesta adalah pusat."
"Lalu Bujang Kurap?"
"Pinggiran."
Saya menatap danau yang mulai berwarna tembaga.
Memang benar.
Sejak pertama kali muncul, Bujang Kurap tidak pernah diberi tempat terhormat.
Ia tidak tampan.
Ia tidak kaya.
Ia tidak memiliki gelar.
Tubuhnya penuh kurap.
Baunya dianggap busuk.
Ia menjadi objek ejekan seluruh kampung.
Tetapi anehnya, justru orang yang berada di pinggir itulah yang memahami keadaan sebenarnya.
Sedangkan mereka yang berada di pusat justru kehilangan arah.
Derrida tersenyum.
"Itulah yang disebut dekonstruksi."
Menurutnya, legenda ini sedang membongkar keyakinan lama bahwa kebenaran selalu berada di pusat kekuasaan.
Ternyata tidak.
Kadang kebenaran justru datang dari orang yang paling tidak dihargai.
Dari mereka yang duduk di sudut.
Dari mereka yang tidak diajak bicara.
Dari mereka yang dianggap tidak penting.
Tiba-tiba angin bertiup lebih kencang.
Riak air bergerak melingkar.
Foucault yang sejak tadi diam mulai berbicara.
"Nak Wiko, menurutmu apa kesalahan terbesar Raja?"
"Mau menikahi anaknya sendiri?"
Foucault mengangguk.
"Tetapi masalahnya bukan di situ."
Saya terdiam.
"Bukankah itu jelas salah?"
"Ya. Tetapi yang lebih berbahaya adalah bagaimana ia berusaha membuat kesalahan itu tampak benar."
Kalimat itu membuat saya menoleh.
Benar juga.
Raja tidak memaksa rakyat dengan pedang.
Ia tidak memenjarakan mereka.
Ia tidak mengancam siapa pun.
Sebaliknya, ia pergi menemui seorang Sunan.
Ia mencari legitimasi.
Ia mencari pembenaran.
Ia mencari bahasa yang dapat mengubah kesalahan menjadi kebenaran.
Lalu lahirlah kisah pohon pisang dan buahnya.
Sebuah perumpamaan yang sederhana.
Namun cukup kuat untuk menipu banyak orang.
Foucault memandang ke tengah danau.
"Begitulah kekuasaan bekerja."
"Kekuasaan tidak selalu memerintah."
"Lalu?"
"Ia membuat manusia percaya bahwa mereka sedang memilih sendiri."
Dan tiba-tiba saya merasa kisah tua ini tidak lagi berbicara tentang masa lalu.
Roland Barthes kemudian menyalakan rokok khayalnya.
Asapnya bercampur dengan kabut sore.
"Nak Wiko, coba lihat pesta tujuh hari tujuh malam itu."
Saya membayangkan kembali keramaian Dusun Remayu.
Musik.
Makanan.
Panggung.
Orang-orang berpakaian terbaik.
Semua tertawa.
Semua bergembira.
Padahal sebuah pelanggaran adat sedang dipersiapkan.
Barthes menggeleng pelan.
"Itulah mitos."
"Mitos?"
"Ya. Ketika manusia lebih percaya pada simbol daripada kenyataan."
Mahkota menjadi simbol kebenaran.
Istana menjadi simbol kebijaksanaan.
Pesta menjadi simbol kebahagiaan.
Akibatnya orang lupa bertanya.
Apakah yang sedang dirayakan itu benar?
Atau justru sebuah kesalahan yang dibungkus kemegahan?
Saya memandang kembali permukaan Danau Rayo.
Dan mendadak saya merasa air di hadapan saya adalah cermin yang memantulkan wajah masyarakat mana pun yang terlalu mudah terpukau oleh kemewahan.
Sementara itu Lyotard berdiri.
Ia berjalan beberapa langkah menuju tepian.
Lalu menunjuk ke arah danau yang membentang luas.
"Menurutmu mengapa seluruh negeri tenggelam?"
"Sebab kutukan Bujang Kurap?"
Lyotard tertawa kecil.
"Bukan."
"Lalu?"
"Karena mereka terlalu percaya pada cerita besar."
Ia lalu menjelaskan bahwa setiap zaman selalu memiliki narasi besar.
Cerita-cerita yang dianggap mutlak benar.
Bahwa Raja selalu bijaksana.
Bahwa penguasa selalu tahu jalan terbaik.
Bahwa rakyat hanya perlu mengikuti.
Dan di tengah keyakinan itulah Bujang Kurap datang.
Ia tidak membawa pasukan.
Tidak membawa mahkota.
Tidak membawa kekayaan.
Ia hanya membawa tujuh batang lidi.
Tujuh batang lidi yang bahkan tidak mampu dibaca oleh masyarakat sebagai tanda bahaya.
Mereka menertawakannya.
Sebagaimana manusia sering menertawakan hal-hal yang tidak mereka pahami.
Hingga akhirnya air menyembur dari bumi.
Dan seluruh narasi besar itu runtuh bersama panggung-panggung kebanggaan mereka.
Matahari mulai tenggelam.
Cahaya senja memanjang di atas permukaan danau.
Lalu saya teringat satu tokoh yang hampir terlupakan.
Nenek Bengkuang.
Saya bertanya kepada para pemikir itu.
"Mengapa hanya nenek itu yang selamat?"
Kali ini tidak ada yang menjawab.
Mereka hanya tersenyum.
Maka saya mencoba menjawab sendiri.
Mungkin karena hanya Nenek Bengkuang yang masih berani berkata bahwa yang salah adalah salah.
Tidak peduli siapa pelakunya.
Tidak peduli seberapa besar kekuasaannya.
Tidak peduli seberapa meriahnya pesta yang digelar.
Di saat seluruh kampung larut dalam keramaian, nenek tua itu memilih tinggal di rumah.
Di saat semua orang bertepuk tangan, ia memilih menjaga akal sehatnya.
Dan justru karena itulah ia diselamatkan.
Senja semakin gelap.
Satu per satu tamu aneh itu menghilang bersama kabut.
Derrida lenyap lebih dahulu.
Barthes menyusul.
Foucault berjalan ke arah hutan.
Lyotard menghilang di balik rumpun rumput kuning.
Tinggal saya sendiri.
Atau mungkin tidak benar-benar sendiri.
Sebab ketika memandang Danau Rayo untuk terakhir kalinya, saya merasa Bujang Kurap masih ada di sana.
Bukan sebagai manusia.
Bukan pula sebagai tokoh legenda.
Melainkan sebagai suara kecil yang terus mengingatkan manusia agar tidak mabuk oleh kekuasaan.
Bahwa wajah buruk tidak selalu menyimpan keburukan.
Bahwa kemiskinan tidak identik dengan kebodohan.
Bahwa kebenaran sering datang dari tempat yang tidak terduga.
Dan bahwa sejarah berulang kali membuktikan satu hal:
yang paling berbahaya bukanlah orang yang berbeda, melainkan masyarakat yang kehilangan keberanian untuk membedakan benar dan salah.
Mungkin itulah sebabnya Danau Rayo tetap ada hingga hari ini.
Bukan sekadar bentang air.
Melainkan sebuah ingatan.
Tentang kesombongan yang tenggelam.
Dan tentang seorang Bujang Kurap yang terlambat dikenali sebagai pembawa kebenaran. (Wiko Antoni)

Komentar
Tulis komentar baru