Lantunan ayat-ayat cinta itu kembali hadir dalam kemarau hatiku yang kian gersang, dua ratus ayat cinta itu menggantikan sembilan puluh delapan harapan yang hanya menjadi kenangan yang kian menyesakkan. Kini seratus dua harapan baru telah menjemputku untuk menjadi wanita yang paling sempurna setelah jubah hitam sempat menyelimutiku saat aku merasa benar-benar rapuh.
Ketika awal kita bertemu, kita tak pernah saling sapa. Namun justru engkaulah yang menyapaku terlebih dahulu. Jujur saat itu jiwaku hanyut seakan diri ini menemukan kembali cinta. Percayalah engkau adalah jiwaku yang tak mampu aku lupakan. NUNUNG WIDA GANDINI aku RINDU SENYUMMU.
Komentar Terbaru