Skip to Content

# puisi

METAMORFOSA DI JALAN RAYA

METAMORFOSA DI JALAN RAYA

 

Matahari bercinta bersama bianglala

Melahirkan butir-butir permata raja

Angin membawanya bermain kala senja

Tetralogi Puisi Duniaku, Duniamu, Dunia Kita Berdua

DUNIAKU, DUNIAMU, DUNIA KITA BERDUA (I)

 

 Peganglah tanganku

Kita akan menjelma

menjadi Laut

BATAS HIJAU

BATAS HIJAU

 

Kulihat dirimu

Hanya Darah

Hanya Darah


Hanya Darah

Yang bisa menyadarkanku

Dari Kemolekan kecilku

Dengan Kematian besarNya

 

SENDAWAKU, BUAT OKNUM KORUPTOR

SENDAWAKU, BUAT OKNUM,

KORUPTOR!

 

Sendawaku akhirnya sampai juga kepadamu

di saat aku tidak mengharapkanmu. 

Eughh, eughh oknum, koruptor!

YANG TERPAKSA

YANG TERPAKSA

 

Menemuimu karena katerpakasaan

Manusia sulit memilih untuk nasib

yang mesti dijalani

Seperti kerinduan menjadi halusinasi

KUKEMBALIKAN PUISI

KUKEMBALIKAN PUISIKU

 

Tanpa rekor 

Aku bawakan puisi ini kepadamu

Karena langit merah muka malu

Menetapkan penghormatan

Senja Entah Kapan

Senja Entah kapan

Oleh: Gungun Mulyawan Nawari

 

 

Sekarang senja benar-benar tenggelam

Sia-sia aku menggali

"Realitas bernegara mengajakku berpuasa"

Manusia kecil yang menggebu mimpi

Suatu saat menjadi orang besar yang membawa revolusi kearifan

Atau barangkali menjadi orang besar yang penuh sorak kekaguman

Fufufafa

Bermanuver di kanal Kaskus
Sindikasi materi


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler