KUMPULAN PUISI DARI BANDUNG KE SUBANG
PERJALANAN DARI BANDUNG
Dari Bandung aku melewati bayangmu
yang menyerupai bukit, lagu-lagu
gunung Tangkuban Perahu
Rumput, pohonan, dan lampu jalanan
Adalah kata-kata mutiara tangkapan
jendela kalbu
Kamu takkan tertukar menjadi debu
Karena kehijauan murni telah meluapkan
mimpi saksi bagi belantara sepinya kasihku
Seribu jerat-jerat asmara kuloncati
dengan yakin bahwa kamu nanti akan berdiri
di sisiku sebagai mempelai kebangkitan zaman
SAJAK SABUN COLEK
Telah kucuci wajahku dengan sabun colek
Komedo masa lalu seketika luruh
Bersamaan hanyutnya propaganda angan
Sebagai raja jalanan tanpa mahkota
Aku terima kesadaranku gemilang
Pakaianku adalah masa kini
Bukan esok atau nanti
Sendiri mengolah arti
Menemukan jati diri
Angin panas menyerbu jantungku
Keringkan tenggorokan dan rasa rindu
Oh air tawar yang menyejukkan
Mengalir bagai kehidupan
Peri langit nampak cantik berkarisma
Mendukungku memberi teduhan awan
Hujan belum turun
Cuaca mengerti bahasa sukma
Aku tertengadah lagi
Sembari tangan ku basuh kembali
Manusia tempat kesalahan
Egonya memutuskan persaudaraan
Ambisi menapuk kebenaran
Kuman dari dosa-dosa mesti dihilangkan
Khawatir beranak pinak
Menggerogoti kurus badanku
Menyengsarakan perjalananku
Kotoran di rambut kepalaku
Tidak menumbuhkan kutu
Karena kujaga pikiranku
Untuk positif berpacu dalam padu
Sabun colek
Kaca bening
Glowing
Semangatku beriring
SAJAK CINTA AGUNG
Hampir satu dasawarsa
Aku tidak menyapa jiwanya
Bagai melewati sepuluh ribu musim
Empat anasir darahku telah hening
Pengembaraan tanpa arah
Perpindahan sukma penebusan gelisah
Serasa masih belum cukup gairah
Kebangkitan dari awal mula zaman
Yang diwarnai percintaan
Puisi ini adalah bukti
Meski terlalu dramatis
Dan tidak begitu romantis
Tapi aku ada
Dalam eksistensinya
Segala ide, gagasan, pengetahuan
Menyatu menjadi pemikiran
Kabut pagi melarikan diri
Dari udara hari ini
Aku ingat anaximenes
Juga keberhasilan empedocles
Rumusan dasar kehidupan
Menyegarkan dunia keseimbangan
Phytagoras membuat penasaran
Seperti cintamu padaku
Selalu menjadi pertanyaan
Aku bukan bereksperimen
Menguji psikologi mistik
Cuma ya memang teka teki
Tak menemukan jawabnya
Bak filsafat tak mampu bertamu
Mengetuk gerbang keramat
Terlebih pintu mukjizat
Cintaku bukan rumus matematika
Ia tidak berasal dari bilangan
Apalagi sekedar hitungan fisika
Cintaku kepadamu harmoni dunia
Ditemukan lewat kesadaran nada
Alunan orkestra yang datang tiba-tiba
Suara purba berenergi intonasi musik
Simpel tapi pelik
Iramanya muncul dari kaitan galaksi
Garis-garis khayal zodiak bima sakti
Walaupun berupa siloka
Simbol daya keyakinan rasa
Tak bisa diuraikan dengan logika
Ia adalah kosmologi semesta raya
Menembus alam tak kasat mata
Menarik makhluk bangsa ruhaniah
Menggaungkan mantra batiniah
Ia adalah jimat purba
Di mana kujaga dan kupelihara
Berasal dari percikan merah delima
ANAK DITINGGAL IBU
Nyolotnya gembosi matahari
Kata-katanya keriputi bumi
Anak yang ditinggal ibu
Adalah dia mewarnai biru
Bukit mesti didaki
Lembah dituruni
Anak kasihlah hati
Pahit tak mampu dihadapi
Ia dipaksa berdiri
Sahut tanya urai makna
Cerdik dalam perlawanan
Bukan salahnya, kawan
Ia perlu berontak agar tidak terinjak
TEORI BUMI SEGITIGA
Inilah sajakku
Terbit dari gelombang pikiran
Serut-serut sinar mata telanjang
menyoroti lancipnya batuan
berlian, atap rumahku dan bukitan
Restu peradaban masa purba
penyelarasan zaman mendatang
Kunyatakan bumi itu segitiga
Wahai kawan seperti hiasan tanaman
Cukup pseudosains
Tapi bila gunung adalah pasak bumi
Maka patrian mengikuti yang dipatri
Cukup semu logis, tak perlu sinis
Kita sedang ber-semiosis
Mencoba hipotesis
Lain diri lain dicari
Beda suasana beda cerita
Nyala api di dalam tungku
Gairah pengamatanku
Dandang berpadu kasih
Mengukus nasi putih
Dengan caping di kepala
Sukmaku hasilkan kesimpulan
Harmoni canda dan tawa
Memang dunia
Selalu : ”tidak semata-mata!”
Cinta pun segitiga
Hahaha
Aku terpelongo, saudara
Itu semua seperti bermuda
Lautan yang menyerap nahkoda
Apakah kamu paham kata-kata
Simbolik, dan nuansa metafora?
Menyukai puisi dan sastra
Tak cukup cuma baca
Tapi bisa menangkap makna
Terpaku keindahan luarnya
tanpa menangkap tenaga internal
Mengakibatkan kamu susah akal
Kamu terjangkit efek halo
Bumi itu segitiga
Bagamaina pendapat kaka?
Cermatilah kehidupan
Kamu akan menghasilkan jawaban.
Angin sorak-sorai riang gembira
Pensil, pulpen menggores romantika
Segitiga siku-siku membuatku rindu
Aku kembali ke phytagoras
Meski sedikit berbeda
Sangat kugemari sosoknya
Konstelasi geografi
Menyangkut di balik sepi
Menumbuhkan interpretasi
Pandanganku tertuju ujung hidung
Itu membuatku bingung
Dan kembali tersandung
Tanda-tanda khazanah semiotika
Riak-riak ombak
Bercinta dengan cuaca
Menjilati pasir saat senja
Kapal berlayar di kejauhan
Terlihat haluan tujuh kedipan
Ikan hiu di kedalaman
Nampak bersirip dari geladak
Aku duduk di pinggiran
Merenungi setiap keadaan
Bumi segitiga
Bumi segitiga
Maaa….
PUISI BIMBANG
Neng kamu bagai arpegio
Dinginmu membuatku melongo
Tak sempat aku menggamitmu
Nada dasarmu bergelayut
Iramanya cepat terlalu hanyut
Ke atas ke bawah tanpa lelah
Apakah kamu suara kemerdekaan
Ataukah gerakan keadilan?
Ikon perjuangan pembebasan
Pemberdayaan potensi diri
Adalah mengolah rasa sepi
Neng sungguh kamu tidak terbaca
Seperti tulisan hieroglif piramida
Keningku berpagaran
Mataku menjadi daun pisang
Dalam kesederhanaan
Kamu menyapaku tegas nan lembut
Bagai anasir api dan air
Begitu reflek impulsif tapi mengalir
Matang terencana hikmat bijaksana
Padahal dugaanku :
Bukankah putri bulan tenang berdipan
Jika malam mesti dibacakan dongengan?
Aku bimbang denganmu
Dua hal berlawanan dalam kesatuan
AINEO
Dewi adalah peri awan
meneduhiku disaat yang rawan
Bahasa daun bidara obati luka
Penawar kemelut batin yang tersiksa
Karena racun duri kembang dunia
Dewi nyanyian gelombang pancaroba
Dia rajawali menemaniku dalam sepi
Di mana kejujuranku tumpah di situ
Pertemuan kita sungguh tidak sia-sia
Meski pahit mahoni terkunyah juga
Kamu dan aku tegar melangkah
Tanpa memuntahkan ucap sumpah
Kamu mulia dengan keyakinan
Keteguhan kokoh dalam pengorbanan
Takdir Tuhan sungguh menakjubkan
Syukurku melebihi doaku
ANTARA BANDUNG DAN SUBANG
Antara Bandung dan Subang
Ada kasih terkenang
Tangan riang kebun teh terbentang
Menemukan kehijauan dalam dekapan
Senyum gunung tangkuban
Menawarkan makna kerinduan
Hutan pinus teduhnya pohonan
Bagai kesetiaan persahabatan
Sejuknya udara di fajar pertama
Menambah mesra jingga sukma
Antara Bandung dan Subang
Hujan menjadi keberkatan
Kamu adalah rahmat Tuhan
Gairah semangat pusaka cinta
Mustika Perbawa warna keindahan
Serpihan zamrud berkilatan
Keagungan mustika kehidupan
Penyegaran murni memori terlupakan
DEWI DI GUNUNG PUTRI
Dewi berkilauan di gunung putri
Bagai permata blue sapphire
Di siram sengatan mentari
Pesona sikap bunga jaksi
Menjadi hari baru bagiku
Melihatnya melenyapkan duka
Aku mengembara ke surga
Kamu mimpi ceruk batinku
kusembunyilan di kisah cintaku
SAJAK PARALON
Aku paralon yang menghubungkan sepi
Dari satu suasana bercengkrama
Bersama misteri kehidupan berduri
Betapa metaforanya gaya hidupku
Lembah berair biru kuterjuni
Tenang tak ada gairah ambisi
Gunung ku daki kutemukan mimpi
Sebagai paralon aku diam
Berusaha tegar meski hutan itu sangar
Kadang aku bergetar mencoba bersandar
Tapi tak kutemukan teman berbincang
Hanya tekanan, bunyi, dan curahan
Aku sedih sendiri
Kaku sampai lumut tumbuh di tubuh
Hatiku mudah luruh
Padahal cacian sering kudapatkan
Dari itu karakter, gagasanku dibentuk
Aku paralon kebenaran yang diarahkan
Sesuai keinginan
Adakala retak semangatku
Ketika semua itu dipaksakan
Sementara aku tak mampu

Komentar
Tulis komentar baru