Skip to Content

10 PUISI DARI BANDUNG KE SUBANG, AGUNG GEMA NUGRAHA

Foto Agung Gema Nugraha
files/user/14117/1775635179101.jpg
1775635179101.jpg

KUMPULAN PUISI DARI BANDUNG KE SUBANG


PERJALANAN DARI BANDUNG

 

 

Dari Bandung aku melewati bayangmu

yang menyerupai bukit, lagu-lagu

gunung Tangkuban Perahu

Rumput, pohonan, dan lampu jalanan

Adalah kata-kata mutiara tangkapan

jendela kalbu

 

Kamu takkan tertukar menjadi debu

Karena kehijauan murni telah meluapkan

mimpi saksi bagi belantara sepinya kasihku

Seribu jerat-jerat asmara kuloncati

dengan yakin bahwa kamu nanti akan berdiri

di sisiku sebagai mempelai kebangkitan zaman

 



SAJAK SABUN COLEK

 

Telah kucuci wajahku dengan sabun colek

Komedo masa lalu seketika luruh

Bersamaan hanyutnya propaganda angan

Sebagai raja jalanan tanpa mahkota

Aku terima kesadaranku gemilang

Pakaianku adalah masa kini

Bukan esok atau nanti

Sendiri mengolah arti

Menemukan jati diri

 

Angin panas menyerbu jantungku

Keringkan tenggorokan dan rasa rindu

Oh air tawar yang menyejukkan

Mengalir bagai kehidupan

 

Peri langit nampak cantik berkarisma

Mendukungku memberi teduhan awan

Hujan belum turun

Cuaca mengerti bahasa sukma

Aku tertengadah lagi

Sembari tangan ku basuh kembali

Manusia tempat kesalahan

Egonya memutuskan persaudaraan

Ambisi menapuk kebenaran

 

Kuman dari dosa-dosa mesti dihilangkan

Khawatir beranak pinak

Menggerogoti kurus badanku

Menyengsarakan perjalananku

 

Kotoran di rambut kepalaku

Tidak menumbuhkan kutu

Karena kujaga pikiranku

Untuk positif berpacu dalam padu

 

Sabun colek

Kaca bening

Glowing

Semangatku beriring




SAJAK CINTA AGUNG

 

Hampir satu dasawarsa

Aku tidak menyapa jiwanya

Bagai melewati sepuluh ribu musim

Empat anasir darahku telah hening

 

Pengembaraan tanpa arah

Perpindahan sukma penebusan gelisah

Serasa masih belum cukup gairah

Kebangkitan dari awal mula zaman

Yang diwarnai percintaan

 

Puisi ini adalah bukti

Meski terlalu dramatis

Dan tidak begitu romantis

Tapi aku ada

Dalam eksistensinya 

Segala ide, gagasan, pengetahuan

Menyatu menjadi pemikiran

 

Kabut pagi melarikan diri

Dari udara hari ini

Aku ingat anaximenes

Juga keberhasilan empedocles

Rumusan dasar kehidupan

Menyegarkan dunia keseimbangan

Phytagoras membuat penasaran

Seperti cintamu padaku

Selalu menjadi pertanyaan

 

Aku bukan bereksperimen

Menguji psikologi mistik

Cuma ya memang teka teki

Tak menemukan jawabnya

Bak filsafat tak mampu bertamu

Mengetuk gerbang keramat

Terlebih pintu mukjizat

 

Cintaku bukan rumus matematika

Ia tidak berasal dari bilangan

Apalagi sekedar hitungan fisika

Cintaku kepadamu harmoni dunia

Ditemukan lewat kesadaran nada

Alunan orkestra yang datang tiba-tiba

Suara purba berenergi intonasi musik

Simpel tapi pelik

Iramanya muncul dari kaitan galaksi

Garis-garis khayal zodiak bima sakti

Walaupun berupa siloka

Simbol daya keyakinan rasa

Tak bisa diuraikan dengan logika

 

Ia adalah kosmologi semesta raya

Menembus alam tak kasat mata

Menarik makhluk bangsa ruhaniah

Menggaungkan mantra batiniah

Ia adalah jimat purba

Di mana kujaga dan kupelihara

Berasal dari percikan merah delima





ANAK DITINGGAL IBU

 

Nyolotnya gembosi matahari

Kata-katanya keriputi bumi

 

Anak yang ditinggal ibu

Adalah dia mewarnai biru

 

Bukit mesti didaki

Lembah dituruni

Anak kasihlah hati

Pahit tak mampu dihadapi

 

Ia dipaksa berdiri

Sahut tanya urai makna

Cerdik dalam perlawanan

Bukan salahnya, kawan

Ia perlu berontak agar tidak terinjak





TEORI BUMI SEGITIGA

 

Inilah sajakku

Terbit dari gelombang pikiran 

Serut-serut sinar mata telanjang

menyoroti lancipnya batuan 

berlian, atap rumahku dan bukitan 

Restu peradaban masa purba 

penyelarasan zaman mendatang

Kunyatakan bumi itu segitiga

Wahai kawan seperti hiasan tanaman

 

Cukup pseudosains

Tapi bila gunung adalah pasak bumi

Maka patrian mengikuti yang dipatri

Cukup semu logis, tak perlu sinis

Kita sedang ber-semiosis

Mencoba hipotesis

Lain diri lain dicari

Beda suasana beda cerita

 

Nyala api di dalam tungku

Gairah pengamatanku

Dandang berpadu kasih

Mengukus nasi putih

Dengan caping di kepala

Sukmaku hasilkan kesimpulan

Harmoni canda dan tawa

Memang dunia

Selalu : ”tidak semata-mata!”

Cinta pun segitiga

Hahaha 

Aku terpelongo, saudara

Itu semua seperti bermuda

Lautan yang menyerap nahkoda

 

Apakah kamu paham kata-kata

Simbolik, dan nuansa metafora?

Menyukai puisi dan sastra

Tak cukup cuma baca

Tapi bisa menangkap makna

Terpaku keindahan luarnya

tanpa menangkap tenaga internal

Mengakibatkan kamu susah akal

Kamu terjangkit efek halo

 

Bumi itu segitiga

Bagamaina pendapat kaka?

Cermatilah kehidupan

Kamu akan menghasilkan jawaban.

 

Angin sorak-sorai riang gembira

Pensil, pulpen menggores romantika

Segitiga siku-siku membuatku rindu

Aku kembali ke phytagoras

Meski sedikit berbeda

Sangat kugemari sosoknya

 

Konstelasi geografi

Menyangkut di balik sepi

Menumbuhkan interpretasi 

Pandanganku tertuju ujung hidung

Itu membuatku bingung

Dan kembali tersandung 

Tanda-tanda khazanah semiotika

 

Riak-riak ombak

Bercinta dengan cuaca

Menjilati pasir saat senja

Kapal berlayar di kejauhan

Terlihat haluan tujuh kedipan

Ikan hiu di kedalaman

Nampak bersirip dari geladak

Aku duduk di pinggiran

Merenungi setiap keadaan

 

Bumi segitiga

Bumi segitiga

Maaa….




PUISI BIMBANG

 

Neng kamu bagai arpegio

Dinginmu membuatku melongo

Tak sempat aku menggamitmu

Nada dasarmu bergelayut

Iramanya cepat terlalu hanyut

Ke atas ke bawah tanpa lelah

 

Apakah kamu suara kemerdekaan

Ataukah gerakan keadilan?

Ikon perjuangan pembebasan

Pemberdayaan potensi diri

Adalah mengolah rasa sepi

 

Neng sungguh kamu tidak terbaca

Seperti tulisan hieroglif piramida

Keningku berpagaran

Mataku menjadi daun pisang

 

Dalam kesederhanaan

Kamu menyapaku tegas nan lembut

Bagai anasir api dan air

Begitu reflek impulsif tapi mengalir

Matang terencana hikmat bijaksana

 

Padahal dugaanku :

Bukankah putri bulan tenang berdipan

Jika malam mesti dibacakan dongengan?

 

Aku bimbang denganmu

Dua hal berlawanan dalam kesatuan




AINEO 

 

Dewi adalah peri awan

    meneduhiku disaat yang rawan

Bahasa daun bidara obati luka

Penawar kemelut batin yang tersiksa

Karena racun duri kembang dunia

 

Dewi nyanyian gelombang pancaroba

Dia rajawali menemaniku dalam sepi

Di mana kejujuranku tumpah di situ 

 

Pertemuan kita sungguh tidak sia-sia

Meski pahit mahoni terkunyah juga

Kamu dan aku tegar melangkah

Tanpa memuntahkan ucap sumpah

Kamu mulia dengan keyakinan

Keteguhan kokoh dalam pengorbanan 

Takdir Tuhan sungguh menakjubkan

Syukurku melebihi doaku




ANTARA BANDUNG DAN SUBANG

 

Antara Bandung dan Subang

Ada kasih terkenang

Tangan riang kebun teh terbentang

Menemukan kehijauan dalam dekapan

 

Senyum gunung tangkuban

Menawarkan makna kerinduan

Hutan pinus teduhnya pohonan

Bagai kesetiaan persahabatan

Sejuknya udara di fajar pertama

Menambah mesra jingga sukma

 

Antara Bandung dan Subang

Hujan menjadi keberkatan

Kamu adalah rahmat Tuhan

Gairah semangat pusaka cinta

Mustika Perbawa warna keindahan

Serpihan zamrud berkilatan

Keagungan mustika kehidupan

Penyegaran murni memori terlupakan




DEWI DI GUNUNG PUTRI

 

Dewi berkilauan di gunung putri

Bagai permata blue sapphire 

Di siram sengatan mentari

 

Pesona sikap bunga jaksi

Menjadi hari baru bagiku

Melihatnya melenyapkan duka

Aku mengembara ke surga

 

Kamu mimpi ceruk batinku

kusembunyilan di kisah cintaku




SAJAK PARALON

 

Aku paralon yang menghubungkan sepi

Dari satu suasana bercengkrama

Bersama misteri kehidupan berduri

 

Betapa metaforanya gaya hidupku

Lembah berair biru kuterjuni

Tenang tak ada gairah ambisi

Gunung ku daki kutemukan mimpi

 

Sebagai paralon aku diam

Berusaha tegar meski hutan itu sangar

Kadang aku bergetar mencoba bersandar

Tapi tak kutemukan teman berbincang

Hanya tekanan, bunyi, dan curahan

Aku sedih sendiri

Kaku sampai lumut tumbuh di tubuh

Hatiku mudah luruh

Padahal cacian sering kudapatkan 

Dari itu karakter, gagasanku dibentuk

 

Aku paralon kebenaran yang diarahkan

Sesuai keinginan 

Adakala retak semangatku

Ketika semua itu dipaksakan

Sementara aku tak mampu

 

 


Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler