Skip to Content

puisi renungan

maka didik dirimu sendiri

jika engkau telah mampu jujur seperti nuranimu sendiri

engkau akan malu berfatwa apa yang tak engkau lalukan

engkau akan malu mengajarkan kebersihan

kita hanya terus berjalan

kita benar-benar tidak tahu 

kenapa kita tiba-tiba ada di sini

padahal kita tidak pernah merencanakan

kita hanya terus berjalan

diam bersuara lantang

ruang ini diam

buku-buku ini membisu

karya-karyakupun diam membisu

begitupun karya-karya ribuan cendekia

semuanya hanya diam membisu

coba kembali kita tata

jika ruang yang kita bangun telah begitu menyesakkan

coba kembali kita tata dengan tatanan baru

siapa tahu apa yang kita anggap menyesakkan itu

hanyalah sebuah kejenuhan

Bilur Meliuk

Bilur Meliuk.

Remang hantar malam
Iringi liuk asap dupa
Bentur bayang batas terus ke atas.

Apa yang melintas benak,
Ketika harap terhempas nyata.
Siluet diri diujung gelap.

mengejar fatamorgana

ketika hati telah bertekad  berjuang di jalan kebenaran 

dan tekad telah diyakinkan dengan kata-kata

tetap ada tantangan untuk menguji kesungguhanmu

semua harus dibingkai doa

ada yang tetap tak bisa diurai dengan kata

sampai batas kata yang bijaksana

ada yang tetap tak bisa diurai dengan kerling mata

sampai batas kerling mata bijaksana

untaian sunyi

kubuka kembali untaian sunyi

di bawah semilir angin di ujung malam

bersama temaram kerlip ribuan bintang

untaian sunyi

harus kutemukan lagi

yang berjanji dan penagih janji

baru saja terdengar para menebar janji

berkoar dan menyelinap di sudut-sudut negeri

banyak orang bilang mereka adalah para politisi

karena meraka berdiam di ruang partai

imajinasi

imajinasi

seringkali hadir dan seringkali menghilang

ketika hadir, saat itu pula harus disambut

sebab bila dibiarkan akan segera pamitan

Sindikasi materi


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler