Skip to Content

Nguri-uri Budaya lewat Menulis Aksara Jawa Terpanjang

Foto Hikmat

Tak kurang dari 500 peserta meramaikan pemecahan rekor Muri menulis aksara Jawa terpanjang yang digelar di Solo Paragon Mall, kemarin. Dalam kegiatan yang digelar mulai pukul 10.00 hingga 16.00 tersebut berhasil menyelesaikan tulisan sepanjang 500 meter.

Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Prof Dr Riyadi Santoso mengemukakan, dalam kegiatan yang diprakarsai oleh Program Studi (Prodi) Sastra Daerah dan Panitia Bersama Solo Imlek 2568 (2017M) tersebut diharapkan mampu menggugah kembali kesadaran masyarakat bahwa Indonesia masih memiliki warisan adiluhung berupa aksara Jawa. ”Tidak semua bangsa punya aksara. Karena itu, melalui pemecahan rekor aksara Jawa ini, masyarakat bisa ikut nguri-uri sekaligus berbangga karena kita punya aksara Jawa,” kata Ketua Program Studi (Kaprodi) Sastra Daerah FIB UNS Dr Supono Mhum kepada wartawan, kemarin.

Dengan adanya pemecahan rekor Muri menulis aksara Jawa terpanjang ini, menurut Supono, diharapkan masyarakat dapat lebih mengenal, melestarikan dan mengembangkan aksara Jawa khususnya dan budaya Jawa pada umumnya. Supono mengakui, penguasaan terhadap aksara Jawa belakangan ini mulai minim. Selain itu, kalaupun mengetahui aksara Jawa namun banyak yang tidak mengindentifikasi secara baik sehingga banyak penulisan aksara Jawa yang kurang tepat.

Gugah Masyarakat

Kegiatan tersebut diikuti lebih dari 500 peserta berbagai usia dari kota dan kabupaten seperti Malang, Banyumas, Kulonprogo, Yogjakarta, Samarinda, Madiun, Surabaya serta sejumlah Kota di Indonesia. Penulisan aksara Jawa diakui berpedoman pada kata-kata yang dibagikan panitia, berupa kata-kata mutiara berbahasa Jawa serta falsafah Jawa †agar peserta tidak menulis katakata kotor ataupun berbau politis.

Hal sama disampaikan Dekan FIB UNS Solo Prof Dr Riyadi Santoso, kegiatan yang membanggakan, diharapkan mampu menggugah masyarakat bahwa Indonesia masih memiliki warisan leluhur yang adiluhung berupa aksara jawa, yang disinyalir sudah banyak dilupakan. ”Aksara Jawa mungkin sudah banyak dilupakan orang, harapannya , dengan tergugahnya mereka teringat kalo mempunyai budaya adiluhung aksara jawa, ada rasa memiliki kembali sehingga nanti ikut belajar kembali ,” harapnya.

Kegiatan pertama ini, lanjut Riyadi, ke depan akan ditindaklanjuti melalui kegiatan yang juga tetap bermuatan budaya Jawa. Ketua Panitia Bersama Solo Imlek 2568 (2017M), Sumartono Hadinoto mengemukakan, pemecahan rekor aksara Jawa merupakan rangkaian dari acara Solo Imlek 2568, salah satunya bertujuan untuk membranding kota Solo yang ramah dengan kebersamaan, kemajemukan, kebhinekaan bahkan toleransi. Ia juga berharap kegiatan tersebut bisa menambah destinasi wisata Kota Solo.


Sumber: suaramerdeka.com, Selasa, 7 Februari 2017 1:27 WIB

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler