INTERMEZO PENANTIAN MEGA
Neng sebenarnya aku canggung
saat bertemu hatimu yang murung
Meski kamu coba poles dengan senyuman
Masalahnya adalah kita tak bisa adil
dan fleksibel saat tiba suatu persoalan
Kita belum sanggup tenggelam
secara makna kontekstual pemikiran
untuk mencari jalan keluar
Sehingga terjebak lantunan irama
amarah dan dendam
Kita tidak bijaksana memahami diri
menjadikan penyakit dengki
Tidak sembuh malah-malah
sakit batin melahirkan penyakit lahir
Yang tak nampak berdampak
pada yang nampak
Begitulah neng
Aku selalu tenggelam
mengejar simbol-simbol
arti kelam di balik terang
Dan sebaliknya
Sehingga agak buram puisiku
begitu kusuguhkan padamu
Tapi puisi itu bisa didapat takwilnya
bila kita melepas arti tekstualnya
literlik dari bahasa kamu lirik
Rapikan satu persatu
Sehingga kamu buntu
Maka di situlah sinar intuitif
akan berkedip
di dalam dada
Mengalir
Mencarilah kata-kata
kenikmatan dan keindahannya
Tuntutan sastrawan itu
berupa perasaan, moral dan etika
Berbeda dengan kaum filsuf
Juga tabib, atau tukang obat,
penulis biasa
yang mengandalkan pena
dan pembicaraan
Sastrawan memang tidak setangguh sufi
Tapi ia berada dalam levelnya sendiri
Dunia yang mesti ia hadapi
Bukan juga sastrawan itu dukun
tukang tenung atau peramal
Meski adakala ucapannya selaras
dengan suatu zaman
Dan tidak juga seorang ahli jiwa
Walaupun terkadang mengena
mampu menggugah kebangkitan
semangat hal motivasi atau antisipasi
Saya kira begitu
Sastrawan memiliki jalurnya sendiri
Sejak saat ia pertama berdiri
Maaf jika saya panjang bercerita
Sambil menanti mega
Tidak salah berbagi cinta
pendapat, agar lebih erat bersahabat
Agung Gema N
9 Feb 2026
Komentar
Tulis komentar baru