Skip to Content

KAMI BERTETANGGA DENGAN DUNIA

Foto Awwabin Helmi

KAMI BERTETANGGA DENGAN DUNIA

 

Di kampung kami,

tetangga paling baik adalah radio tua

ia tak pernah menembak

hanya memutar lagu cinta dan kabar perang

 

Kami mendengar dunia dari dapur

dari periuk yang mendidih

karena berita jauh membakar dekat

di sana bom meledak,

di sini air mata kami mendidih diam-diam

 

Kami ingin bersaudara,

tapi paspor kami hanya berlaku di mimpi saja

kami mengetuk pintu negeri orang

dengan puisi-puisi usang

bercatkan darah para pahlawan

semoga ada satu yang dibaca

dengan hati, bukan dengan senjata

 

Kami tak paham bahasa perdamaian dunia,

tapi kami hafal suara pelukan

bau dapur yang terbuka untuk siapa saja

dan tangan yang tidak memilih warna kulit

saat membagi sisa nasi semalam

 

Kalau kau datang ke rumah kami

jangan heran melihat langit kami berlubang

itu tempat doa-doa kami keluar

dan belum sempat pulang.

 

Patani, 20 Maret 2025


Puisi ini dimuatkan dalam Buku Antologi Puisi Layang-Layang Tak Memilih Tangan. dalam Pertemuan Penyair Nusantara PPN XIII 2025, 11-14 September 2025 di Jakarta, Indonesia

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler