KAMI BERTETANGGA DENGAN DUNIA
Di kampung kami,
tetangga paling baik adalah radio tua
ia tak pernah menembak
hanya memutar lagu cinta dan kabar perang
Kami mendengar dunia dari dapur
dari periuk yang mendidih
karena berita jauh membakar dekat
di sana bom meledak,
di sini air mata kami mendidih diam-diam
Kami ingin bersaudara,
tapi paspor kami hanya berlaku di mimpi saja
kami mengetuk pintu negeri orang
dengan puisi-puisi usang
bercatkan darah para pahlawan
semoga ada satu yang dibaca
dengan hati, bukan dengan senjata
Kami tak paham bahasa perdamaian dunia,
tapi kami hafal suara pelukan
bau dapur yang terbuka untuk siapa saja
dan tangan yang tidak memilih warna kulit
saat membagi sisa nasi semalam
Kalau kau datang ke rumah kami
jangan heran melihat langit kami berlubang
itu tempat doa-doa kami keluar
dan belum sempat pulang.
Patani, 20 Maret 2025
Komentar
Tulis komentar baru