BAGAI PISAU
Aku sudah dirundung khayal
Bagai pisau
Membelah kebenaran
Lalu dimanipulasi kesalahan
Kebijaksanaan tidak datang tiba-tiba
Ia dilatih diuji dengan berbagai persoalan
Bunga di depan rumahku tumbuh
Berawal dari benih akar batang daun
Kadang ulat merayap menggerogoti
Inilah hakikat hidup
Dari ruang ke ruang, waktu ke waktu
Jembatan harapan kasur pengistirahatan
Kecepatan tidak memberi jaminan
Keikhlasan akan menambah kekayaan
Aku tidak bicara tentang dunia
Tetapi segala derita dan bahagia
Kita juga yang memilihnya
SETELAH KU TULIS PUISI
Setelah ku tulis puisiku
Kuhendaki berpikir untuk yang lain
Tak ingin kembali
Karena itu adalah masa purba
Waktu telah meninggalkan kita
Tapi ia muncul juga
Dalam wajah baru
Kata haru ada terlintas
Di batang pikiran congkak
Aku mengelak menemui kenyataan
Adalah karena semua pasti ditinggalkan
Udara di malam kelam
Menaiki pundakku
Bagai sepuluh karung beras
Punggung tak mampu menahan beban
Dari ucapan, kata, makna, peristiwa
Kita tidak sedang bercanda
Tapi meratapi luka tidak perlu juga
Karena sia-sia bila sudah terjadi
Kita hanya berusaha mengobati
Menghilangkan bekasnya di hati
SIKAT GIGIMU!
Sikat gigimu supaya kita lebih akrab
Bagai burung dan sayapnya
Macan dengan taringnya
Gajah bersama belalainya
Semarak duka cita menyala
Sebab hasrat rindu menggerutu
Tanaman tumbuh dan layu
Agar muncul kepeduliaan
Manusia menumpuk rongsokan angan
Lalu dijual dengan harga lelah
Sampah-sampah khayalan
Membawanya dalam susah
Balikkan asbak itu biar kamu paham
Jatuhkan cawan itu agar kamu mengerti
Agung Gema Nugraha
Desember 2025
Komentar
Tulis komentar baru