Skip to Content

BAGAI PISAU-SETELAH KUTULIS PUISI-SIKAT GIGIMU

Foto Agung Gema Nugraha

BAGAI PISAU

 

Aku sudah dirundung khayal

Bagai pisau

Membelah kebenaran

Lalu dimanipulasi kesalahan 

 

Kebijaksanaan tidak datang tiba-tiba

Ia dilatih diuji dengan berbagai persoalan

Bunga di depan rumahku tumbuh

Berawal dari benih akar batang daun

Kadang ulat merayap menggerogoti

Inilah hakikat hidup

Dari ruang ke ruang, waktu ke waktu

Jembatan harapan kasur pengistirahatan

Kecepatan tidak memberi jaminan

Keikhlasan akan menambah kekayaan

Aku tidak bicara tentang dunia

Tetapi segala derita dan bahagia

Kita juga yang memilihnya




SETELAH KU TULIS PUISI

 

Setelah ku tulis puisiku

Kuhendaki berpikir untuk yang lain

Tak ingin kembali

Karena itu adalah masa purba

Waktu telah meninggalkan kita

Tapi ia muncul juga

Dalam wajah baru

Kata haru ada terlintas 

Di batang pikiran congkak

Aku mengelak menemui kenyataan

Adalah karena semua pasti ditinggalkan

 

Udara di malam kelam

Menaiki pundakku 

Bagai sepuluh karung beras

Punggung tak mampu menahan beban

Dari ucapan, kata, makna, peristiwa

 

Kita tidak sedang bercanda

Tapi meratapi luka tidak perlu juga

Karena sia-sia bila sudah terjadi

Kita hanya berusaha mengobati

Menghilangkan bekasnya di hati




SIKAT GIGIMU!

 

Sikat gigimu supaya kita lebih akrab

Bagai burung dan sayapnya

Macan dengan taringnya

Gajah bersama belalainya

Semarak duka cita menyala

Sebab hasrat rindu menggerutu

Tanaman tumbuh dan layu

Agar muncul kepeduliaan

 

Manusia menumpuk rongsokan angan

Lalu dijual dengan harga lelah

Sampah-sampah khayalan

Membawanya dalam susah

 

Balikkan asbak itu biar kamu paham

Jatuhkan cawan itu agar kamu mengerti

 

 

 

 

Agung Gema Nugraha

Desember 2025

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler