Kau sebut apa tuan?
Perempuan yang hidup diantara bayang"
Kau sebut apa tuan?
Perempuan yang sibuk menaruh harap meski tau dunia akan meludahinya
Kau sebut apa tuan?
Perempuan yang akhirnya menerima sisi yang paling ia benci
AKU MUAK
Semua orang berteriak
"perempuan yang berhak dicintai hanyalah mereka yang bertutur baik dan berparas cantik"
Apalah dayaku tuan, diriku hanya si buruk rupa, yang bertutur busuk
Bekerja, dari matahari menyapa hingga dia melambai pada surai surai nan jelita
AKU IRI!
Aku iri pada perempuan yang tidak perlu memakai bedak 3 inci hari harinya
Bibir mereka.. merah muda alami yang menyejukkan mata
Sedangkan
*nangis
1 2 3 jam aku habiskan di depan meja rias
Bertanya pada cermin tua
siapakah wanita paling cantik di dunia
Namun tak pernah aku mendapat jawaban
Bahkan gincu merah dari india tetap menjadikanku si buruk rupa
AKU IRI
Lalu
Tidak cukup mereka membuatku iri
MEREKA MENCACI SYAIRKU
"Lihatlah si buruk rupa, suaranya parau"
"Seperti keledai"
"Sepertia pria tua hahaha'
Ingin rasanya, ku cabut belati paling tajam dari sarungnya
ku ayunkan
hingga menyapa pita suara mereka
Di saat semua hal membunuhku
Di saat semua mata, haram rasanya melihat diriku yang buruk ini
Kemudian, untuk pertama kalinya dalam hidupku
Aku melihat seseorang
seperti aku
Kulitnya kotor, matanya berdebu, bajunya lusuh
Seperti datang dari negeri nan jauh
*menggila
Tapi beberapa hal berbeda
Tangannya yang kasar, penuh warna
Lalu dengan senyum yang canggung, tangannya menari
Menoreh warna demi warna di kanvas putihnya
Tanpa penghinaan akan suaranya yang parau
Tanpa cacian akan hidungnya yang bengkok
Semua orang menyukainya
IA DITERIMA
*Arghhh
Haruskah aku marah? Haruskah aku bersedih?
Apaaa yang harus aku lakukan
Padahal kalau sekedar menoreh tinta
Aku juga bisa
Tapi kenapa
Kenapa ketika aku meletakkannya di wajahku
Aku dicaci maki!
Malam di hari jadi ku
Aku berhenti
Berhenti memakai bedak 3 inci dan gincu paling merah yang aku punya
Aku patahkan, aku hancurkan
Lalu ku coret habis pada cermin yang tak pernah menjawab pertanyaanku
"Siapa yang paling cantik di dunia?"
*tertawa
Ku rasa memang tidak ada jawabannya
Lalu ku tatap erat tubuhku di pantulannya
Ringkih, lusuh, pucat, dan bintik hitam di hidungku
Kemudian
Untuk pertama kalinya
Ku beranikan diriku keluar
Menyapa metahari dengan kulitku
Tidak lagi mengais pengakuan palsu
Tidak lagi meminta kasih sayang yang semu
Aku, berjalan sebagai aku
Untuk pertama kalinya
Aku merasa hidup
Jadi
Kau sebut apa tuan?
Perempuan yang seperti itu?
Aku menyebutnya layu nan tumbuh
Komentar
Tulis komentar baru