Skip to Content

16 PUISI, "FILSAFAT SASTRA" KUMPULAN PUISI AGUNG GEMA NUGRAHA

Foto Agung Gema Nugraha
files/user/14117/IMG_17778916559213212.jpg
IMG_17778916559213212.jpg

KUMPULAN 16 PUISI "FILSAFAT SASTRA"

 



1.

GELANDANGAN TUJUH RIBU KILO

 

Menukar kasih dengan derita

Aku mengembara membuka

portal-portal hina dan cela

yang dulu tertutup

kini menuntut

 

Tujuh ribu kilometer perjalanan 

lagi mesti kulalui

Hujan badai gempa bumi

Melewati ujian yang tak pasti

Pengkhianatan keterasingan

Ragu bertabur bimbang

Tanpa atap ratapan

Maupun kawan curahan angan

Karena keluhan hambatan pencerahan

 

Putaran waktu kehampaan rindu

Penyatuan fana memeluk fatamorgana





2.

PENGAMEN SERIBU KEHIDUPAN

 

Terik mentari membakar sepi

Geliat hari-hari sinis tak bertepi

Rabunnya awan menutup harapan

Segala jalan torehkan dukacita

Kembali juga pada masa lama

 

Oh cinta yang pernah singgah

dipan berbunga indahnya asmara

Oh biru yang dulu berlabuh

memanjakan senyum tawa

Oh pendidikan yang kutempuh

Di saku celanaku kalian kutaruh

 

Oh kemeja sepatu kantoran

yang kupakai merangkai kehijauan

Oh perdukunan dan relawan

yang kugeluti dengan ketulusan

Tak menginginkan pribadi sial

berpandangan cerdas akal

dalam kebersamaan

 

Oh kehormatan keilmuwan

yang menempel pada keagungan

Sungguh pelepasan 

adalah kesempurnaan menawan

Oh kehangatan keluarga di meja makan

Pembicaraan kawan di ruangan

Tak ada tautan link bagi kutukan

 

Aku mengamen lagi

 

Meski legam muka retak kaki

Bimbang niat dan tekad sejati

Tak menghambat kenyataan diri

Bahwa aliran takdir telah pasti

Aku pengamen seribu kehidupan

 

Selamat tinggal malaikat

pemberi pencerahan 




3.

PERSIMPANGAN

 

Meladeni warna-warni hasrat ambisi

Di terik mentari zaman perubahan

Aku berkaca pada realita

Dan pahitnya pengalaman lama :

“Angin meninggalkan ruang

kehampaan lepas pengabaran

Tinggal batin dalam retakan”

 

Segala senyum, tawa dan rayuan

pudar sesingkat kata 

Kita hanya persimpangan 

bayang-bayang tanpa tujuan




4.

TEORI TAK KONTEKSTUAL

 

Mematri pagi penantian jawaban

Belum muncul mulut kepastian

Kejujuran dipertanyakan

Gairah hari lesu kerinduan

 

Jaminan persahabatan 

Percintaan tergadaikan

sejuta kepiluan

Penerapan teori kehidupan

tak teruji pengorbanan

Bacaan membelakangi kenyataan

Garisan nasib kuat tergenggam





5.

SETETES KASIH SAYANG

 

Setetes kasih sayang 

untuk kebersamaan

Aku tak sanggup memberikan lebih 

madu yang ada di sarang hatiku

Kamu terima atau tidak

Setiap diri akan bertindak

dengan cara berpikirnya 

menjadi racun berbalik

lalu mengganyang harapan



6.

MUSTIKA KUTUKAN

 

Memantik pertikaian cinta

bara api tak padam luka

Menyala arang dendam

Menunggu kelam

Nyala mata aura hitam 

Bakaran jiwa 

Kutukan 

Malam beringsut

Langkah tebal berkabut

Pengkhianatan kepercayaan

Menjadi neraka kehidupan





7.

ANGIN TENANG

 

Angin tenang terbaring

di dipan lembah bumi hening

Sekedar istirah

yang tidak lama

akan kembali mengobrak-ngabrik

pemukiman kota dan desa

 

Aku bukan berdoa 

Tapi membaca tanda

Entah firasat, astrologi atau semiologi

Agaknya sedikit menempel di hati

suara bisikan irama sunyi

Maka kubuat puisi ini

Sebagai antisipasi





8.

DIMENSI 13

 

Terpuruk mengangguk

Tunduk tak berbentuk

Bersimpuh patuh




9.

MEJA RENUNGAN

 

Menarik hatimu ke meja renunganku

bagaikan mencemburui bukit gersang

pada telaga rindu

Sejak mengenalmu pertama kali

Kamu bagaikan filsuf cerdik

yang memiliki ilmu mantik

 

Perdebatan dan prasangka

mengambil keputusan dua variabel

berbeda membakar bunga narsisku

 

Aku menunggu

Untuk bertarung lagi 

dalam gairah psikologi

Asmara tanpa monopoli kekuasaan

Kerinduan tanpa mengesampingkan

keadilan waktu 




10.

FILSAFAT SASTRA

 

Memadukan bahasa menundukkan mega

Kita berfilsafat mengarit rumput

di beranda rumah sederhana

Sastra

Intisari dari memanusiakan manusia

yang memiliki budaya

Hewan dan siluman terkesima 

Perbedaan mendasar lebar terbuka

Pemikiran dan rasa termanifestasi

bagai spiral DNA 

Meski dua turunan tak bisa disatukan

dalam wadah sinar akal

Ia akan didapat pada pesona jingga

langit kata-kata





11.

MENGEJAR DIRIMU

 

Menembus mega-mega perkasa

Di antara jutaan kuman-kuman cinta

Langkahku berlanjut 

tanpa sedikit pun menciut

Aku mengejar dirimu

yang hilang di balik kabut

 

Kehendak kuat bagaikan berlian

berkilauan di antara hantu malam

Leherku memanjang ke balik bulan

Mataku mengembara menuju bintang

 

Kamu harus kudapatkan






12.

TUNGKU BERAPI

 

Berjam-jam kita berjuang

menahan segala gerah dukacita

Serasa hari ingin cepat bertemu senja

Keluarga adalah surga

bagi lelahnya perjalanan

Kedamaian

Ketenangan 

Tergeletak di kursi harapan

 

Tapi kenyataannya

Kita mengambil tanggungan 

ikatan kuat

untuk berada dalam pertarungan

Memaksa menantang raksasa nasib

menerobos arena terlarang

yang tak bisa diperhitungkan

 

Kita tak bisa lolos

dari cakar-cakar kehendak liar 

yang memang kita pelihara 

demi suatu ambisi 

di bawah tungku bakaran api




13.

SINDROM PENCARIAN 

 

Seiring terbit mentari

tujuh tumbak dari bumi

Ambisi menggerogoti hari

dan wajah kita berpagar sepi

Dalam kejujurannya

 

Sindrom pencarian berulang

mengiringi langkah kosong

Bersama kejenuhan

jeruji aktivitas diri

yang mesti kita buka 

 

Pembebasan perlu diberdayakan

Tak bisa kita diam tertekan

mengekor kemerosotan spiritual

Kualitas manusia harus tetap terjaga

Penerimaan cinta upayakan terpelihara

Biar jeratan belenggu meleleh

dibakar semangat kehidupan

yang nyata





14.

PENYAIR GERILYA

 

Tengkurap di padang pasir

yang terik tanpa pohonan

dan air kehidupan

 

Penyair dalam era perubahan

bagaikan gerilya berperang 

menghadapi tuntutan kehidupan

 

Fatamorgana

Idealismenya luntur 

karena kebutuhan ekonomi pailit 

mengisi rongga ruh di badan

 

Tak ada angin segar 

bagi gemuruh nafas menderu

pejuang kerasnya rindu

Kepedulian akan terbuang

Dramatisasi sosial 

adalah mahkota eksistensi

Konsistensi adalah hoaks

bayang mimesis

sebuah pernyataan sikap

Kreativitas sekedar penguatan 

pemikat palsu bibir bergincu 

pengecap dinding buta

 

Kita akan sengsara terlunta-lunta

tanpa latar belakang 

bawaan lahir kuat menentukan 

kemajuan masa mendatang

Uang banyak tumpuan kesuksesan

Dekat dengan penerbitan 

pengusung piagam penghargaan

 

Orisinalitas tak diperlukan

Meski bangsa siluman mencipta

satu dua buah karya lalu menghilang,

penghormatan bisa mungkin terbilang

Menakjubkan

 

Darah merah tetap perlu berjuang

untuk merekah mengalir 

meski cuma menggenggam kosong

udara hampa dalam ranah sastra

Menanam seribu pohon 

dalam satu malam

akan sia-sia 

di hadapan mata zaman hari ini

Begitu juga puisi







15.

KARYA YANG TERBUANG

 

Karyanya cuma lembaran bisu

yang terbang bersama kotornya debu

Penyair dalam isu primordialisme

tabu tak tahu apa mesti dituju

 

Perkembangan dunia sastra lesu

karena ulah siluman serigala 

Menganga celangap berbicara

dengan lolongan dukacita

tanpa makna pembangunan jiwa

Sementara ia senang sendiri

Duduk dengan prestise mentereng

Keluarkan keputusan di balik lereng

Kemudian amleng

 

Hak otoritas menilai telah dilampaui 

era global berdasar kesukaan

pribadi pemilik modal 

dan komunitas kelompok

 

Kita menghadapi masa-masa genting

Dalam media bertangan dingin

Kritik sudah memasuki arah politik

tanpa kita sadari asal-muasalnya

karena kita kurang mengerti hermeneutik

untuk menafsirkan banyak hal

gejala kata dan makna kontekstual





16.

KRITIK PSIKOLOGI SASTRA 

 

Dalam kritik psikologi sastra

Aku berbicara dari samping

seribu tirai hitam di kamarku

Bahwa setiap diri memiliki potensi

dan kepedulian untuk membangun

rumah kreativitasnya 

Dan jendela konsistensi dirinya

Bagaimana kita bisa membangkitkan

bahasa pada rangkaian kehidupan

sebagai sarana komunikasi

antara cinta, keadilan dan naluri

kebersamaannya

Itulah masalah utama

yang dihadapi generasi masa kini

 

Kita terlanjur menetapkan tokoh

bermain terlalu lama mengobok-obok

karyanya melupakan keberadaan

manusia lainnya yang muncul

dari tingkat tujuh lapis bumi

atau permukaan laut sepi

 

Kita terlalu tergantung 

pada masa silam akhirnya terkatung-katung

Sastra tanpa tujuan

bagai air kali mampet di perkebunan 

Seperti puisiku

Begitulah kita mengalami ruminasi

dalam level akut karena tidak mampu

memberi celah pada generasi baru

Kita mengalami prolonged grief disorder

Sungguh terlalu panjang 

bagai jalan bebatuan membosankan

Memanjakan air mata

dan telaga depresi karena kehilangan

Sehingga penyakit melankoli

menulari dunia kata-kata

Dan kritik sastra

 

 

 

Agung Gema Nugraha

Bandung

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler