KUMPULAN 16 PUISI "FILSAFAT SASTRA"
1.
GELANDANGAN TUJUH RIBU KILO
Menukar kasih dengan derita
Aku mengembara membuka
portal-portal hina dan cela
yang dulu tertutup
kini menuntut
Tujuh ribu kilometer perjalanan
lagi mesti kulalui
Hujan badai gempa bumi
Melewati ujian yang tak pasti
Pengkhianatan keterasingan
Ragu bertabur bimbang
Tanpa atap ratapan
Maupun kawan curahan angan
Karena keluhan hambatan pencerahan
Putaran waktu kehampaan rindu
Penyatuan fana memeluk fatamorgana
2.
PENGAMEN SERIBU KEHIDUPAN
Terik mentari membakar sepi
Geliat hari-hari sinis tak bertepi
Rabunnya awan menutup harapan
Segala jalan torehkan dukacita
Kembali juga pada masa lama
Oh cinta yang pernah singgah
dipan berbunga indahnya asmara
Oh biru yang dulu berlabuh
memanjakan senyum tawa
Oh pendidikan yang kutempuh
Di saku celanaku kalian kutaruh
Oh kemeja sepatu kantoran
yang kupakai merangkai kehijauan
Oh perdukunan dan relawan
yang kugeluti dengan ketulusan
Tak menginginkan pribadi sial
berpandangan cerdas akal
dalam kebersamaan
Oh kehormatan keilmuwan
yang menempel pada keagungan
Sungguh pelepasan
adalah kesempurnaan menawan
Oh kehangatan keluarga di meja makan
Pembicaraan kawan di ruangan
Tak ada tautan link bagi kutukan
Aku mengamen lagi
Meski legam muka retak kaki
Bimbang niat dan tekad sejati
Tak menghambat kenyataan diri
Bahwa aliran takdir telah pasti
Aku pengamen seribu kehidupan
Selamat tinggal malaikat
pemberi pencerahan
3.
PERSIMPANGAN
Meladeni warna-warni hasrat ambisi
Di terik mentari zaman perubahan
Aku berkaca pada realita
Dan pahitnya pengalaman lama :
“Angin meninggalkan ruang
kehampaan lepas pengabaran
Tinggal batin dalam retakan”
Segala senyum, tawa dan rayuan
pudar sesingkat kata
Kita hanya persimpangan
bayang-bayang tanpa tujuan
4.
TEORI TAK KONTEKSTUAL
Mematri pagi penantian jawaban
Belum muncul mulut kepastian
Kejujuran dipertanyakan
Gairah hari lesu kerinduan
Jaminan persahabatan
Percintaan tergadaikan
sejuta kepiluan
Penerapan teori kehidupan
tak teruji pengorbanan
Bacaan membelakangi kenyataan
Garisan nasib kuat tergenggam
5.
SETETES KASIH SAYANG
Setetes kasih sayang
untuk kebersamaan
Aku tak sanggup memberikan lebih
madu yang ada di sarang hatiku
Kamu terima atau tidak
Setiap diri akan bertindak
dengan cara berpikirnya
menjadi racun berbalik
lalu mengganyang harapan
6.
MUSTIKA KUTUKAN
Memantik pertikaian cinta
bara api tak padam luka
Menyala arang dendam
Menunggu kelam
Nyala mata aura hitam
Bakaran jiwa
Kutukan
Malam beringsut
Langkah tebal berkabut
Pengkhianatan kepercayaan
Menjadi neraka kehidupan
7.
ANGIN TENANG
Angin tenang terbaring
di dipan lembah bumi hening
Sekedar istirah
yang tidak lama
akan kembali mengobrak-ngabrik
pemukiman kota dan desa
Aku bukan berdoa
Tapi membaca tanda
Entah firasat, astrologi atau semiologi
Agaknya sedikit menempel di hati
suara bisikan irama sunyi
Maka kubuat puisi ini
Sebagai antisipasi
8.
DIMENSI 13
Terpuruk mengangguk
Tunduk tak berbentuk
…
Bersimpuh patuh
9.
MEJA RENUNGAN
Menarik hatimu ke meja renunganku
bagaikan mencemburui bukit gersang
pada telaga rindu
Sejak mengenalmu pertama kali
Kamu bagaikan filsuf cerdik
yang memiliki ilmu mantik
Perdebatan dan prasangka
mengambil keputusan dua variabel
berbeda membakar bunga narsisku
Aku menunggu
Untuk bertarung lagi
dalam gairah psikologi
Asmara tanpa monopoli kekuasaan
Kerinduan tanpa mengesampingkan
keadilan waktu
10.
FILSAFAT SASTRA
Memadukan bahasa menundukkan mega
Kita berfilsafat mengarit rumput
di beranda rumah sederhana
Sastra
Intisari dari memanusiakan manusia
yang memiliki budaya
Hewan dan siluman terkesima
Perbedaan mendasar lebar terbuka
Pemikiran dan rasa termanifestasi
bagai spiral DNA
Meski dua turunan tak bisa disatukan
dalam wadah sinar akal
Ia akan didapat pada pesona jingga
langit kata-kata
11.
MENGEJAR DIRIMU
Menembus mega-mega perkasa
Di antara jutaan kuman-kuman cinta
Langkahku berlanjut
tanpa sedikit pun menciut
Aku mengejar dirimu
yang hilang di balik kabut
Kehendak kuat bagaikan berlian
berkilauan di antara hantu malam
Leherku memanjang ke balik bulan
Mataku mengembara menuju bintang
Kamu harus kudapatkan
12.
TUNGKU BERAPI
Berjam-jam kita berjuang
menahan segala gerah dukacita
Serasa hari ingin cepat bertemu senja
Keluarga adalah surga
bagi lelahnya perjalanan
Kedamaian
Ketenangan
Tergeletak di kursi harapan
Tapi kenyataannya
Kita mengambil tanggungan
ikatan kuat
untuk berada dalam pertarungan
Memaksa menantang raksasa nasib
menerobos arena terlarang
yang tak bisa diperhitungkan
Kita tak bisa lolos
dari cakar-cakar kehendak liar
yang memang kita pelihara
demi suatu ambisi
di bawah tungku bakaran api
13.
SINDROM PENCARIAN
Seiring terbit mentari
tujuh tumbak dari bumi
Ambisi menggerogoti hari
dan wajah kita berpagar sepi
Dalam kejujurannya
Sindrom pencarian berulang
mengiringi langkah kosong
Bersama kejenuhan
jeruji aktivitas diri
yang mesti kita buka
Pembebasan perlu diberdayakan
Tak bisa kita diam tertekan
mengekor kemerosotan spiritual
Kualitas manusia harus tetap terjaga
Penerimaan cinta upayakan terpelihara
Biar jeratan belenggu meleleh
dibakar semangat kehidupan
yang nyata
14.
PENYAIR GERILYA
Tengkurap di padang pasir
yang terik tanpa pohonan
dan air kehidupan
Penyair dalam era perubahan
bagaikan gerilya berperang
menghadapi tuntutan kehidupan
Fatamorgana
Idealismenya luntur
karena kebutuhan ekonomi pailit
mengisi rongga ruh di badan
Tak ada angin segar
bagi gemuruh nafas menderu
pejuang kerasnya rindu
Kepedulian akan terbuang
Dramatisasi sosial
adalah mahkota eksistensi
Konsistensi adalah hoaks
bayang mimesis
sebuah pernyataan sikap
Kreativitas sekedar penguatan
pemikat palsu bibir bergincu
pengecap dinding buta
Kita akan sengsara terlunta-lunta
tanpa latar belakang
bawaan lahir kuat menentukan
kemajuan masa mendatang
Uang banyak tumpuan kesuksesan
Dekat dengan penerbitan
pengusung piagam penghargaan
Orisinalitas tak diperlukan
Meski bangsa siluman mencipta
satu dua buah karya lalu menghilang,
penghormatan bisa mungkin terbilang
Menakjubkan
Darah merah tetap perlu berjuang
untuk merekah mengalir
meski cuma menggenggam kosong
udara hampa dalam ranah sastra
Menanam seribu pohon
dalam satu malam
akan sia-sia
di hadapan mata zaman hari ini
Begitu juga puisi
15.
KARYA YANG TERBUANG
Karyanya cuma lembaran bisu
yang terbang bersama kotornya debu
Penyair dalam isu primordialisme
tabu tak tahu apa mesti dituju
Perkembangan dunia sastra lesu
karena ulah siluman serigala
Menganga celangap berbicara
dengan lolongan dukacita
tanpa makna pembangunan jiwa
Sementara ia senang sendiri
Duduk dengan prestise mentereng
Keluarkan keputusan di balik lereng
Kemudian amleng
Hak otoritas menilai telah dilampaui
era global berdasar kesukaan
pribadi pemilik modal
dan komunitas kelompok
Kita menghadapi masa-masa genting
Dalam media bertangan dingin
Kritik sudah memasuki arah politik
tanpa kita sadari asal-muasalnya
karena kita kurang mengerti hermeneutik
untuk menafsirkan banyak hal
gejala kata dan makna kontekstual
16.
KRITIK PSIKOLOGI SASTRA
Dalam kritik psikologi sastra
Aku berbicara dari samping
seribu tirai hitam di kamarku
Bahwa setiap diri memiliki potensi
dan kepedulian untuk membangun
rumah kreativitasnya
Dan jendela konsistensi dirinya
Bagaimana kita bisa membangkitkan
bahasa pada rangkaian kehidupan
sebagai sarana komunikasi
antara cinta, keadilan dan naluri
kebersamaannya
Itulah masalah utama
yang dihadapi generasi masa kini
Kita terlanjur menetapkan tokoh
bermain terlalu lama mengobok-obok
karyanya melupakan keberadaan
manusia lainnya yang muncul
dari tingkat tujuh lapis bumi
atau permukaan laut sepi
Kita terlalu tergantung
pada masa silam akhirnya terkatung-katung
Sastra tanpa tujuan
bagai air kali mampet di perkebunan
Seperti puisiku
Begitulah kita mengalami ruminasi
dalam level akut karena tidak mampu
memberi celah pada generasi baru
Kita mengalami prolonged grief disorder
Sungguh terlalu panjang
bagai jalan bebatuan membosankan
Memanjakan air mata
dan telaga depresi karena kehilangan
Sehingga penyakit melankoli
menulari dunia kata-kata
Dan kritik sastra
Agung Gema Nugraha
Bandung

Komentar
Tulis komentar baru