KUMPULAN 49 PUISI
1.
TING TANGKOLAK
Ting tangkolak
Komalating tangkolak
Kapiting nu kamolak
Asup ka calobak
Ting tangkolak
Ku dia ditakolan
Sisieun tangkal salak
Kuring ka aseupan
2.
PUISI SUNDA
KAKASIH
Teu breh kana carita
Saukur panon poe dina mata
Hurung nyimpen caang na dada
Kakasih katungkul ngukur rasa
Sawewengi simkuring meuting
Ningalian kaayaan ka nineung
Sumeblak ngulikan jagat
Kakasih nu meurih satia ngolebat
3.
SATU APRIL
Satu April adalah hari di mana tiba
wajahmu di hadapanku
yang lalu berseru menyambut rindu
Matahari berpijar menukar sepi
malam kemarin
Dan hubungan kita
ternyata masih mesra terjalin
4.
PAGI DALAM TANYA
Dalam kepiluan desahan nafas ganas
Kebutuhan sehari-hari yang sulit
didapati kecuali dengan berbelit
ngutang sana sini
Aku menyaksikan silau mentari
menggelapkan hati nurani
Kegagalan berpikir kaum intelektual
dan pembicaraan akal sehat
adalah saat tidak bisa mengatasi
harga-harga menjulang tinggi
Jauh dari kata berbagi
Tak ada ruang bagi solusi
Lalu apa guna pembelajaran
obrolan dan pertukaran teori
dalam diskusi bila kenyataanya
makan pagi dan malamku
malah jadi sesendok nasi?
BBM jangan naik lagi!
5.
DALAM CINTA YANG LAPUK
Bagaikan suram
Penglihatan positifku ditekan arus malam
Dan bintang hitam
membentangkan tangannya di atas kepala
menambatkan energi asap rasa dendam
Wahai lelaki tetaplah sebagai pribadi
Di belantara rawa-rawa
cinta yang lapuk menjadi humus
akan membentuk rumus
Penciptaan baru bagi kesuburan
tanah, roh, kekuatan dan badan
6.
RAMALAN BINTANG HITAM
Bintang hitam yang mekar di dada
dan kepalamu adalah wujud ketakutan
gembala keterpurukan dalam dilema
rasa bersalah langkah kehidupan
Kepenasaranmu membuka rahasia
kotak ajaib perjalanan penuh pengorbanan
orang terdekatmu menjadikan kesepian
itu duri-duri baja tajam
Oh ramalan masa-masa sulit betapa
menautkan diri memegang kendali
rindu dan cinta
Meski ia menjadi nyata tapi tak berarti
kita diam, takut dan putus asa
Kebersamaan menghilangkan duka cita
Sebagaimana persatuan menguatkan perjuangan
7.
MUNTAHAN SEPI
Setelah muntahan sepi
di pintu jendela kamar yang gentar
Aku mesti kembali
mencari wujudmu dulu
Saat senyummu kubalas keangkuhanku
dan kedunguan di masa bunga mekar
Pada malam menyandang gamang
di sisi jalan berlubang
Sungguh sesal kini mesti kuhadapi
Bersama kemuakan kata
kalimat tanpa arti
8.
GEJOLAK RINDUKU
Gejolak rinduku memberontak
menjadi hiasan-hiasan kata dalam kota
Udara yang selalu menyudutkan
diriku ke pusaran badai mendung
Telah kuremukkan bagai kebodohan
Aku bersanandung
Senyumku bukan lagi untukmu
Sesajen itu tak lagi menyerumu
Gejolak rindu adalah coretan tanpa tujuan
Pelita yang tertimbun lumpur
9.
ANGGREK HITAM
Aku tak lagi mengenalmu
bagai dirimu yang melupakanku
Kesendirianku lebih berarti
pada malam
berakar, berbunga anggrek hitam
10.
BAGAI KELOPAK EDELWEIS
Menemui lagi dirimu
aku menemukan teori baru
Bagai kelopak edelweis
cintaku punya muka
Dan akan kau taruh
di tempat yang tinggi
disirami senyum sinar mentari
11.
PUISI ALAMKU
Inilah puisi alamku
yang lahir dari bius urat nadi
Mata air pilu dan duka cita jingga
Oh hutan-hutan jati belantara sunyi
Oh kebun karet dan kebun kopi
Jerit senandungku tersembunyi
disembunyikan kemalangan sejati
Oh samudra indah pantai merah
Telah kutanam pandan berduri
bunga-bunga karang tajam
Indah ombak merantai
Kubelah kuminum di pesisir pantai
Sambil santai tanpa gontai
Ikan tercerai-berai
Karena badai
hasrat wibawa manusia
Oh arus kali berbatu
Rinduku tak lagi kepadamu
Burung-burung hitam
di bawah wajah mendung mendalam
Akan menjadi hantu pada malam
Pohon-pohon rindang
disambar petir lalu mengerang
Rumput ilalang cuma bayangan
yang mesti menangis
terbuang zaman
Pembangunan
Puisi alamku
Puisi padatnya kenyataan
Besar bergejolak terbit berantakan
Memancarkan satu milyar
kehidupan generasi-generasi
di surgawi kemalasan
Tanpa harapan
Benih-benih terlatih
untuk siap luka sakit hati
Kamu dan aku berpihak ke mana lagi
Pegangan kita curigai
Kita mengambang dan tak ingin peduli
12.
ARPEGGIO SEBUAH KOTA
Angin mengetuk tong-tong sampah
Nyaring kering dan dingin
Akhirnya mengantuk menumpuk
di depan-depan rumah
Lalu menyelinap ke gitar kopongku
Naik mencekik mengembik
cepat dalam cuaca terik
Turun mengalun beruntun pantun :
“Buah permata berwarna jingga
Diarak-arak bianglala senja
Jadilah anak disayang bunda
Agar tidak dicap manusia durhaka”
Dipotong administrasi menyayat hati
Luka malih rupa menjadi karmina:
Buah tomat biji mahoni
Jadi pejabat jauhi korupsi
Menuntun memberi kabar santun:
“Jalani hidup jangan meredup
Bila tidur bunga bertabur
Tangis manis usah meringis”
Sungguh dinamis
Singkat, padat harmonis
Jari-jariku kunikmati dalam melodi
Sehat, erat merambat memecah sepi
Ingatan kota jelita
Angin memberi motivasi
Semangatku yang hampir patah
bangkit terbit inspirasi
Arpeggio kotaku
Arpeggio lembutnya nada-nada berpadu
Setelah sia-sia, kecewa dan terluka
Kusadari di lingkar kontemplasiku
satu persatu
lipatan perjalanan kurapihkan
sambil menyanyikan lagu rindu
Nasib adalah pancaran gaib
Takdir mengalir asing dan ajaib
13.
MEMIMPIKAN DEWI
Memimpikan Dewi adalah memantapkan kembali
sinyal-sinyal harapan
yang hampir terputus
karena konsleting pikiranku yang genting.
Malam membina tidurku mendengkur
dengan bijak dan penuh kebajikan
Menyelipkan ampau kebanggaan
peta senyum –
tanpa semula kuhadirkan bayangan
Aku kembali kepadanya
dalam kisah mapan –
panjang kedalaman spiritual
kebangkitan penetapan
naluri keaslian rinduku
Dewi menjadi pancaran cahaya
di kegelapan batinku
14.
PUISI PENDEK
MENYENTUH HATI
Istriku menepi: “Itu lagi itu lagi!”
Ngedumel bicara sendiri
Bagai kenari –
“Puisi tak bisa obati sakit hati
apalagi di hari lambung sepi
tanpa asupan makanan bergizi
Lapar luar biasa ngeri
– silet tajam menjilati
Trofi tidak lebih berharga
dari protein hewani atau nabati
Aku butuh lauk pauk, sayur-mayur
susu sapi dan sepiring nasi.”
15.
AH, SUAMIKU
Ah suamiku, kenapa kamu itu
Selalu setiap detik dan waktu
membaca buku. Tidakkah rindu?
Bagaimana dengan dahagaku?
Rajin mencerna makna
tak jadi apa-apa
Lebih baik bekerja sepenuh raga
Atau bicara biarpun ke mana saja
Serupa apa namanya?
“…hmmm meja?”
Istrinya senyum merona
16.
PUISI MENYENTUH JIWA
Pacarnya menangis
Seperti cuaca hujan ekstrim
“Puisi lagi, puisi lagi!
Kekasih yang kucintai
aku letih
kapankah kamu beralih
belikan aku sebatang emas putih?”
17.
PUISI AYAH DIJAWAB ANAK
Nak, ayah seorang penyair
lihat puisiku di cakrawala terukir
Ditelaah banyak wajah
Anaknya menjawab:
”Apakah jadi uang
buat jajan hari petang?
Besok bayar buku
dan sumbangan
Outing malu kalau tidak ikutan.!”
18.
JALANAN
Jalanan adalah padang yang gersang
bagi hatiku malang
Angin semerawut ngamuk-ngamuk
tanpa tujuan menelantarkan gelandangan
dan nyanyian pengamen
Jalanan adalah sabana penuh curiga
Mata-mata sakit hati
dengan kacamata kecewa
memantulkan bianglala api
19.
LELAKI PENGGAYUNG AIR
Lengannya adalah baja
Urat-uratnya kawat tembaga
Lelaki penggayung air
Pemimpin rumah tangga bukan raja
Dadanya luwes berdaya
Istri menanti
memberi semangat api suci
Anaknya sebelas tahun mempelajari
Seratus toren bagai perenang
Tak ada terumbu karang
di hati lapang tanpa sahutan
Bahasa menjadi isyarat alam
Dengan pikiran seluas lautan
Byiur byiur waktu tergiyur
Malaikat pencatat senyum terkagum
Lelaki penggayung air
berharap sesuatu di ujung pandangan
yang karib dan betapa gaib
Ibunya adalah permata mulia
Selalu berdoa memberi energi cinta
Lelaki penggayung air
Mengikuti irama takdir
Sit set menggayung terhuyung-huyung
Sambil bersenandung ia bagai terapung
20.
PETANI PUISI
Memanen cahaya kata
di kebun-kebun sajakku
Aku tertegun melihat bunga huruf
kau tanam ternyata
menjadi warna-warni pohonan
besar berkibar
di atas senja cakrawala
pikiranku yang hampa
Engkau adalah petani pemberani
Dengan tangan air kehidupan alami
Berdaya menguatkan cinta, karya
dan karsa tanpa keraguan jiwa
Aku manusia sangsi
telah hilang tepi
Merasuk ke wujud sejati
naluri ketangkasanmu
menyipuh mimpi
21.
HUJAN ES
Cik cak cuk
Cak cek cok
Kutakluk padamu
Saat wujudmu kutengok
Genggaman berkecamuk
Bersama angin berleher bengkok
Hati teraduk asmara dingin
Makin dekat merinding kala hening
Hukan es
Cik cak cuk
Cak cek cok
22.
CERAWAK
Cerawak cerawak
Biawak biawak di sisi kali
“Ini adalah ayam!”
Tujuh puluh ekor ketam
Krewak krewak
Mencapit malam
Cerawak cerawak
Binal! Leher bebek terpenggal
Bagai pencahar
Kruek kruek krar krar
Cerawak cerawak
Tujuh anak kambing
Saling bersanding
Kohkol nyaring
Biawak berpaling
23.
BAKEKOK
Bakekok
Masa dimangsa tua senja
Tersenyum aku terharu biru
Bakekok
Wajah tulus
Mata air jernih
Terpercik bersama alunan tawa
Keceriaan menepikan pesan jiwa
Dan ia, mereka, mengerti
Bahasa itu tiba-tiba terpatri
24.
DEJA VU POEM
Puisiku ada dalam pikiranmu
Bagaikan deja vu
Yang hidup menjadi hantu
Aku adalah kamu
Kamu tak dapat menangkapku
“Siapa aku?” Lalu “Kamu?”
Kata terurai adalah nafas ceraikan tirai
Menarik masa antara halusinasi
dan kenyataan memikat hati
Dalam resepsi teori atau psikologi
Kamu temui memberi arti
25.
TELEPATI PUISI
Seperti mentari dan bumi
Kamu menggodog dirimu
Aku tangkap cahayamu
Kamu berpikir
Aku menulis
Bagaikan bulu tipis
di Cakrawala sunyi
Telepati puisi
Ya tepat saat kamu baca
Aku lempar kata ke dalam jiwamu
yang dahaga telaga cinta
Antara kamu dan aku
Ada ruang tersembunyi
Telepati puisi
26.
KUSUT MASAI
Adinda lapar aku gentar
lemes dan terkapar
Adinda makan
Sudah tak ada ruang
bagi buah-buahan
Asupanmu adalah kenyangku
Begitulah adinda
Cinta kita memang tercipta
kusut masai tanpa bisa terurai
Aku tidur adinda mimpi
Sehingga lenyap segala isyarat hati
Kini aku sakit kepala
Adinda malah menjerit
tanpa sebab lalu pingsan
Padahal kita terpisah dua benua
Dua tubuh satu saling ruh beriring
Aku terbakar api
Melepuh kulit kekasih hati
Oh adinda
Kita bukan kembaran
Entah apa yang terjadi
Aku tak punya money
Adinda kusut masai
27.
RESEPSI SASTRA
Kali ini hari sembunyi topeng misteri
Wahai pembaca
Aku ingin berbicara resepsi sastra
Bagaimana dapat kamu kata?
Apakah diam adalah kebenaran?
Cerewet menanggapi mengelabui sepi
Lalu bermunculan teori mentari pagi
saat venus berkaca di langit pertama
Sedikit terkesima
Tapi apakah pujian itu
jilatan tujuh puluh panas api
Bagaimana kamu memberi makna?
Menerima catatan karisma
yang kuat diberdayakan
melalui sihir bintang kejora?
Resepsi sastra hanyut menggelora
memerlukan sudut pandang
Kedatangan curahan hujan
pemikiran, ketangkasan, kecerdikan
Tenggelam ke dasar lautan
Menawarkan berbagai tantangan
28.
EKSPEKTORAN
Kemudian kisah akan berkelanjutan
(Batuk-batuk, pilek, sesak nafas
menyertai musim pikiran peradaban
Lesu, marah, kantuk, linu resapan)
Menemui pintu-pintu untuk sebuah pilihan
Dan apa yang kita temui
Adalah persoalan yang memerlukan
pemecahan jawaban
29.
SAJAK TULANG BAWANG
Tulang bawang Tulang bawang
Angin menggelombang
Antara terik dan hujan
Bagai hatiku dalam keraguan
Tulang bawang Tulang bawang
Pasar kecil gemetaran
Tangan nakal keluyuran
Wahai kamu nyanyi sendu
pengamen yang lelah berjalan
Dahaga itu keringkan tenggorokan
Tulang bawang Tulang bawang
Daun kering di halaman
Bersih kusapu di pagi lengang
Sementara kerinduan
Menancapkan akarnya
jadi kemelaratan penat kehidupan
tulang bawang
30.
PUISI PSIKOHIPERBOLA
Mulut selebar cakrawala
Hatiku setinggi Everest Himalaya
Dalamnya se-palung mariana
Rayuanku empat milyar gemintang
yang melahirkan triliunan dolar
berhamburan menjadi kemerlap
teriakan guntur menggelegar
Kekasihku seratus juta sayangku
kupersembahkan untukmu
Angin adalah pengawal gaib
dari surga kelima
Dan raja-raja bumi teman
dekat sekeramat tawa bersama
Kekasihku sekali kedip minyak turun
Sekali tepuk harga-harga menjulang tinggi
Aku bukan liliput dan tak pernah keriput
Dalam debut senyumku menyulap yakut
permata-permata kaum cendekia
31.
PUISI KERAJAAN SINGA
Hallo pembaca
Masih bersama Agung Gema
Sebagai penyair kawakan
dalam kerajaan singa
Surai hitam surai terurai bagai tirai malam
Grrrrrrrr…auman meledakan impian
Kuku adalah cakar yang tertukar pedang
Taring menjadi seruling ditiup di hutan
Singa liar singa di belantara sabana
Tanpa harapan
Kurus ringan ditiup angin dingin
Kemarau
Kemarau
Singa senyum giginya putih sebelah
Ibarat mata
Singa penuh cinta
Langka jenaka
Raummm raummm grrrr
Gatal di punggung
Gelitikan semut-semut maut
Kerajaan singa satu pemimpin
tanpa pengikut
Satu raja tiada pengawal nama
Ya pembaca itulah cerita
Kerajaan singa
dari bintang selatan cakrawala
bumi kita
32.
PUISI SI KANCIL
Kancil
Si kancil
Si
Dia adalah si
Karena hewan
Ya itu dia
Si
Kancil
Cerdik, pintar jenaka
Masa kecil
Merambat saat kini terpencil
Si kancil
Di batu-batu koral kerikil
Hutan banyak buaya
Ular dan macan belang
Si kancil menghindari beruang
Hey, si…tunggu aku
(Sambil melayang dua tiga pijakan
Lalu terbang melawan arus zaman)
33.
PENGUNTIT MALAM
Batu-batu
Gelas
Dan hari yang buntu
Aku menguntit malam
Jemu
Meramu lamunan rasa rindu
Tanpa angin
Aku dipatri ironisnya diri
Gigiku ke mana gigiku?
Dengan dinding persahabatanku
Mulai akrab
Karena kekasih selalu bertamu
34.
CELANA LOGOR
Dalam hidup yang tak punya uang
Aku bertualang mendalami tiap perasaan
Air bak torpedo ngloyor menjadi kendor
Celanaku logor
Bukan sebab nasib tapi itu korupsi
Menggerogoti harta dan hati
Hatiku dan hatiku
Bagianku lalu bagianmu
Celanaku logor
Makin makin
Semakin kecil mungil
Kerdil
35.
SAYA YAKIN ADA HANTU. TITIK
Saya yakin itu hantu
Di sisiku di sisimu
Seperti keajaiban sepi
Bak kelamnya malam
Ibarat keindahan
kala kamu nikmati indahnya rembulan
Bagai roh yang menjadi hawa panas
Di badanku di badanmu
Hantu datang kepadamu
Menertawakan keraguanmu
Keterbatasan penglihatan matamu
meninggikan gengsimu
Ketakutanmu menjadikan keingkaranmu
Sehingga cuma mampu membuat titik.
Sementara ahli teknologi
yang menemukan gaya gravitasi
memercayai adanya energi
Hantuku dan hantumu
beda sebutan nama
Karena adanya perbedaan bahasa
pengalaman, sebutan dan harapan
yang intinya ada
di lingkar metafisika
Sejak awal peradaban sampai kini
Manusia meyakini
Aku buktikan dengan adanya kata
“Hantu” dan lain sebutan
Menunjukan adanya makhluk itu
Bahkan negara maju yang kamu kira
bersandar hanya pada fisika
Ketika kamu bilang :
“Aku tidak percaya hantu”
Berarti ia ada dalam pikiranmu
Dunia gagasan
adalah apa yang belum kamu
lihat dalam kenyataan
Karena pengalaman tidak menemuimu
waktu tak mendukungmu
lemah niat menghambat pencarianmu
cara dan syarat tak terpenuhi bersamamu
Bagianku bukan bagianmu
Beda sebutan, beda bahasa
Hantu muncul dari kata
puisi, sajak, makna dan majas-majas
Ruang-ruang
Genting
Atap rumahku dan rumahmu
Kasarnya hatiku atau hatimu
36.
PEGIAT SI CAPE SENDIRI
Yat yat pegiat si cape sendiri
Tak ada mandat
Apa dicari?
Bak diam di rengat-rengat
Akhirnya dicicipi ngengat
Pegiat tetaplah giat
Meski penat
Pusing, pegal linu dan keringat
Cipta, karya, karsa cuma nuansa
Hiburan lewat semata
Tanpa modal tidak jadi arus utama
Pegiat entah dari mana julukan didapat
Kenapa aku harus menjadi itu
Sungguh mengecewakan hatiku
Pegiat adalah nama teman dekat
sepupu, dan kerabat
Pegiat
Pe
Gi
At
Membosankan
Ekspektasi suram
Ini seperti ruam-ruam
Alergi aku jika harus tertekan
Beban.
37.
RELA, WAN, KAN
Rela sejak dulu sudah rela
Cuma tidak pakai wan
Paling-paling kan
Ya RELAKAN.
Hahaha
Begitulah objek penderita
Korban dari alur cerita
Angin celingak-celinguk menjenguk
Aku tidak mengamuk
Karena akal sehatku membujuk
hatiku yang cakep bagai berlian madu
Kekasihku aku masih rindu
38.
YANG BERSIN
Yang bersin yang berpaling
Di hadapkan pada angin dan dingin
Bulu-bulu menggelinding
Bagai bola-bola berduri saling beriring
Yang bersin yang dititah alam
Telah menemukan kebajikan
isyarat dan waktu memberi gambaran
38.
JIKA SUDAH SERIBU KARYA
Jika sudah seribu karya
silahkan berbicara
Gunung tak mendengar gejolak ombak
Sebagaimana laut
Tak menjawab seruan puncak
Jika sudah seribu karya
boleh menilai
Seribu karya adalah pengalaman berharga
Permata yang terbit dari tanah suka duka
39.
DALAM KERAJAAN PUISI
Dalam kerajaan puisi
sepi adalah kalam keajaiban
yang melahirkan seribu inspirasi
kata dan makna kemurnian
serat-serat jiwa kehidupan
Angin sebagai bisikan penuh arti
Benda-benda gemericik aliran kali
berbicara bagai dialog dialektika
Penyair mendengar ingar-bingar
Penyair memprediksi indikasi
Gejala-gejala manusia dan bumi
Ia merasakan riuh-rendah
keluh kesah
dari luar istana jingga
Suara-suara luka ditangkap
dirumuskan didekap
meskipun itu cuma langkah semut
atau hembusan kentut
Imaji adalah senjata yang diasah
di batu-batu berlian kerinduan
Majas menjadi pengawal setia
pelayan dan selir-selir suci
40.
API RINDU
“...”
Tungku kalbu
Apiku ungu
41.
ANGSOKA HIJAU
Anak menangis meminta buku
Adalah angsoka hijau negeriku
42.
TERSEKAP
Pecah recah hatiku
dihembus nafas bualanmu
Terlalu berharap tergagap engap
Aku tersekap
43.
KADAL BESI
Kadal besi
Bukan karena pengalaman
dan pengetahuan yang menumpuk
bagai sampah peradaban
Tapi kandungan daya penggunaan makna
Kata-kata hanya rudal menyakitkan hati
Kadal besi
Kadal kadal di antara batu-batu
gorengan matahari
Bergerak merayapi bumi
Pendidikan bukan satu-satunya
jalan untuk kita bisa hidup
Pergaulan tidak menjamin manusia
jauh dari rasa kesia-siaan
Kekayaan cuma pernak-pernik berwarna
dihiasi celoteh keakuaan
yang sebentar saja bakal meleleh
Uangmu tak berguna dihadapanku
44.
CIHCIR
Cingcilingcir
ada cihcir
Senja merekah
mengurai tabir
Angsoka merah
bagai selir-selir
Leluhur berisyarat
dengan syair
45.
RATAP LANGIT
Sehelai rambut setipis jalan kerinduan
Lelaki menelusuri hari-hari sepi
Ratap langit ratap langit
Rayap-rayap menggerogoti jati hati
yang pernah patah dikhianati
Sehelai rambut ia ikatkan
Di dua ujung kayu rapuh itu
46.
BEGITU KAMU MENEMUIKU
Nanti, begitu kamu menemuiku
akan kusambut dengan nyala-nyala lampu
gegap gempita dari langit terbentang.
Kuhamparkan permadani merah merekah
serupa warna permata rubi.
Setelah itu, kamu akan mengerti
segenap hatiku, kesetiaanku selama ini pastinya milikmu.
47.
WANITAKU
Wanitaku, apakah kamu mendengarkan
jeritan hariku yang selama dua tahun ini
selalu menyebut namamu dalam tidur
dan terjaga
Kenapa hubungan kita bagai bumi dan matahari
yang jauh silau keluh terasa panas di tanah hati
Sesekali ragu datang menggerutu
agar terputus sendu mendayu alunan
doaku kepadamu
Tapi, setiap tanda isyarat menguatkanku
kembali menjemput segala cita naluri
membangkitkan keadilan nurani
untuk tetap menantimu tegak berdiri
48.
PENCURI KECIL
Tidak! Jangan pukuli dia
Dia butuh mutiara-mutiara kasih
dari gemilang lautan hati
yang luas dan bersih
Itu adalah kedermawananmu
Berikan dia
Tidak! Jangan menganiayanya
Itu akan membuatmu menyesal
seumur hidupmu
Dia dicipta dengan rahmat
Sebagaimana dirimu
Cuma sebuah mangga
Karena lambungnya luka
49.
KAMIS, APRIL
Pagi ini kusempatkan menulis sajak
sekedar mengenangkan dirimu
yang bagai laju awan menggelombang
terbawa semilir angin angan-angan
tanpa arah pasti tujuan.
Kemilau mentari di kejauhan
tak seperti biasanya saat kita duduk berdua
menyeduh secangkir kopi hitam
menebak kehidupan
terang jernih tinggalkan ampasnya
di bawah senda gurau
dan warna-warni bunga-bunga elok
di halaman ketenteraman
Kini diriku sulit menyentuh hatimu
atau merasakan isyarat matamu
Karena jarak kita di antara dua benua
dua samudra. Tapi kesadaranku
akanmu tetap teguh perbawa menjaga
sucinya cinta dalam rangkaian suka duka
Agung Gema N

Komentar
Tulis komentar baru