Skip to Content

49 PUISI BINTANG HITAM, Agung Gema Nugraha

Foto Agung Gema Nugraha
files/user/14117/1776256669105.jpg
1776256669105.jpg

KUMPULAN 49 PUISI 

 

 

1.

TING TANGKOLAK

 

Ting tangkolak

Komalating tangkolak

Kapiting nu kamolak

Asup ka calobak

 

Ting tangkolak

Ku dia ditakolan

Sisieun tangkal salak

Kuring ka aseupan

 

 

2.

PUISI SUNDA

KAKASIH

 

Teu breh kana carita

Saukur panon poe dina mata

Hurung nyimpen caang na dada

Kakasih katungkul ngukur rasa

 

Sawewengi simkuring meuting

Ningalian kaayaan ka nineung

Sumeblak ngulikan jagat

Kakasih nu meurih satia ngolebat

 

 

3.

SATU APRIL

 

Satu April adalah hari di mana tiba

wajahmu di hadapanku

yang lalu berseru menyambut rindu

Matahari berpijar menukar sepi

malam kemarin 

Dan hubungan kita 

ternyata masih mesra terjalin

 

 

 

4.

PAGI DALAM TANYA

 

Dalam kepiluan desahan nafas ganas

Kebutuhan sehari-hari yang sulit

didapati kecuali dengan berbelit

ngutang sana sini

Aku menyaksikan silau mentari

menggelapkan hati nurani

Kegagalan berpikir kaum intelektual 

dan pembicaraan akal sehat 

adalah saat tidak bisa mengatasi 

harga-harga menjulang tinggi

Jauh dari kata berbagi

Tak ada ruang bagi solusi

 

Lalu apa guna pembelajaran

obrolan dan pertukaran teori 

dalam diskusi bila kenyataanya

makan pagi dan malamku

malah jadi sesendok nasi?

BBM jangan naik lagi!

 

 

 

 

5.

DALAM CINTA YANG LAPUK

 

Bagaikan suram

Penglihatan positifku ditekan arus malam

Dan bintang hitam

membentangkan tangannya di atas kepala

menambatkan energi asap rasa dendam

 

Wahai lelaki tetaplah sebagai pribadi 

Di belantara rawa-rawa

cinta yang lapuk menjadi humus

akan membentuk rumus

Penciptaan baru bagi kesuburan

tanah, roh, kekuatan dan badan

 

 

 

6. 

RAMALAN BINTANG HITAM 

 

Bintang hitam yang mekar di dada

dan kepalamu adalah wujud ketakutan

gembala keterpurukan dalam dilema

rasa bersalah langkah kehidupan

 

Kepenasaranmu membuka rahasia

kotak ajaib perjalanan penuh pengorbanan

orang terdekatmu menjadikan kesepian

itu duri-duri baja tajam

 

Oh ramalan masa-masa sulit betapa

menautkan diri memegang kendali

rindu dan cinta 

 

Meski ia menjadi nyata tapi tak berarti

kita diam, takut dan putus asa

 

Kebersamaan menghilangkan duka cita

Sebagaimana persatuan menguatkan perjuangan

 

 

 

7. 

MUNTAHAN SEPI

 

Setelah muntahan sepi 

di pintu jendela kamar yang gentar 

Aku mesti kembali 

mencari wujudmu dulu

Saat senyummu kubalas keangkuhanku

dan kedunguan di masa bunga mekar

Pada malam menyandang gamang 

di sisi jalan berlubang 

 

Sungguh sesal kini mesti kuhadapi

Bersama kemuakan kata

kalimat tanpa arti

 

 

 

8.

GEJOLAK RINDUKU

 

Gejolak rinduku memberontak

menjadi hiasan-hiasan kata dalam kota

Udara yang selalu menyudutkan

diriku ke pusaran badai mendung

Telah kuremukkan bagai kebodohan

 

Aku bersanandung

 

Senyumku bukan lagi untukmu

Sesajen itu tak lagi menyerumu

 

Gejolak rindu adalah coretan tanpa tujuan

Pelita yang tertimbun lumpur

 

 

9.

ANGGREK HITAM

 

Aku tak lagi mengenalmu

bagai dirimu yang melupakanku

 

Kesendirianku lebih berarti 

pada malam

berakar, berbunga anggrek hitam

 

 

10.

BAGAI KELOPAK EDELWEIS 

 

Menemui lagi dirimu

aku menemukan teori baru

Bagai kelopak edelweis 

cintaku punya muka

 

Dan akan kau taruh 

di tempat yang tinggi 

disirami senyum sinar mentari

 

 

11.

PUISI ALAMKU

 

Inilah puisi alamku

yang lahir dari bius urat nadi

 

Mata air pilu dan duka cita jingga

 

Oh hutan-hutan jati belantara sunyi

Oh kebun karet dan kebun kopi

Jerit senandungku tersembunyi

disembunyikan kemalangan sejati

 

Oh samudra indah pantai merah

Telah kutanam pandan berduri

bunga-bunga karang tajam

 

Indah ombak merantai

Kubelah kuminum di pesisir pantai

Sambil santai tanpa gontai

Ikan tercerai-berai 

Karena badai

hasrat wibawa manusia

 

Oh arus kali berbatu

Rinduku tak lagi kepadamu

Burung-burung hitam

di bawah wajah mendung mendalam

Akan menjadi hantu pada malam

 

Pohon-pohon rindang 

disambar petir lalu mengerang

Rumput ilalang cuma bayangan

yang mesti menangis

terbuang zaman

Pembangunan

 

Puisi alamku 

Puisi padatnya kenyataan

Besar bergejolak terbit berantakan

Memancarkan satu milyar

kehidupan generasi-generasi

di surgawi kemalasan

 

Tanpa harapan

Benih-benih terlatih

untuk siap luka sakit hati

 

Kamu dan aku berpihak ke mana lagi

Pegangan kita curigai

Kita mengambang dan tak ingin peduli

 

 

 

 

12.

ARPEGGIO SEBUAH KOTA

 

Angin mengetuk tong-tong sampah

Nyaring kering dan dingin

Akhirnya mengantuk menumpuk 

di depan-depan rumah

Lalu menyelinap ke gitar kopongku

Naik mencekik mengembik

cepat dalam cuaca terik

Turun mengalun beruntun pantun :

 

“Buah permata berwarna jingga

Diarak-arak bianglala senja

Jadilah anak disayang bunda

Agar tidak dicap manusia durhaka”

 

Dipotong administrasi menyayat hati

Luka malih rupa menjadi karmina: 

 

Buah tomat biji mahoni

Jadi pejabat jauhi korupsi

 

Menuntun memberi kabar santun:

 

“Jalani hidup jangan meredup

Bila tidur bunga bertabur

Tangis manis usah meringis”

 

Sungguh dinamis

Singkat, padat harmonis

 

Jari-jariku kunikmati dalam melodi

Sehat, erat merambat memecah sepi

Ingatan kota jelita

Angin memberi motivasi

Semangatku yang hampir patah

bangkit terbit inspirasi

 

Arpeggio kotaku

Arpeggio lembutnya nada-nada berpadu

Setelah sia-sia, kecewa dan terluka

Kusadari di lingkar kontemplasiku

satu persatu 

lipatan perjalanan kurapihkan 

sambil menyanyikan lagu rindu

 

Nasib adalah pancaran gaib

Takdir mengalir asing dan ajaib

 

 

 

13.

MEMIMPIKAN DEWI

 

Memimpikan Dewi adalah memantapkan kembali

sinyal-sinyal harapan 

yang hampir terputus 

karena konsleting pikiranku yang genting.

 

Malam membina tidurku mendengkur

dengan bijak dan penuh kebajikan

Menyelipkan ampau kebanggaan 

peta senyum –

tanpa semula kuhadirkan bayangan

 

Aku kembali kepadanya 

dalam kisah mapan –

panjang kedalaman spiritual 

kebangkitan penetapan 

naluri keaslian rinduku

 

Dewi menjadi pancaran cahaya 

di kegelapan batinku

 

 

 

14.

PUISI PENDEK 

MENYENTUH HATI

 

Istriku menepi: “Itu lagi itu lagi!”

Ngedumel bicara sendiri

Bagai kenari – 

“Puisi tak bisa obati sakit hati

apalagi di hari lambung sepi

tanpa asupan makanan bergizi

Lapar luar biasa ngeri

– silet tajam menjilati

Trofi tidak lebih berharga

dari protein hewani atau nabati

Aku butuh lauk pauk, sayur-mayur

susu sapi dan sepiring nasi.”

 

 

15.

AH, SUAMIKU

 

Ah suamiku, kenapa kamu itu

Selalu setiap detik dan waktu

membaca buku. Tidakkah rindu?

Bagaimana dengan dahagaku?

Rajin mencerna makna 

tak jadi apa-apa

Lebih baik bekerja sepenuh raga

Atau bicara biarpun ke mana saja

Serupa apa namanya?

 

“…hmmm meja?” 

 

Istrinya senyum merona

 

 

 

16.

PUISI MENYENTUH JIWA

 

Pacarnya menangis

Seperti cuaca hujan ekstrim

“Puisi lagi, puisi lagi!

Kekasih yang kucintai

aku letih

kapankah kamu beralih

belikan aku sebatang emas putih?”

 

 

 

17.

PUISI AYAH DIJAWAB ANAK

 

Nak, ayah seorang penyair 

lihat puisiku di cakrawala terukir

Ditelaah banyak wajah

Anaknya menjawab:

”Apakah jadi uang 

buat jajan hari petang? 

Besok bayar buku 

dan sumbangan

Outing malu kalau tidak ikutan.!”

 

 

 

18.

JALANAN

 

Jalanan adalah padang yang gersang

bagi hatiku malang

Angin semerawut ngamuk-ngamuk 

tanpa tujuan menelantarkan gelandangan 

dan nyanyian pengamen 

 

Jalanan adalah sabana penuh curiga

Mata-mata sakit hati 

dengan kacamata kecewa

memantulkan bianglala api

 

 

 

19.

LELAKI PENGGAYUNG AIR

 

Lengannya adalah baja

Urat-uratnya kawat tembaga

Lelaki penggayung air

Pemimpin rumah tangga bukan raja

Dadanya luwes berdaya

Istri menanti 

memberi semangat api suci

Anaknya sebelas tahun mempelajari

Seratus toren bagai perenang 

Tak ada terumbu karang 

di hati lapang tanpa sahutan

Bahasa menjadi isyarat alam

Dengan pikiran seluas lautan

Byiur byiur waktu tergiyur

Malaikat pencatat senyum terkagum

 

Lelaki penggayung air

berharap sesuatu di ujung pandangan

yang karib dan betapa gaib

 

Ibunya adalah permata mulia

Selalu berdoa memberi energi cinta

 

Lelaki penggayung air

Mengikuti irama takdir

Sit set menggayung terhuyung-huyung

Sambil bersenandung ia bagai terapung

 

 

 

20.

PETANI PUISI

 

Memanen cahaya kata 

di kebun-kebun sajakku

Aku tertegun melihat bunga huruf

kau tanam ternyata

menjadi warna-warni pohonan 

besar berkibar 

di atas senja cakrawala

pikiranku yang hampa 

 

Engkau adalah petani pemberani

Dengan tangan air kehidupan alami

Berdaya menguatkan cinta, karya

dan karsa tanpa keraguan jiwa

 

Aku manusia sangsi

telah hilang tepi

Merasuk ke wujud sejati

naluri ketangkasanmu 

menyipuh mimpi

 

 

21.

HUJAN ES

 

Cik cak cuk 

Cak cek cok

Kutakluk padamu

Saat wujudmu kutengok

Genggaman berkecamuk

Bersama angin berleher bengkok

Hati teraduk asmara dingin

Makin dekat merinding kala hening

 

Hukan es

Cik cak cuk 

Cak cek cok

 

 

 

 

22.

CERAWAK

 

Cerawak cerawak

Biawak biawak di sisi kali

 

“Ini adalah ayam!”

 

Tujuh puluh ekor ketam

Krewak krewak

Mencapit malam 

 

Cerawak cerawak

Binal! Leher bebek terpenggal

Bagai pencahar

Kruek kruek krar krar 

Cerawak cerawak

 

Tujuh anak kambing

Saling bersanding

 

Kohkol nyaring

Biawak berpaling

 

 

23.

BAKEKOK

 

Bakekok

Masa dimangsa tua senja

Tersenyum aku terharu biru

 

Bakekok 

Wajah tulus

Mata air jernih

Terpercik bersama alunan tawa

Keceriaan menepikan pesan jiwa

 

Dan ia, mereka, mengerti

Bahasa itu tiba-tiba terpatri

 

 

 

 

24.

DEJA VU POEM

 

Puisiku ada dalam pikiranmu

Bagaikan deja vu

Yang hidup menjadi hantu

Aku adalah kamu

Kamu tak dapat menangkapku

 

“Siapa aku?” Lalu “Kamu?”

 

Kata terurai adalah nafas ceraikan tirai

Menarik masa antara halusinasi 

dan kenyataan memikat hati

 

Dalam resepsi teori atau psikologi

Kamu temui memberi arti

 

 

 

25.

TELEPATI PUISI

 

Seperti mentari dan bumi

 

Kamu menggodog dirimu

Aku tangkap cahayamu

 

Kamu berpikir

      Aku menulis

Bagaikan bulu tipis

di Cakrawala sunyi

 

Telepati puisi

Ya tepat saat kamu baca

Aku lempar kata ke dalam jiwamu

yang dahaga telaga cinta

 

Antara kamu dan aku

Ada ruang tersembunyi

Telepati puisi

 

 

 

26.

KUSUT MASAI

 

Adinda lapar aku gentar

lemes dan terkapar

Adinda makan

Sudah tak ada ruang 

bagi buah-buahan

 

Asupanmu adalah kenyangku

Begitulah adinda

Cinta kita memang tercipta

kusut masai tanpa bisa terurai

 

Aku tidur adinda mimpi

Sehingga lenyap segala isyarat hati

 

Kini aku sakit kepala

Adinda malah menjerit

tanpa sebab lalu pingsan

 

Padahal kita terpisah dua benua

Dua tubuh satu saling ruh beriring

 

Aku terbakar api

Melepuh kulit kekasih hati

Oh adinda 

Kita bukan kembaran

Entah apa yang terjadi

 

Aku tak punya money

Adinda kusut masai

 

 

 

27.

RESEPSI SASTRA

 

Kali ini hari sembunyi topeng misteri

Wahai pembaca

Aku ingin berbicara resepsi sastra

Bagaimana dapat kamu kata?

 

Apakah diam adalah kebenaran?

Cerewet menanggapi mengelabui sepi

Lalu bermunculan teori mentari pagi

saat venus berkaca di langit pertama

Sedikit terkesima

Tapi apakah pujian itu 

jilatan tujuh puluh panas api

 

Bagaimana kamu memberi makna?

Menerima catatan karisma 

yang kuat diberdayakan 

melalui sihir bintang kejora?

 

Resepsi sastra hanyut menggelora

memerlukan sudut pandang

Kedatangan curahan hujan

pemikiran, ketangkasan, kecerdikan 

Tenggelam ke dasar lautan

Menawarkan berbagai tantangan

 

 

 

 

28.

EKSPEKTORAN

 

Kemudian kisah akan berkelanjutan

(Batuk-batuk, pilek, sesak nafas

menyertai musim pikiran peradaban

Lesu, marah, kantuk, linu resapan)

Menemui pintu-pintu untuk sebuah pilihan

Dan apa yang kita temui 

Adalah persoalan yang memerlukan

pemecahan jawaban

 

 

 

29.

SAJAK TULANG BAWANG

 

Tulang bawang Tulang bawang

Angin menggelombang

Antara terik dan hujan

Bagai hatiku dalam keraguan

 

Tulang bawang Tulang bawang

Pasar kecil gemetaran

Tangan nakal keluyuran

Wahai kamu nyanyi sendu

pengamen yang lelah berjalan

Dahaga itu keringkan tenggorokan

 

Tulang bawang Tulang bawang

Daun kering di halaman

Bersih kusapu di pagi lengang

Sementara kerinduan

Menancapkan akarnya

jadi kemelaratan penat kehidupan

tulang bawang

 

 

 

30.

PUISI PSIKOHIPERBOLA

 

 

Mulut selebar cakrawala

Hatiku setinggi Everest Himalaya

Dalamnya se-palung mariana

 

Rayuanku empat milyar gemintang

yang melahirkan triliunan dolar 

berhamburan menjadi kemerlap 

teriakan guntur menggelegar

 

Kekasihku seratus juta sayangku 

kupersembahkan untukmu

 

Angin adalah pengawal gaib

dari surga kelima

Dan raja-raja bumi teman

dekat sekeramat tawa bersama

 

Kekasihku sekali kedip minyak turun

Sekali tepuk harga-harga menjulang tinggi

Aku bukan liliput dan tak pernah keriput

Dalam debut senyumku menyulap yakut

permata-permata kaum cendekia

 

 

 

31.

PUISI KERAJAAN SINGA

 

Hallo pembaca

Masih bersama Agung Gema

Sebagai penyair kawakan

dalam kerajaan singa 

 

Surai hitam surai terurai bagai tirai malam

Grrrrrrrr…auman meledakan impian

 

Kuku adalah cakar yang tertukar pedang

Taring menjadi seruling ditiup di hutan

 

Singa liar singa di belantara sabana 

Tanpa harapan

Kurus ringan ditiup angin dingin

Kemarau

Kemarau

Singa senyum giginya putih sebelah

Ibarat mata

Singa penuh cinta

Langka jenaka

Raummm raummm grrrr

 

Gatal di punggung

Gelitikan semut-semut maut

Kerajaan singa satu pemimpin

tanpa pengikut

Satu raja tiada pengawal nama

 

Ya pembaca itulah cerita

Kerajaan singa 

dari bintang selatan cakrawala

bumi kita 

 

 

 

32.

PUISI SI KANCIL

 

Kancil

Si kancil

Si

Dia adalah si

Karena hewan

Ya itu dia

Si

Kancil 

Cerdik, pintar jenaka

Masa kecil

Merambat saat kini terpencil

Si kancil

Di batu-batu koral kerikil

Hutan banyak buaya

Ular dan macan belang

Si kancil menghindari beruang

Hey, si…tunggu aku

(Sambil melayang dua tiga pijakan

Lalu terbang melawan arus zaman)

 

 

 

33.

PENGUNTIT MALAM

 

Batu-batu

Gelas

Dan hari yang buntu

 

Aku menguntit malam

Jemu

Meramu lamunan rasa rindu

 

Tanpa angin

Aku dipatri ironisnya diri

Gigiku ke mana gigiku?

Dengan dinding persahabatanku

Mulai akrab

Karena kekasih selalu bertamu

 

 

 

 

 

34.

CELANA LOGOR

 

Dalam hidup yang tak punya uang

Aku bertualang mendalami tiap perasaan

Air bak torpedo ngloyor menjadi kendor

Celanaku logor

 

Bukan sebab nasib tapi itu korupsi

Menggerogoti harta dan hati

Hatiku dan hatiku

Bagianku lalu bagianmu

Celanaku logor

Makin makin 

Semakin kecil mungil

Kerdil 

 

 

 

 

35.

SAYA YAKIN ADA HANTU. TITIK

 

Saya yakin itu hantu

Di sisiku di sisimu 

Seperti keajaiban sepi

Bak kelamnya malam

Ibarat keindahan 

kala kamu nikmati indahnya rembulan

Bagai roh yang menjadi hawa panas

Di badanku di badanmu

 

Hantu datang kepadamu

Menertawakan keraguanmu

Keterbatasan penglihatan matamu

meninggikan gengsimu

Ketakutanmu menjadikan keingkaranmu

Sehingga cuma mampu membuat titik.

Sementara ahli teknologi

yang menemukan gaya gravitasi

memercayai adanya energi

Hantuku dan hantumu 

beda sebutan nama

Karena adanya perbedaan bahasa

pengalaman, sebutan dan harapan

yang intinya ada 

di lingkar metafisika

 

Sejak awal peradaban sampai kini

Manusia meyakini

Aku buktikan dengan adanya kata

“Hantu” dan lain sebutan 

Menunjukan adanya makhluk itu

Bahkan negara maju yang kamu kira

bersandar hanya pada fisika

 

Ketika kamu bilang : 

“Aku tidak percaya hantu”

Berarti ia ada dalam pikiranmu

Dunia gagasan 

adalah apa yang belum kamu

lihat dalam kenyataan

Karena pengalaman tidak menemuimu

waktu tak mendukungmu

lemah niat menghambat pencarianmu 

cara dan syarat tak terpenuhi bersamamu

Bagianku bukan bagianmu

Beda sebutan, beda bahasa

 

Hantu muncul dari kata

puisi, sajak, makna dan majas-majas

Ruang-ruang

Genting

Atap rumahku dan rumahmu

Kasarnya hatiku atau hatimu

 

 

 

 

36.

PEGIAT SI CAPE SENDIRI

 

Yat yat pegiat si cape sendiri

Tak ada mandat

Apa dicari?

Bak diam di rengat-rengat

Akhirnya dicicipi ngengat

 

Pegiat tetaplah giat

Meski penat

Pusing, pegal linu dan keringat

 

Cipta, karya, karsa cuma nuansa

Hiburan lewat semata

Tanpa modal tidak jadi arus utama

 

Pegiat entah dari mana julukan didapat

Kenapa aku harus menjadi itu

Sungguh mengecewakan hatiku

 

Pegiat adalah nama teman dekat

sepupu, dan kerabat

 

Pegiat

Pe

Gi

At

 

Membosankan

Ekspektasi suram

Ini seperti ruam-ruam

Alergi aku jika harus tertekan

Beban.

 

 

 

 

37.

RELA, WAN, KAN

 

Rela sejak dulu sudah rela

Cuma tidak pakai wan

Paling-paling kan

Ya RELAKAN.

 

Hahaha

Begitulah objek penderita

Korban dari alur cerita

 

Angin celingak-celinguk menjenguk

Aku tidak mengamuk

Karena akal sehatku membujuk

hatiku yang cakep bagai berlian madu

Kekasihku aku masih rindu

 

 

 

 

38.

YANG BERSIN

 

Yang bersin yang berpaling

Di hadapkan pada angin dan dingin 

Bulu-bulu menggelinding

Bagai bola-bola berduri saling beriring

 

Yang bersin yang dititah alam

Telah menemukan kebajikan

isyarat dan waktu memberi gambaran

 

 

 

38.

JIKA SUDAH SERIBU KARYA

 

Jika sudah seribu karya

silahkan berbicara

Gunung tak mendengar gejolak ombak

Sebagaimana laut

Tak menjawab seruan puncak

 

Jika sudah seribu karya

boleh menilai

 

Seribu karya adalah pengalaman berharga

Permata yang terbit dari tanah suka duka

 

 

 

39.

DALAM KERAJAAN PUISI

 

Dalam kerajaan puisi

sepi adalah kalam keajaiban

yang melahirkan seribu inspirasi

kata dan makna kemurnian

serat-serat jiwa kehidupan

 

Angin sebagai bisikan penuh arti

Benda-benda gemericik aliran kali

berbicara bagai dialog dialektika

 

Penyair mendengar ingar-bingar

Penyair memprediksi indikasi

Gejala-gejala manusia dan bumi

 

Ia merasakan riuh-rendah 

keluh kesah

dari luar istana jingga

Suara-suara luka ditangkap

dirumuskan didekap

meskipun itu cuma langkah semut

atau hembusan kentut

 

Imaji adalah senjata yang diasah

di batu-batu berlian kerinduan

Majas menjadi pengawal setia

pelayan dan selir-selir suci

 

 

 

40.

API RINDU

 

“...”

Tungku kalbu

    Apiku ungu

 

 

 

41.

ANGSOKA HIJAU

 

Anak menangis meminta buku

Adalah angsoka hijau negeriku

 

 

 

42.

TERSEKAP

 

Pecah recah hatiku 

dihembus nafas bualanmu

Terlalu berharap tergagap engap

Aku tersekap

 

 

 

43.

KADAL BESI

 

Kadal besi

Bukan karena pengalaman

dan pengetahuan yang menumpuk 

bagai sampah peradaban

Tapi kandungan daya penggunaan makna

Kata-kata hanya rudal menyakitkan hati

 

Kadal besi 

Kadal kadal di antara batu-batu

gorengan matahari

Bergerak merayapi bumi

Pendidikan bukan satu-satunya 

jalan untuk kita bisa hidup

Pergaulan tidak menjamin manusia

jauh dari rasa kesia-siaan

Kekayaan cuma pernak-pernik berwarna

dihiasi celoteh keakuaan 

yang sebentar saja bakal meleleh

Uangmu tak berguna dihadapanku

 

 

44.

CIHCIR

 

Cingcilingcir 

        ada cihcir

Senja merekah 

        mengurai tabir

Angsoka merah 

        bagai selir-selir

Leluhur berisyarat 

        dengan syair

 

 

45.

RATAP LANGIT

 

Sehelai rambut setipis jalan kerinduan

Lelaki menelusuri hari-hari sepi

 

Ratap langit ratap langit

Rayap-rayap menggerogoti jati hati

yang pernah patah dikhianati

 

Sehelai rambut ia ikatkan

Di dua ujung kayu rapuh itu

 

 

 

46.

BEGITU KAMU MENEMUIKU

 

Nanti, begitu kamu menemuiku 

akan kusambut dengan nyala-nyala lampu

gegap gempita dari langit terbentang.

 

Kuhamparkan permadani merah merekah 

serupa warna permata rubi.

 

Setelah itu, kamu akan mengerti 

segenap hatiku, kesetiaanku selama ini pastinya milikmu.

 

 

 

47.

WANITAKU

 

Wanitaku, apakah kamu mendengarkan

jeritan hariku yang selama dua tahun ini

selalu menyebut namamu dalam tidur

dan terjaga

 

Kenapa hubungan kita bagai bumi dan matahari

yang jauh silau keluh terasa panas di tanah hati

 

Sesekali ragu datang menggerutu

agar terputus sendu mendayu alunan

doaku kepadamu

 

Tapi, setiap tanda isyarat menguatkanku

kembali menjemput segala cita naluri

membangkitkan keadilan nurani

untuk tetap menantimu tegak berdiri

 

 

 

48.

PENCURI KECIL

 

Tidak! Jangan pukuli dia

Dia butuh mutiara-mutiara kasih

dari gemilang lautan hati

yang luas dan bersih

 

Itu adalah kedermawananmu

Berikan dia

 

Tidak! Jangan menganiayanya

Itu akan membuatmu menyesal

seumur hidupmu

 

Dia dicipta dengan rahmat

Sebagaimana dirimu 

 

Cuma sebuah mangga

Karena lambungnya luka

 

 

 

 

49.

KAMIS, APRIL

 

Pagi ini kusempatkan menulis sajak

sekedar mengenangkan dirimu

yang bagai laju awan menggelombang

terbawa semilir angin angan-angan

tanpa arah pasti tujuan.

 

Kemilau mentari di kejauhan 

tak seperti biasanya saat kita duduk berdua

menyeduh secangkir kopi hitam

menebak kehidupan 

terang jernih tinggalkan ampasnya

di bawah senda gurau 

dan warna-warni bunga-bunga elok

di halaman ketenteraman

 

Kini diriku sulit menyentuh hatimu

atau merasakan isyarat matamu

Karena jarak kita di antara dua benua

dua samudra. Tapi kesadaranku

akanmu tetap teguh perbawa menjaga

sucinya cinta dalam rangkaian suka duka

 

 

Agung Gema N

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler