Puisi-puisi Armen S. Untung
HUJAN MENJADI TINTA
Tubuhnya dan aku menjadi buku hujan.
Setiap tetes menulis cerita,
dan dunia menonton
tanpa bisa membaca.
Hanya udara, hanya basah,
hanya kami yang mengerti.
2024
CIUM DULU, TELAN NANTI
Sabar sedikit denganku,
karena kau obat yang kutelan
seperti roti tawar yang jatuh di lantai
tapi masih enak kalau dicium dulu.
2024
KABUT TENGKUK
Percakapan kita berkabut,
bukan kabut biasa,
tapi kabut yang menempel di tengkuk, mengisap napas, membuat kulitmu basah sebelum sadar.
Geladak cuaca melahirkan guntur
yang tak pernah reda.
Hari-hari terpangkas
di antara gigitan jam.
Dan air mata, kau tahu?
bergulung sendiri, memantul di dinding, menipu telinga yang menunggu.
Ingat…
ingat aku saat kau berjalan
di lorong-lorongmu sendiri.
Jantungmu berdetak seperti kereta api, menabrak jarak demi jarak,
menempel di tubuh jurangmu yang mabuk arak.
Tubuhmu, kau tahu?
penuh lubang-lubang rahasia,
dan aku menelan semuanya perlahan, sambil tersenyum pada gelap
yang menahan.
Percakapan ini tak pernah selesai,
Ia terus bergulung di antara rahangmu, di antara air mata,
di antara malam yang basah
dan guntur yang lapar.
2024
BURUNG-BURUNG MENUNDA PULANG
Dunia bukan lagi cuaca,
tapi sisa basah di sudut bibirmu
yang tak sempat kuhapus.
Burung-burung itu cuma alasan
untuk menunda pulang,
padahal aku ingin
menenggelamkan wajahku
di lehermu.
Tentangmu
aku kehilangan hitungan waktu,
detik dan kedip jadi sama saja,
karena tubuhku hanya mengingat
cara tubuhmu menutup luka.
2024
KENARI DI UJUNG PELURU
Aku menarik napas
bukan dari paru-paru
tapi dari kepala
yang sudah telanjang.
Peluru itu terbang, desahnya
menabrak peluru lain,
dua tubuh tergesa,
menyelundupkan gelap
ke dunia yang masih ingin terang.
Mesiu menempel di lidahku
pahit, getir
rahasia yang kau lupa cuci
dari ujung bibir.
Ketahuilah,
aku pergi bukan karena kalah,
tapi karena perang ini
ingin menetap di bawah kulitku.
Aku tak sempat berbisik padamu
tentang kenari
yang bernyanyi di jendela,
suara kecil
lebih setia daripada doa.
Senyummu menembus kepala,
tajamnya lebih dari peluru,
sunyi lebih dari kematian
yang menunggu di telingaku.
2024
SUMUR WAKTU
Aku memanggilmu
dengan nama yang tak pernah kutulis,
sebab setiap huruf
telah kau sembunyikan
di lipatan sajadah yang wangi air mata.
Kau berdiri di depan cermin,
menutup wajah dengan kain hitam
yang justru menelanjangiku
hingga ke tulang doa paling dalam.
Aku lelaki rapuh
kau mengetahuinya sejak mula.
Namun kau tetap menggandeng tanganku
seperti seorang ibu
menuntun anak yang baru belajar jatuh.
Dunia menertawakan,
menghitung jatuh-bangun kita
seperti papan skor
yang tak pernah adil.
Tapi kau tak gentar.
Memilih menyulam luka
dengan benang yang kau pintal
dari sabar dan gigilmu sendiri.
Aku pernah goyah,
hampir menyerah pada gelap.
Tapi kau tidak.
Kau menyodorkan matamu,
dua sumur tempat aku meneguk cahaya,
dan berbisik:
“Jatuhlah lagi,
aku akan tetap ada di bawahmu.”
2025
MINYAK KAYU PUTIH
kau oles di leher,
aku tumpah di dada
aroma itu, ya, aroma kita,
menempel di dinding kamar,
di celah lantai,
tidak jelas siapa yang mulai,
tapi akhirnya
kita menjadi gelombang, tidur, meledak,
menyeret mata yang menutup,
bibir yang membeku,
tangan yang tak mau lepas.
Debar ini
bukan gemuruh muda,
bukan napas tua,
tapi asap yang berputar-putar
di selimut tipis,
menyalip waktu, menempel di kulit,
menjadi bahasa yang tak punya kata.
2025
Komentar
Tulis komentar baru