Skip to Content

Penggalan prosa yang merangkak ke permukaan batin.

Foto Ananda Fitria

Saya hanya bisa menangis tertunduk saat mendengar ceritamu.

 

Ketika saya tahu bahwa kamu tidak baik baik saja selama ini, ketika saya tahu bahwa pilu merundungmu selama ini, rasanya.. hati saya robek dengan luka bernanah.

Dulu hidupmu berat sekali, saya pikir sekarang hidupmu bahagia, sungguh. Bagaimana bisa kamu menahan semua ini? Bagaimana bisa orang sebaik kamu terus saja.. terus saja…tidak bahagia?

 

Kamu adalah orang yang sangat berharga untuk saya, kamu adalah bentuk anugerah yang tuhan berikan untuk saya. Saya sangat mencintaimu, bahkan lautan terlalu sempit dan dangkal jika disandingkan dengan rasa cinta yang saya miliki untuk kamu.

 

Saya terus merayu sang pencipta untuk memberikan kebahagian, ketenangan hati, padamu.

 

 

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler