KEPEDA PENGKRITIK PUISI
Nasi sudah menjadi bubur
enak buat sarapan pagi
apalagi kerja lembur
Tapi pengkritik puisi
tak perlu bermimpi
menunggu terbit mentari
tunggal atau penghargaan
berpiagam untuk sebuah pengakuan
Saat melihat karya bisa kita menjiwa
menumpahkan tinta menulis kata
Membahas majas, struktur dan tema
Terlihat karya nyata potensi manusia
meski digital maka baik pendekatan akal
Bahas bersama dengan rasa cinta
Karena penyair tetaplah penyair
bukan satu dua tiga karya bersemilir
di media masa
Lalu dianalisis gembira
Itu terlalu picik
Pengkritik puisi itu mencari
sebuah naluri dan konsistensi
Bukan numpang tenar
untuk mekar
Justru ia mesti menggarap tanah, bibit
yang gemar terbukti banyak tertanami
dan jadi sebuah daya cipta nurani
Semoga kamu mengerti
Mengangkat derajat itu keramat
Menjadikan seseorang berarti
adalah ksatria bumi
Agung Gema Nugraha
13 Maret 2026
Komentar
Tulis komentar baru