Di kejauhan, kabar duka mendarat di telingaku,
Seperti gemuruh tanah yang luruh ke palung dada,
Aku berdiri di sini, dipisahkan oleh jarak,
Hanya bisa menatap bayangmu dari balik layar kaca.
Tangan ini ingin sekali mengusap air matamu,
Namun raga terkunci oleh jarak yang membisu,
Maka kurakit jemariku menjadi sepasang tiang,
Tempat doa-doa menopang atap yang sempat hilang.
Setiap kata adalah bata yang ku pulung satu persatu,
Dari sisa reruntuhan dan isak yang menyatu,
Meski aku tak disana menyentuh puing yang abu,
Doaku mengepak jarak, menyusun kembali harapan,
agar kau kembali bangkit!
Bogor,05 Februari 2026

Komentar
Tulis komentar baru