PENYAIR GERILYA
Tengkurap di padang pasir
yang terik tanpa pohonan
dan air kehidupan
Penyair dalam era perubahan
bagaikan gerilya berperang
menghadapi tuntutan kehidupan
Fatamorgana
Idealismenya luntur
karena kebutuhan ekonomi pailit
mengisi rongga ruh di badan
Tak ada angin segar
bagi gemuruh nafas menderu
pejuang kerasnya rindu
Kepeduliaan akan terbuang
Dramatisasi sosial
adalah mahkota eksistensi
Konsistensi adalah hoaks
bayang mimesis
sebuah pernyataan sikap
Kreativitas sekedar penguatan
pemikat palsu bibir bergincu
pengecap dinding buta
Kita akan sengsara terlunta-lunta
tanpa latar belakang
bawaan lahir kuat menentukan
kemajuan masa mendatang
Uang banyak tumpuan kesuksesan
Dekat dengan penerbitan
pengusung piagam penghargaan
Orisinalitas tak diperlukan
Meski bangsa siluman mencipta
satu dua buah karya lalu menghilang,
penghormatan bisa mungkin terbilang
Menakjubkan
Darah merah tetap perlu berjuang
untuk merekah mengalir
meski cuma menggenggam kosong
udara hampa dalam ranah sastra
Menanam seribu pohon
dalam satu malam
akan sia-sia
di hadapan mata zaman hari ini
Begitu juga puisi
Agung Gema Nugraha
30 Januari 2026
Komentar
Tulis komentar baru