Skip to Content

PESTA PARA BANGSAT

Foto Bima Suci

Di balik bangunan yang katanya gedung rakyat, pesta pora berlangsung.
Mereka berjoget-joget, rayakan kemenangan picik.
Untuk proyek fiktif, untuk utang yang disembunyikan,
Dan untuk gaji mereka yang baru saja naik.
Sementara di piring rakyat, hanya nasi kering serupa kerikil.

Kepala mereka berisi sampah dan puing.
Kearifan? Itu kata asing yang tak pernah mereka hafal.
Setiap keputusan, hitungannya cuma satu:
"Unggul untuk kita, atau menang untuk kita?"
Rakyat? Itu hanya angka di kertas laporan yang bisa dibelokkan.

Mulut mereka menyembur racun, berkoar "rakyat adalah prioritas".
Tapi kata-katanya pecah, menghunjam seperti pecahan kaca.
Menusuk yang terpinggir, mencemooh yang terjepit.
"Tolol!" teriak mereka, pada yang berani menuntut keadilan.

Ketinggian langit mereka ukur dari kursi malas.
Keagungan mereka sebut dari jumlah mobil di garasi.
Dan di luar, hujan deras menghantam atap-atap reyot.
Bau basah tanah menebar gugatan yang tak terbendung.

"Bajingan!" teriak mereka, pada orang-orang yang mulai marah.
Pada orang-orang yang merusak kursi malas dan mobil-mobil mereka.
Lalu mereka bersembunyi di balik punggung istri-istri dan anak-anak mereka.
Ironi sebuah negeri yang katanya berperiketuhanan, berperikemanusiaan, dan berperikeadilan...

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler