Aku mendengarnya berteriak
Di saat mulutnya tertutup rapat
Dengan tatapan gundah yang tak berarah
Mengizinkan air mata itu runtuh dengan cepat
Ia duduk di sana, sudut kasur di kamarnya
Berusaha menyembunyikan lara
Disaksikan oleh malam yang menghantuinya
Begitu pilu, begitu nestapa
Tak ada hal lain yang terdengar
Melainkan isak yang menyesakkan
Kurengkuh erat tubuhnya yang tegar
Berharap dapat sedikit meredakan
Kini kumengerti arti rintihannya
Begitu pula rindu yang tak tersampaikan
Duduk berhadapan dengannya
Menemani reda yang belum tertuntaskan
Komentar
Tulis komentar baru