KRITIKUS MULUNG MUNTAH
Gunung berselimut awan mendung
“Segala sesuatu mesti ambil untung.”
Sudah tersebar berdebar tenar
ANGIN DI SAKU BAJU
Angin menyelinap lewat saku baju
Mata sayu melamun selangkah ragu
Ekonomimu bukan ekonomiku
Jelas, tegas, realitas
KEPADA SANG MAINSTREAM
Apakah sang mainstream takut
tersaingi malam kelam larut
dari jiwa yang terdiam jekut
di antara kolam kata-kata dramatis
PUISI TETAPLAH PUISI
Kutemukan puisimu
bukan sekedar candaan pemikiran
tapi asas prinsip hidup
yang perlu dikaji para ahli
PUISI CYBER
Kamu bagai puisi
dalam hukum positivisme
Daya-daya yang ditiadakan
adalah kekuatan ajaib insan
menemui jembatan harapan
PUISI BUKAN DAYA RASA BENCI
Puisi tidak terbuat dari tanah liat
apalagi asap dengki yang sangat
merusak mata dan jiwa
MENGENAL PISCES
Mengenal pisces adalah menyentuh
kelembutan mata perasaan
Bagai arus tenang lautan
saat nyala rembulan
IJAZAH BIRU
Ijazah biru
Ijazah tertutupi langit kelabu
Aku dan kamu tidak tahu
Mata-mata sendu mesti bersatu
Bukan untuk koar-koar melulu
SURAT RINDU
DARI CIHANJUANG RAHAYU
Menengok desa Cihanjuang Rahayu
tempatku menyendiri menulis puisi
Aku meniti hal tak pasti
PERHITUNGAN
Perhitungan adalah separuh kehidupan
Kebimbangan langkah perjalanan
menjadi keraguan mengukir percintaan
Komentar Terbaru