Kita lalu melupa merajut masa depan
Seringnya melukis kehidupan dengan warna warni kesalahan
yang acap kali kita banggakan
Entah berapa musim hujan terlewati
Detik demi detik terus berganti
Hari, bulan dan tahun melaju tak berhenti
Berlembar-lembar halaman
Seringkali kita memaksa waktu mengejar asa
Adanya kita yang tertangkap waktu
yang semakin melaju meninggalkan kita
dengan asa yang entah berujung apa
Pinjami aku waktu
: Pelasku pada langit
Lalu aku membisu dan membatu
Ia-nya: waktu
tak lagi mau bersekutu
Aku ada karena Kau ada
Di bumi dan di bawah langit yang Kau cipta
Merasakan malam dan siang yang juga Kau cipta
Menikmati matahari, bulan, bintang dan alam semesta
Ah, senja telah berlalu
Padahal aku sudah bergegas mendatangimu
Sejenak aku ingin memandangmu
Ada yang ingin kutitip di jinggamu
Bu,
pinjamkan aku sabarmu satu hari saja
Aku ingin melihat dunia dengan lapang dada
pinjamkan aku tabahmu satu hari saja
Kemanakah angin kan luruh?
Takkah pernah ia merasa jenuh
Menyapa lalu dedaunan riuh
dan membuatnya terjatuh
Kemanakah perahu kan dikayuh?
Pagi beku
Dingin menggigit kulit
Matahari sembunyi
Angin berlari
Bayang mematung;
berdiri memandang hari
Sendiri;
menepi
dan sepi
Ini tentang sepenggal perjalananku
Tentang sekeping rasa dan asaku
yang pernah kutitip padamu
Lalu,
Komentar Terbaru