ketika mendung makin kuat menancapkan dingin di mimbar subuh,
kau berkata bahwa rasa sakit itu adalah cita cita
maka gerimispun tak mampu tumpah di atas tanah.
Kau benar sayang,
Rindi kita menguap bagai kapur barus setelah putus urat terakhir yang menyangga plasenta pada dinding rahimmu
pelan pelan,
nafas mu terbit bergantian dengan pekik dan sedu sedan yang sembilan membatu
pelan pelan,
Cahaya ranum pada pucuk pucuk angsana melesat menusuk sisa bulan tadi malam.
Dan,
kita meleleh di sengat matahari setengah tujuh.
Ketika mendung makin pudar diuar,
Banyak embun bersujud di atas rumput. Mereka sembahyang setelah kulantunkan adzan pada telinganya yang kanan.
Selesai itu,
Kami berdo'a
Dan,
Kusematkan sebuah nama bagi pertarungannya besok ; Senandung Sang Gentala
RS SITI MASYITAH, 13 09 12
Komentar
selamat ...
selamat atas kelahiran Senandung Sang Gentala
semoga menjadi anak yg berbakti ...
puisi yg memikat. salam kenal, Mas Izat ... :)
amin
terima kasih mas edi..semoga malaikat di langit juga ber amin ria :)
puisi puisi anda juga "tajam-tajam" mas..asik dibaca,atmosfer nya kuat..
salam
Tulis komentar baru