5 tahun setelah kau pergi, Adik
Abangmu ini begitu merindumu
Lihatlah pohon akasia yang tumbuh di halaman rumah kita
Sudah begitu tinggi melebihi bubungan atap rumah tempat pertama kita membuka mata
Pucuknya berayun diterpa angin meliukkan kuncup-kuncup yang rimbun menguning
Di bawah rimbun daunnya yang semakin jauh dari jangkauan tangan; sering kita duduk berbincang
Sejenak kenangku berebut tempat dalam samar ingatan
Saat kita memperebutkan mainan yang dibelikan ayah
Saat kita berbagi penganan yang dibuatkan ibu
Saat kau menangis mengadu tersebab gaduh dengan temanmu
Lalu kita tumbuh dewasa bersama dengan ayah dan ibu yang semakin menua
Tak jarang kita bersiteru dan beradu debat meski setelahnya kita kembali dekat
Tak jarang juga kita bercanda mesra sambil berbagi cerita dengan tawa dan senyum merona
Atau bicara serius memilah ide dan gagasan untuk dikerjakan dengan kening sedikit berkerut tergurat
Semua bagai potret yang silih berganti melintasi memori
Kupandangi meski sekejap ia hilang lalu kembali lagi
Meniti hari demi hari sejak kau pergi meninggalkan kami
Menyisakan segenap kenangan yang takkan pernah terganti
Medan, 25 Oktober 2018
Komentar
Tulis komentar baru