Kursi Goyang
Seperti biasanya pukul setengah dua belas malam, aku mulai memasuki rumah. Tak kutemukan seseorang disana, hanya bunyi detak jam yang terdengar.
“Teng.. teng.. teng..”, jam kuno hadiah dari ayah, saat kami melangsungkan pernikahan tiga bulan yang lalu, menunjukkan pukul dua belas tepat. Perhatianku tersita pada pintu kamar kami yang mulai terlihat terang. Biasanya tengah malam begini, istriku akan terbangun hanya sekedar untuk minum. Benar saja, dari sini kudengar ia berusaha membuka kunci pintu kamar. Aku mulai menggoyangkan kursi yang sejak dari tadi kududuki. Kedua matanya tertuju pada kursi ini.
“Kita saling mencintai, namun dunia kita kini berbeda, aku ikhlas dengan apa yang sudah digariskanNya, tolong kembalilah pada tempat dimana seharusnya engkau berada mas”, mendadak tangis istriku pecah. Akupun merasa sangat bersalah.
Komentar
like
ini yang aku tunggu, tetap dengan nuansa mistis
hehehe
Long Time No See
lebih asyik menulis yang seperti itu, sudah lama dirimu tak beraksi lagi yaa? aku tunggu juga puisi-puisi indahnya..
hahaa
inspirasiku sedang cuti mbak, berlibur ke entah kemana
hahaha
Jangan libur terussss
Jangan libur terus mas, kasihan penggemarnya hehe
waduh
waduh bisa aja nih si mbak
Tulis komentar baru