**Kepulangan**
*Empuss Miaww*
---
Teko French press itu sudah dia siapkan sejak sore.
Dia timbang bubuknya dengan teliti, tuang air panas sampai batas yang biasa, tunggu empat menit dengan mata ke arah jam dinding. Dia tekan. Tuang. Duduk di lantai dengan punggung bersandar sofa, cangkir di antara kedua telapak tangan.
Dari tumpukan kertas di meja kopi, dia ambil satu lembar. Pulpen sudah ada di tangannya sebelum dia sadar mengambilnya. Dia tulis tiga baris. Kalimat pertama selesai. Kalimat kedua berhenti di tengah.
Diremas. Dilempar pelan ke sudut ruangan.
Lembar kedua. Satu kata. Tergantung sendirian di tengah kertas putih.
Diremas lebih cepat.
Lembar ketiga dia bentangkan di lututnya. Tidak ada yang ditulis. Dilipat rapi menjadi empat bagian, diletakkan di sisi cangkir.
Laptopnya terbuka di meja. Dia pindah duduk, menarik laptop lebih dekat. Dokumen baru. Kursor berkedip.
Dia ketik beberapa kalimat. Blok semua. Hapus.
Ketik lagi. Lebih pendek. Biarkan.
***
Kota di luar jendela sedang berubah warna.
Dia berdiri. Mengambil cangkirnya — sudah dingin — dan berjalan ke jendela. Berdiri di sana, meminumnya pelan. Tegukan pertama, kedua, ketiga. Setelah itu tidak ada yang tersisa, tapi cangkir itu tetap di tangannya. Jari-jarinya menggenggam lebih erat dari yang diperlukan.
Di bawah sana, kota bergerak seperti biasa. Lampu-lampu mulai menyala satu per satu.
Cangkir itu akhirnya dia letakkan di ambang jendela.
***
Dia mengambil gadget dimeja. Layar menyala — langsung ke album foto. Gulir pelan. Berhenti di satu foto, mengusapnya pelan dan bulir hangat mengalir disudut mata, punggung tangannya mengusap air itu.
Layar mati sendiri.
***
Suara air dari kamar mandi.
Dia keluar dengan rambut masih setengah basah. Berdiri di depan lemari, memilih dengan teliti. Di laci paling bawah meja rias ada bros kecil berbentuk daun yang tidak pernah dibawa keluar. Dia pasang di kerah bajunya.
***
Jam 22.00.
Dia berdiri di depan pintu apartemen, smartphone digenggam. Bukan untuk melihat posisi pengemudi — tapi kembali ke album. Foto yang sama. Perempuan tua di teras.
Notifikasi berbunyi. Mobil sudah di bawah.
Di dalam, laptop masih menyala. Kursor masih berkedip.
***
"Sesuai titik antar, Bang."
Mobil meluncur keluar dari basement, menembus malam.
Dia menyandarkan kepala ke jendela. Di luar, lampu-lampu jalanan mengalir — satu demi satu, muncul dan menghilang. Sesekali dia lihat lagi album itu. Foto yang sama. Selalu foto yang sama.
Matanya berkaca-kaca.
"Sudah sampai."
"Terima kasih, Bang."
***
Pintu mobil terbuka. Kakinya turun ke aspal.
Di depannya, rumah itu. Cat yang sedikit lebih pudar dari yang diingat. Pot bunga di teras. Lampu teras menyala.
Nafasnya menjadi berat.
Dia menarik nafas panjang.
Kakinya melangkah.
Tangannya menyentuh gagang pintu dengan pelan. Dia usap sudut matanya dengan punggung tangan.
"Ibu, aku pulang."
---
Komentar
Tulis komentar baru