Rembulan memantulkan diatas sungai yang mengalir ditepian sudut kota malam ini, seolah menemani kegundahan Rasta yang ingin menepi jauh dari keramaian diatas jembatan yang jauh dari pemukiman penduduk di kota itu.
Pikirannya menerawang mengingat kejadian tadi siang, saat pertengkarannya dengan Jefri, kekasihnya terjadi, lebih tepatya mantan kekasihnya yang menemaninya selama dua tahun ini.
***
“Aku tidak menyangka siapa dirimu sebenarnya, Jef!!” teriak Rasta sambil berjalan ke arah Jefri saat tidak sengaja memergokinya keluar dari sebuah wisma bersama seorang wanita.
Tidak ada penyesalan dan rasa takut dalam sorot mata Jefri saat bertatapan dengan Rasta, bahkan sebuah senyum sinis menggantung di sudut bibirnya.
“Jadi kenapa?” tantagnya.
“bisa – bisanya kamu mengkhianati cintaku!!” kata Rasta.
“Mengkhianati? Bagaimana mungkin aku mengkhianati kamu, hubungan kita atas dasar suka sama suka, jadi kalau aku sudah bosan, ya kita putus…”
Tersentak hati Rasta mendengarkan perkataan Jefri, tanpa sadar dorongan emosi membuat dirinya ingin menampar wajah Jefri, namun dengan sigap Jefri menghindar, dan akhirnya Rasta jatuh tersungkur ke halaman parkir tempat mereka berjumpa.
“Heh, perempuan bodoh, ini tunangan saya, sebentar lagi kami akan menikah, dank au jangan coba – coba mengganggu calon suami saya” bentak perempuan disamping Jefri.
“Sudahlah beib, kita tinggalkan saja wanita gila ini sendiri disini” Kata Jefri sambil menggandeng tangan wanita itu meninggalkan Rasta yang masih tersungkur di halaman parkir sambil menangis.
***
“Sungguh tega dirimu mempermainkan aku, Jef. Setelah semua kehormatanku aku berikan kepada dirimu” bisik Rasta,
“Aku mencintaimu, Jeff,,, tanpamu aku tidak sanggup,,,” lirih Rasta,
Rasta menangis sengugukan di tepian jembatan yag sepi dan jauh dari pemukiman penduduk itu. Hatinya telah tertutupkan kesedihan dan kekecewaan besar, seperti cahaya rembulan malam itu yang tiba – tiba tertutupkan oleh kabut malam yang hadir mendinginkan suasana.
“Jika aku tidak memiliki kehormatan sebagai wanita dan cinta darimu lagi, untuk apa aku harus ada di dunia yang kejam ini!!!” lirih hatinya mengikuti bisikan setan – setan yang tertawa terbahak – bahak dalam hatinya, karena teman mereka akan bertambah satu lagi.
Kakinya sudah melangkah melewati besi pembatas antara jalan dan aliran sungai di bawahnya. Matanya terpejam dan ingin melepaskan pegangan terakhirnya pada besi pembatas jembatan tersebut.
Tiba – tiba sebuah tangan kekar yang dingin seolah menahan tangan Rasta yang hampir lepas, ditolehkannya wajahnya kesamping untuk melihat siapakah orang yang berusaha menghalanginya untuk bunuh diri.
Seorang pria muda yang berusia pertengahan tiga puluhan tersenyum kepadanya.
“Jangan lakukan hal itu, nona, mari kita berbicara dahulu” katanya dengan lembut.
‘“Lepaskan tanganku, aku ingin melompat kebawah!!” teriak Rasta.
“Melompat? Aku tidak melarangmu melompat kebawah, aku Cuma ingin mendengar ceritamu sebelum bunuh diri, mana tahu bisa aku buat sebagai sebuah novel” kata pria itu dengan senyum dingin.
“Dasar lelaki tidak punya perasaan” bisik hati Rasta.
Amarahnya sejenak menguasai kesadarannya, mengembalikan akal sehatnya dan rasa ingin melampiaskan semua kemarahan dihatinya kepada lelaki yang berdiri disampingnya.
“ Ya, aku ingin bunuh diri, kenapa kau ikut campur” nada suara Rasta meninggi.
“Aku hanya ingin mendengarkan kisahmu, bolehkah?” kata lelaki itu dengan sopan.
“Semua ini berasal dari mahluk bernama laki – laki sepertimu, merampas kehormatan dan masa depanku, menghisap habis semua rasa cintaku, dan mencampakkan aku seperti barang yang sudah tidak berguna” sengit Rasta.
“Aku sudah tidak bisa menghadapi semua ini lagi,,, duniaku sudah hancur berkeping – keping” tangis Rasta pecah dan diapun terduduk di aspal.
Lelaki itu membiarkan Rasta menangis tersedu – sedu, sambil mengambil rokok dari saku bajunya, dia memperhatikan Rasta, setelah tangis Rasta mulai mereda, dia berkata lembut.
“ benarkah hidupmu sudah berakhir oleh pria itu? Ataukah kau baru saja memulai hidupmu kembali dari titik nol?”
“Maksudmu?”
“Benar – benar Jefrikah yang terbaik bagi hidupmu sampai kau mau menghabisi dirimu karena cintamu yang telah tertolak ataukah dirimu saja yang belum menemukan sosok pria yang dapat membahagiakan dirimu?”
Sedikit rasa terkejut hadir dalam hati Rasta, saat Pria tersebut menyebut nama Jafri.
“Jelaskan,,,” pinta Rasta dengan lirih.
“Baiklah, maaf jika aku harus bercerita tentang kisahku” kata pria tersebut.
“Semenjak aku masih muda, aku sudah berulang kali dikecewakan oleh cinta? Kau tahu, semacam cinta bertepuk sebelah tangan, dan dahulu saat aku mencintai seseorang, aku senantiasa merasa bahwa inilah cinta sejatiku yang belum tentu dapat hadir setiap hari” kata pria tersebut sambil duduk disamping Rasta dan mulai menghidupkan kembali rokoknya.
“sampai akhirnya aku dijodohkan oleh temanku kepada seorang wanita yang cantik dan pintar, yang ada dalam pikiranku dulu adalah ingin membalaskan sakit hatiku kepada wanita yang menjadi istriku itu. Berulang – ulang kali aku menyakiti hatinya, agar aku merasa puas, namun berulang – ulang kali pula dia memaafkan diriku, tanpa sedikitpun dendam dalam hatinya. Akupun mulai lelah untuk menyakitinya dan mulai belajar mengenal siapakah sosok diri yang menjadi istriku itu. Kau tahu, cinta hadir kadangkala berasal dari kedekatan – kedekatan dan interaksi emosional, dari situlah aku belajar mencintainya, terlebih dengan hadirnya seorang anak ditengah kehidupan kami. Baru aku menyadari, dialah wanita yang benar - benar dapat membahagiakan diriku”.
Kepala Rasta tertunduk memandang aspal yang ada di depan matanya, mencoba meresapi kata – kata sang pria kedalam hatinya.
“namun rupanya ada yang berkuasa diatas cinta itu, kematian,,,” bisik lelaki itu.
“cinta mereka harus berakhir lewat kematian sang suami yang terjadi karena kecelakaan maut yang pernah terjadi diatas jembatan ini…”
Tiba – tiba Rasta tersentak saat mendengarkan perkataan terakhir sang Pria, dicobanya melihat sosok yang tadi duduk disampingnya, namun semua menghilang, secepat kabut malam yang juga menghiasi malam tadi. Seolah dia baru terbangun dari sebuah mimpi.
Dengan lemas ditegakkan badannya dari aspal dan berjalan gontai menuju kendaraannya yang terparkir ditepi jembatan.
“Mulailah kembali hidupmu dari titik nol” bisik suara di telinga Rasta.
Komentar
Tulis komentar baru