# Kepulangan Sunyi
### *Pembuka dari novela ROSHAN*
*oleh Empuss Miaww*
---
Jam tujuh pagi, lampu ON AIR mati.
Roshan melepas headphone, meletakkannya di meja dengan cara yang sama seperti setiap hari — pelan, seperti meletakkan sesuatu yang berat meski beratnya tidak terasa di tangan. Ia mematikan layar monitor, mengumpulkan naskah siaran, dan berjalan keluar dari studio dengan langkah orang yang sudah tahu persis ke mana ia akan pergi.
Ke rumah. Selalu ke rumah.
---
Di luar studio, Pekanbaru sudah ramai. Orang-orang berangkat. Anak-anak sekolah. Jalanan mulai padat dengan suara yang berbeda dari sunyi jam lima pagi yang ia kenal dengan baik. Roshan membeli lontong medan dari lapak Kak Ida di jalan kecil itu — satu bungkus, seperti biasa — dan berjalan ke arah motornya.
Bukan karena lapar. Tapi karena itu ritualnya. Dan ritual adalah cara ia tahu bahwa hari sedang berjalan sebagaimana mestinya.
---
Rumahnya tidak besar. Tidak mewah. Tapi namanya ada di sertifikat — nama Roshan, bukan nama orang tua, bukan nama siapapun. Ia cicil sendiri dari honorarium siaran dan beasiswa. Bayar sendiri. Dan setiap pagi ketika kunci itu masuk lubang kunci, ada rasa yang tidak pernah bisa ia jelaskan dengan tepat — campuran antara lelah dan bangga dan sesuatu yang ketiga yang tidak punya nama.
Ia masuk. Menutup pintu.
Berdiri sebentar di tengah ruangan yang sunyi.
Di luar, ribuan orang baru saja menghabiskan dua jam ditemani suaranya. Di dalam, tidak ada yang menyambut. Tidak ada suara lain. Hanya lemari, meja, kursi, dan pot anggrek di jendela yang belum juga berbunga meski sudah setahun ia rawat.
*Kepulangan sunyi*, bisiknya — kepada siapa, ia tidak tahu.
Lalu ia meletakkan lontong medan di meja, duduk, dan membuka naskah tugas kuliah yang sudah tertunda dua hari.
Hari ini sama seperti kemarin. Seperti besok.
Sampai hari itu tidak sama lagi.
---
*— dari novela ROSHAN, segera terbit.*
*© 2026 Empuss Miaww. All rights reserved.*
#NovelaRoshan*
Komentar
Tulis komentar baru