Aku membiarkannya selalu teringat
mengucapkan namanya di luar kepala
merawatnya sambil mencabik-cabik hari
lalu kita mewarnai senja dengan
derai tawa dan
menuliskan pijaran kata
yang membutakan mata
Kau membiarkan aku menggigit pensilmu
dan memotong karet penghapus itu
menjadi beberapa bagian
tatapmu lurus ingin bertanya
tapi kau biarkan itu berlalu
dan melanjutkan membaca
sedang aku diam kelu
menunduk malu
Aku membiarkan namamu kusebut
dalam pagi, siang, dan malamku
mengingatmu dan memberinya tempat
di atas panggung permainan kita
Matahari tak memudar
katamu...
melihat kebodohan kita
membuatnya makin terik
memaksa kita tengadah dengan
mata terpejam...
karena silaunya
Aku menyirammu dengan buih-buih
soda gembira yang kita reguk
dengan kopi pahit yang kuhirup
setiap pagi...
dengan jilatan tinta pada
masa yang tipis
Engkau tak akan berakhir
sampai kataku tak mampu lagi
mengendalikan hati
dan mencoba menghapusmu dari
panggung permainan ini
Cipanas, 25 Juli 2017, 09.30 wib
Komentar
Tulis komentar baru