Skip to Content

Agustus 2012

DENGARKAN AKU DAN JANGAN PENGECUT

dengarkan aku dan jangan pengecut lelaki

engkaulah penatap rembulan itu karena tak kau temui

caramu mengungkapkan rasa menemui pelik

GELISAH, KELUH DAN JUGA RINDU

setiap terbayangmu gelisahku mengubun sontak

padamu bernama perempuan aku bertanya

ada apakah ini hingga aku menggembol kutat

MENGAPA AKU BERNAMA

bagiku cukuplah kau sebut aku lelaki suka-sukamu mengapa

aku bernama selain lelaki tentu tak milah rupaku

jejap tatap mengarah bilah pisau dan aku masih lelaki itu

BELAJAR PADA PEREMPUAN

Di lengkung langit purnama pucat lesih tersaput awan kelabu berarak-arak. Sesekali kilat menukik, membiak percikan api. Dalam kerjapan mata saja awan kelabu milah rupa mendung pekat. Menelan bulan. Gelap. Lalu gelegar suara petir seperti hendak meruntuhkan langit.

ANU

Jika terbesit bayangan tentang itu ANU

Selalu saja membuatku merasa ANU

Tapi harus kulawan hasrat itu ANU

Karena aku tak boleh ANU

MAAF DARI SURGA (IBU)

Saat kau disampingku

Kau ku sia-siakan

Pengorbananmu yang selamatkan hari-hariku

Kusepelekan

Tangisku adalah dukamu

Tapi dukamu apa peduliku

SEORANG BAPAK DAN LAYANGAN DI TANGAN

seorang bapak dan layangan di tangan menatap

langit bergeming seperti hari-hari lalu tak pernah

berkeping impiannya menunggu tiba saat kepulangan

Puisiku

Gelombang Rindu

Kalau hari ini kau dengar teriak ombak
Ia bernyanyi tentang rindu perahu kapak

Riaknya sumbang
Deburnya jeritan kesedihan

KARENA AKU JUGA LELAKI

kau eram rindu sepikulan beban pada lelaki pencuri

hati dan waktu luangmu hilang percuma sebabnya

kemaruk tak berkesudahan menetak setiap inci tubuhmu



Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler