Dari Seorang Pelaut
dari laut.
kutemukan kisah malam.
adalah sebuah sepi di lautan.
nasib digantungkan kepada ombak mendayu
Malam meniupkan angin, darah menjelma beku
dari seorang pelaut
malam saksi sepi menusuki sukma
gemuruh angin serupa sangkakala
siap menarik roh dan jasad
dari melaut
laut adalah nyanyian sepi
daratan seperti kekasih dirindukan
Malam Purnama
Mawar dalam jiwa
Mengering tanpa air suka
Sebab awan tak lagi menurunkan hujan
Sejak purnama mengecupkan sebait puisi perpisahan
malam itu.
Malam yang sesak
Rindu menjadi beku
Sebab esok rembulandatang bukan untukku
Dialah mimpi menjelma batu
Sajak Perempuan Senyum dan Lelaki Karang
Entah dari mana?
Semalam aku mimpi kau jatuh
Jatuh dalam pelukanku.
Pelukan yang begitu hangat
Meruncing ke bilik-bilik jantungku
Mesra pandanganmu
Tenggelam di kelopak mata
Tiba-tiba seekor elang membawamu
Terbang-
Kepada awan
Aku mengejar tanpa kuasa
Aku patah di ranting pohon mati
Hanya bisa pandangmu
Jauh, lenyap di mata senja
Aku tersentak di sepertiga malam
sesaat wajahmu membayangi
Malam yang berbunga mimpi
rindu hanya serupa karang laut
Mengapa aku lalai
Menyerahkan kau bersama elang itu?
Sadarlah, nasibmu dan aku jauh
Kau terlahir dengan senyuman
Aku terlahir dengan karang rindu
Sudah Terbakar
Sudah kuduga
Semua akan begini akhirnya
Setelah kau minta keras
Nyalakan sumbu yang sengaja kusembunyikan
Di dalam lemari nuraniku
Harus apa lagi?
Api itu sudah berkobar sana, sini
Membakar ruang-ruang nurani
Membakar muka ini juga
Sebab kau tak pernah pahami itu
Sudah terlanjur begini
Habislah segala impian
Hanya aib yang meracuni segala muka
juga nama dan hati
Sudah terbakar
Sesal hanyalah bumbu yang merapuh.
Kau tak akan apa-apa
Aku tak punya apa-apa lagi
Semua sia-sia!
Sajak Kesangsian
Sepertinya sudah kusangsikan janji
yang kau ucapkan lewat surat waktu itu
Mungkin ini adalah kemunafikan. Buatmu!
Atau hanyalah rasa bodoh yang kalut, karena
sudah jauh memujamu yang melangit.
Apapun itu kuterima saja!
Sudah tersiksa batin ini, jika saja menunggu kasatmu
Bayanganmu saja masih kusangsikan
Kadang kau ilusi. Bagiku!
Kadang juga kau ada, karena
Harapan kau akan mengecup tangan kananku.
Sulit terbang ke istana langitmu.
Jika tak ada sayap seperti camar itu. Bagiku!
Baiknya aku berjalan pada lorong sendiri
Menikmati masa bodoh atau kemunafikan
Daripada menunggu kasatmu lagi.
Apapun nanti, kuterima saja!
Tangisan Ina Di Hari Ibu
ina,
tidak sampaikah salam rinduku
yang selalu ku titipkan
dengan senduan keresahan
dari anak yang lahir dari rahummu?
ataukah matamu berpaling
anak-anakmu kini hidup di antara dinding karton
diterpa topan badai yang mendurjakan nestapa
di tanah lahirmu sendiri
ina,
dunia ini keras, kaupun diam mengeras
melihat anak-anakmu diterpa tsunami aceh dan mentawai
gempa dahsyat di sumbar
dan ini kali longsor di tanah banjar negara
melahap anak-anak sebelum memeluk saudaranya sendiri
dalam keresahan yang terpias
kepada sukma yang menderu
menjalar gairah, merambah naluri
kutanyakan pelukan itu, ina?
inaku,
sakit ini sudah memanjang
mataharimu telah melangit
darah dan airmata masih saja menetes
satu permohonan padamu
bawalah anak-anakmu kembali fitrah
agar bendera jaya kembali berkibar
ina, selamat harimu.
Di Musim Dua Nol Satu Dua
Musim: gugur bintang
Matahari dan bulan merubah haluan
Kompas manusia retak busurnya
Bergantilah musik
Dua nol satu dua
Angka: mekar musim baru
Ada naga bangun menyulutkan api
Ada nenas bertunas hijau
Untuk tujuh kemakmuran
siang matahari dan malam bulan
Dua nol satu dua
Angka putra mahkota lahirlah martabattujuh
demi kejora Butuuni
Permohonan Kado Terbaik Dari-Mu
Malam mulai pekatkan mata
Bulan tanpa bintang, langit mendung akan hujan
Semakin sunyi, menghujam dada
Jauh dari riuh bahagia
Sudah dua puluh delapan musim perjalanan
Aku seperti diasingkan waktu
Hanya memeluk sunyi. Senyum saja!
segalanya sibuk, tak perlu tahu
kalau senyum ini hanya tipuan sesat
Oh, mungkinkah jiwaku telah jauh
oleh pandangan bulan
Hingga bunga tidurku turut ngeri
Sejak sunyi ini meruncingkan angan?
Siapa yang tahu?
Petuah selalu terbagi kepada duka
Aku juga sungguh luka
Kadang bergeming dalam gelap
Seperti “gendang tanpa irama”
Satu saja, sebelum lelap pada pekat malam ini
Tuhanku, berilah kado terbaik
jika sepuluh matahari menjemputku.
Jangan Bersedih Wa Ode Pogo, Kadatua
Jangan bersedih Wa Ode
Jika kini kau hanya makam belaka
Anak, cucumu tak lagi menari linda
Jangan bersedih Wa Ode
Jika kini kau hanya dongeng belaka
Anak, cucumu enggan lagi berkisah
Jangan bersedih Wa Ode
Jika kini air matamu kering
Anak, cucumu lupa lagi menyebutmu
Jangan bersedih Wa Ode
Jika benar anak, cucumu tak lagi menari linda,
Enggan berkisah dan lupa akan namamu
Maka cicitmu ini yang akan
Memfitrahkan kembali tanah kadatua ini
Perbincangan Penawaran Kontrak Barter
Apa yang kau inginkan dariku?
Aku ingin ilmu dan amalmu
Kemudian aku tukar dengan harta benda
Agar kau lupa akan siksa kubur
Aku ingin juga mimpimu
Kemudian aku tukar dengan lautan birahi
Agar kau lupa akan padang Ma’shar
Apalagi yang kau inginkan?
Aku ingin suara merdumu
Kemudian aku tukar dengan kebisuan
Agar kau tak melantunkan lagu permainan menjijikanku
Aku ingin juga imanmu
Kemudian aku tukar dengan kenistaan
Agar kau jauh dari syorga
Apalagi yang kau inginkan?
Aku ingin taqwamu
Kemudian aku tukar dengan jabatan semu
Agar jadi abdiku di neraka nanti
Aku ingin juga KEKASIHmu itu
Kemudian aku tukar dengan bangkaiku
Agar kau kekal bersamaku dalam mahligai kekafiran
Hentikanlah, kontrak barter ini tak akan aku paraf
karena barter itu tidak sah lagi di batinku!
Komentar
Tulis komentar baru