Skip to Content

kumpulan puisi karya Amiruddin Ena

Foto Amiruddin Ena

Dari Seorang Pelaut

 

dari laut.
kutemukan kisah malam.
adalah sebuah sepi di lautan.
nasib digantungkan kepada ombak mendayu
Malam meniupkan angin, darah menjelma beku

 

dari seorang pelaut
malam saksi sepi menusuki sukma
gemuruh angin serupa sangkakala

siap menarik roh dan jasad

 

dari melaut
laut adalah nyanyian sepi
daratan seperti kekasih dirindukan

 

Malam Purnama

 

Mawar dalam jiwa

Mengering tanpa air suka

Sebab awan tak lagi menurunkan hujan

Sejak purnama mengecupkan sebait puisi perpisahan

malam itu.

 

Malam yang sesak

Rindu menjadi beku

Sebab esok rembulandatang bukan untukku

Dialah mimpi menjelma batu

 

 

 

Sajak Perempuan Senyum dan Lelaki Karang

 

Entah dari mana?

 

Semalam aku mimpi kau jatuh

Jatuh dalam pelukanku.

Pelukan yang begitu hangat

Meruncing ke bilik-bilik jantungku

Mesra pandanganmu

Tenggelam di kelopak mata

 

Tiba-tiba seekor elang membawamu

Terbang-

            Kepada awan

Aku mengejar tanpa kuasa

Aku patah di ranting pohon mati

Hanya bisa pandangmu

Jauh, lenyap di mata senja

 

Aku tersentak di sepertiga malam

sesaat wajahmu membayangi

Malam yang berbunga mimpi

rindu hanya serupa karang laut

 

Mengapa aku lalai

Menyerahkan kau bersama elang itu?

 

Sadarlah, nasibmu dan aku jauh

Kau terlahir dengan senyuman

Aku terlahir dengan karang rindu

 

Sudah Terbakar

Sudah kuduga

Semua akan begini akhirnya

Setelah kau minta keras

Nyalakan sumbu yang sengaja kusembunyikan

Di dalam lemari nuraniku

 

Harus apa lagi?

 

Api itu sudah berkobar sana, sini

Membakar ruang-ruang nurani

Membakar muka ini juga

Sebab kau tak pernah pahami itu

 

Sudah terlanjur begini

Habislah segala impian

Hanya aib yang meracuni segala muka

juga nama dan hati

 

Sudah terbakar

Sesal hanyalah bumbu yang merapuh.

Kau tak akan apa-apa

Aku tak punya apa-apa lagi

Semua sia-sia!

 

 

 

 

 

Sajak Kesangsian

 

Sepertinya sudah kusangsikan janji

yang kau ucapkan lewat surat waktu itu

Mungkin ini adalah kemunafikan. Buatmu!

Atau hanyalah rasa bodoh yang kalut, karena

sudah jauh memujamu yang melangit.

 

Apapun itu kuterima saja!

 

Sudah tersiksa batin ini, jika saja menunggu kasatmu

Bayanganmu saja masih kusangsikan

Kadang  kau ilusi. Bagiku!

Kadang juga kau ada, karena

Harapan kau akan mengecup tangan kananku.

 

Sulit terbang ke istana langitmu.

Jika tak ada sayap seperti camar itu. Bagiku!

Baiknya aku berjalan pada lorong sendiri

Menikmati masa bodoh atau kemunafikan

Daripada menunggu kasatmu lagi.

 

Apapun nanti, kuterima saja!

 

 

 

 

 

 

 

 

Tangisan Ina Di Hari Ibu

 

ina,

tidak sampaikah salam rinduku

yang selalu ku titipkan

dengan senduan keresahan

dari anak yang lahir dari rahummu?

 

ataukah matamu berpaling

anak-anakmu kini hidup di antara dinding karton

diterpa topan badai yang mendurjakan nestapa

di tanah lahirmu sendiri

 

ina,

dunia ini keras, kaupun diam mengeras

melihat anak-anakmu diterpa tsunami aceh dan mentawai

gempa dahsyat di sumbar

dan ini kali longsor di tanah banjar negara

melahap anak-anak sebelum memeluk saudaranya sendiri

 

dalam keresahan yang terpias

kepada sukma yang menderu

menjalar gairah, merambah naluri

kutanyakan pelukan itu, ina?

 

inaku,

sakit ini sudah memanjang

mataharimu telah melangit

darah dan airmata masih saja menetes

satu permohonan padamu

bawalah anak-anakmu kembali fitrah

agar bendera jaya kembali berkibar

 

ina, selamat harimu.

 

Di Musim Dua Nol Satu Dua

 

Musim: gugur bintang

Matahari dan bulan merubah haluan

Kompas manusia retak busurnya

Bergantilah musik

 

Dua nol satu dua

Angka: mekar musim baru

Ada naga bangun menyulutkan api

Ada nenas bertunas hijau

Untuk tujuh kemakmuran

siang matahari dan malam bulan

 

Dua nol satu dua

Angka putra mahkota lahirlah martabattujuh

demi kejora Butuuni

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Permohonan Kado Terbaik Dari-Mu

 

Malam mulai pekatkan mata

Bulan tanpa bintang, langit mendung akan hujan

Semakin sunyi, menghujam dada

Jauh dari riuh bahagia

 

Sudah dua puluh delapan musim perjalanan

Aku seperti diasingkan waktu

Hanya memeluk sunyi. Senyum saja!

segalanya sibuk, tak perlu tahu

kalau senyum ini hanya tipuan sesat

 

Oh, mungkinkah jiwaku telah jauh

oleh pandangan bulan

Hingga bunga tidurku turut ngeri

Sejak sunyi ini meruncingkan angan?

 

Siapa yang tahu?

 

Petuah selalu terbagi kepada duka

Aku juga sungguh luka

Kadang bergeming dalam gelap

Seperti “gendang tanpa irama”

 

Satu saja, sebelum lelap pada pekat malam ini

Tuhanku, berilah kado terbaik

jika sepuluh matahari menjemputku.

 

Jangan Bersedih Wa Ode Pogo, Kadatua

 

Jangan bersedih Wa Ode

Jika kini kau hanya makam belaka

Anak, cucumu tak lagi menari linda

 

Jangan bersedih Wa Ode

Jika kini kau hanya dongeng belaka

Anak, cucumu enggan lagi berkisah

 

Jangan bersedih Wa Ode

Jika kini air matamu kering

Anak, cucumu lupa lagi menyebutmu

 

Jangan bersedih Wa Ode

Jika benar anak, cucumu tak lagi menari linda,

Enggan berkisah dan lupa akan namamu

Maka cicitmu ini yang akan

Memfitrahkan kembali tanah kadatua ini

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perbincangan Penawaran Kontrak Barter

 

Apa yang kau inginkan dariku?

 

Aku ingin ilmu dan amalmu

Kemudian aku tukar dengan harta benda

Agar kau lupa akan siksa kubur

Aku ingin juga mimpimu

Kemudian aku tukar dengan lautan birahi

Agar kau lupa akan padang Ma’shar

 

Apalagi yang kau inginkan?

 

Aku ingin suara merdumu

Kemudian aku tukar dengan kebisuan

Agar kau tak melantunkan lagu permainan menjijikanku

Aku ingin juga imanmu

Kemudian aku tukar dengan kenistaan

Agar kau jauh dari syorga

 

Apalagi yang kau inginkan?

 

Aku ingin taqwamu

Kemudian aku tukar dengan jabatan semu

Agar jadi abdiku di neraka nanti

Aku ingin juga KEKASIHmu itu

Kemudian aku tukar dengan bangkaiku

Agar kau kekal bersamaku dalam mahligai kekafiran

 

Hentikanlah, kontrak barter ini tak akan aku paraf

karena barter itu tidak sah lagi di batinku!

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler