Skip to Content

Sajak Bunga Mayang

Foto Rasull abidin

Sajak Bunga Mayang

 

Ketika engkau memakai gaun, hujan turun

Lalu aku berlari ke arahmu

Menahan tetes air hujan menerpa indah gaunmu

Karena aku tidak ingin indah gaunmu basah,

Lalu kita tertawa terbahak,

 

Ketika langkah kakimu berpijak di rerumputan,

Matahari memancar

Aku berlari menghalangi sinarnya membakar kulit indahmu,

Lalu kita tertawa terbahak,

 

Selentik indah bulu matamu,

Aku tak ingin keindahan itu menjelma sendu

Lalu aku pergi ke lautan teduh,

Memandang diri dan melempar sauh

 

Kemilau harum seindah rambutmu

Aku tak ingin keindahan itu menjelma rancu

Lalu aku mendaki bukit gunung batu

Tempatku duduk merendahkan wajah

Dan merebahkan gemuruh rindu,

Aku tak ingin bunga perdu yang aku tanam

Menjelma alang – alang

Lalu aku merantau

Lalu datang musim kemarau,

Harum semerbak bunga mayang hatimu yang aku bawa

Melepas dahaga

Saat burung – burung sibuk mencari mata air

Karena musim kemarau belum sepenuhnya rampung

 

Di langit,

Yang aku tatap bergumpalan awan hitam

Biji randu bersemburat melayang bak hujan salju

Sedap bisikanmu yang aku simpan dalam saku

Selalu aku buka,

Ketika langkah kaki terhenti pada simpang jalan

Menjadi penunjuk baru yang aku garis,

Dan tak ada dalam kamus peta yang pernah ketemu

 

Di bawah pohon rindang,

Yang aku pandang gerombolan kupu di dahan dan reranting

Dedaunan berguguran

Telaga menjadi kerontang

Pada bukit angin kering berhembus ,

Bila telah tiba waktunya aku datang kepadamu

Tentunya aku akan mencium keningmu.

 

 

Rasull abidin, 19 May 2014

Laut Jawa.

 

 

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler