Sajak Bunga Mayang
Ketika engkau memakai gaun, hujan turun
Lalu aku berlari ke arahmu
Menahan tetes air hujan menerpa indah gaunmu
Karena aku tidak ingin indah gaunmu basah,
Lalu kita tertawa terbahak,
Ketika langkah kakimu berpijak di rerumputan,
Matahari memancar
Aku berlari menghalangi sinarnya membakar kulit indahmu,
Lalu kita tertawa terbahak,
Selentik indah bulu matamu,
Aku tak ingin keindahan itu menjelma sendu
Lalu aku pergi ke lautan teduh,
Memandang diri dan melempar sauh
Kemilau harum seindah rambutmu
Aku tak ingin keindahan itu menjelma rancu
Lalu aku mendaki bukit gunung batu
Tempatku duduk merendahkan wajah
Dan merebahkan gemuruh rindu,
Aku tak ingin bunga perdu yang aku tanam
Menjelma alang – alang
Lalu aku merantau
Lalu datang musim kemarau,
Harum semerbak bunga mayang hatimu yang aku bawa
Melepas dahaga
Saat burung – burung sibuk mencari mata air
Karena musim kemarau belum sepenuhnya rampung
Di langit,
Yang aku tatap bergumpalan awan hitam
Biji randu bersemburat melayang bak hujan salju
Sedap bisikanmu yang aku simpan dalam saku
Selalu aku buka,
Ketika langkah kaki terhenti pada simpang jalan
Menjadi penunjuk baru yang aku garis,
Dan tak ada dalam kamus peta yang pernah ketemu
Di bawah pohon rindang,
Yang aku pandang gerombolan kupu di dahan dan reranting
Dedaunan berguguran
Telaga menjadi kerontang
Pada bukit angin kering berhembus ,
Bila telah tiba waktunya aku datang kepadamu
Tentunya aku akan mencium keningmu.
Rasull abidin, 19 May 2014
Laut Jawa.
Komentar
Tulis komentar baru