Skip to Content

MENDUNG (1)

Foto Hakimi Sarlan Rasyid

MENDUNG

 

Meski mendung tidak setebal awal siang tadi, sinar matahari masih belum bisa penuh menembus. Mendung tidak tebal tebal tidak mengurangi ramainya lalu lintas kendaraan dan lalu lalang orang di jalan beton depan rumahku. Ibu-ibu yang mengantar anak ke sekolah, pedagang jamu yang suaranya khas, ceria. Pemulung yang hampir semuanya dan setiap kali aku mencuri pandang wajah mereka, selalu murung. Teteh yang pembantu rumah tangga depan rumahku, yang setiap hari -kecuali Minggu- menitipkan motornya di teras rumahku. Ragam orang dengan kegiatan masing-masing setiap hari aku perhatikan.

 

Pagi ini ada yang belum muncul. Tetangga sebelah, seorang janda, belum keluar. Biasanya pagi-pagi dia sudah keluar, berangkat bekerja. Suaranya yang renyah menyapa, pamit berangkat kerja dan selalu mohon do'a. Janda cantik ini selalu naik ojek. Pernah aku berpikir, kapan ojek langganannya ini tidak datang. Sekali saja. Biarlah nanti aku yang menawarkan diri untuk mengantarnya ke tempat kerjanya. Belum kesampaian.

 

Pagi masih mendung. Lalu lalang orang dan kendaraan tidak sudah mulai berkurang. Hanya sesekali. Rumah di sebelah kiri, yang sudah lama kosong pagi ini tampak sedikit angker. Mungkin karena sepi yang kurasakan. Dokter gigi, pemilik rumah ini membeli rumah baru di perumahan yang dekat dengan tempat prakteknya. Persis di depan rumahku juga kosong. Menurut pemiliknya, rumah ini akan direnovasi sepulang piknik dari Eropa.


Aku kelas IV bapak menyodorkan AlQur"an, Tafsir Mahmud Yunus. Aku tidak ingat ketika kelas berapa beliau menyodorkan Wasiat Yang Lama Dan Perjanjian Baru. Lalu aku diberi buku Alam Pikiram Yunani. Kemudian  beberapa judul lainnya, Kalilah Dan Daminah, Kisah 1001 Malam, Bayan Budiman, Tom Sawyer, Sinbad Si Pelaut, Banyak sekali. Dan aku membacanya.

                                                                                       

Dari AlQuran sangat lekat dalam ingatanku terjemahan Surat Al'Adiyat. Dari Wasiat Yang Lama aku sangat ingat Samson yang punya kekuatan pada rambutnya. Aku sangat sedih ketika Samson harus jatuh oleh bujuk rayu Delila. Kalimat-kalimat indah Amtsal Sulaiman sangat menyenangkan dibaca.

 

Dan puncak kegembiraanku adalah ketika bapak membawa pulang sebuah radio. Aku ikut sibuk memasang antene. Bapak melilitkan kawat tembaga pada linggis untuk membuat antene spiral. Banyak malam aku lewati sampai tak ada lagi siaran yang bisa aku dengar. Jika suara radio hanya tinggal desis dan dengung tidak karuan radio aku matikan dan pergi tidur.

                                                                                        

Buku-buku dan radio tidak bisa mengalahkan keseriusanku mendengar bapak bercerita tentang leluhur. Menurut bapak, aku adalah keturunan ke 5 dari seorang pejabat kerajaan yang  meninggalkan istana. Istana ditinggalkan karena ingin hidup bersih, tidak terlibat dalam intrik-intrik istana.Waktu itu aku tidak tahu apakah intrik itu. Leluhurku  memilih membuka hutan dan tinggal di kehidupan baru meski penuh penderitaan.

                                                                                        

Belakangan aku sempat berpikir mengapa nama-nama leluhur itu berbau Tionghoa. Ada nama Iwing (mungkin dari nama I Wing), ada nama Ayong (mungkin dari nama A Yong), ada nama Ulim (mungkin dari nama U Lim). Kisah leluhur ini merupakan kisah tuturan dari generasi ke generasi. Tidak ada tulisannya. Hanya lisan. Ketika aku tanya siapa nama leluhur yang meninggalkan istana karena ingin hidup bersih, ayahku menjawab, namanya Adipati Arya Adhi.

 

Yang pertama aku ingat, pelajaran dari bapak -bukan pelajaran pertama- adalah menghargai sesama tanpa membedakan bangsa, suku, agama, dll. Intinya menghargai perbedaan. Nama A Mew, A Siong, adalah 2 nama Tionghoa yang sampai sekarang masih melekat dalam ingatanku. Anwar, Bunyati, Hairi, Idehan, Awaludin, Saleh, Ali Derahat, Ali Sudin, Nani. Sai'a, Samsuri, Rubiyah dan banyak lagi lainnya, masih aku ingat. Selain menghargai perbedaan bapak juga menamamkan pengertian "yang besar dihormati, sama besar disegani, yang kecil disayangi". Sangat indah. Menghormati guru, itu sangat terasa diajarkan oleh bapak. Beliau tidak sering berkata "hormati guru" tapi beliau sering bercerita tentang masa sekolahnya. Beliau menyebut semua nama guru dan saat beliau sekolah sebutan guru didahului oleh sebutan juragan.

                                                                                       

Aku meniru beliau. Aku mengingat nama-nama guru ketika aku masih di sekolah rakyat. Pak Mustapa, Pak Musa, Pak Samah, Pak Suradi, Pak Ismail, Bu Nuri'ah, Bu Nurjimah, Bu Nasidah dll. Di SMEP, Pak Y M Suyitno, Pak Adani, Pak Ahyak Ibrahim, Pak Husaini Azwar, Pak Sugeng, Pak Engkos Safrudin, dll. Di SGA, Pak Bunyamin. Pak Broto, Pak Yap Kon Koey, Bu Anna Marie, Bu Zubaidah Rusli, dll. Dengan tiap nama itu aku punya kenangan tersendiri. Ada kenangan pahit, ada kenangan manis.

                                                                                       

 Cara bapakku mendidik aku untuk menyayangi keluarga sangat unik. Salahsatunya adalah ketika adikku, setiap pulang sekolah selalu menangis karena diganggu orang, bapakku bertanya apakah aku berani membela adik? Terus terang aku bingung menjawab. Rusman Boy yang sering mengganggu adikku, badannya lebih besar dari aku. Tampaknya dia ini anak Belanda, meski sekarang bapaknya bukan Belanda. Kenapa? Karena kulitnya ya seperti kulit orang Eropa, matanya tidak hitam seperti umumnya teman lainnya. Agak coklat. Aku sudah mengamati lebih dulu. Aku sudah memperhitungkan bahwa suatu saat aku akan berhadapan dengan Rusman Boy. Lagi pula Rusman Boy itu punya teman yang sama-sama suka menggangu orang lain. Nama temannya Rozali, anak Pak Derani, seorang polisi yang suka mabuk karena minum Bols.

 

Rusman Boy anak Kepala Pertanian, Rozali anak polisi. Jadi hampr tidak ada yang berani kepada 2 orang anak nakal ini. Di depan bapak aku tidak boleh menampakkan takut. Ketika beliau mengulangi pertanyaan berani atau tidaknya aku langsung menjawab, berani. Bapakku tertawa terbahak-bahak.

                                                                                        

Keesokan harinya, sepulang keliling berdagang aku menjemput adikku. Kelas II masuk siang karena ruang kelas hanya 4 dan murid sudah banyak. Ada 2 kelas yang masuk siang. Kelas 2 dan kelas 3. Guru yang bertugas sore yaitu Pak Ismail dan Pak Suradi. Pak Suradi juga mengajar di kelas IV, kelasku. Jadi beliau mengajar pagi dan siang.

 

Aku memberi tahu Mak akan menjemput. Mak menjawab pendek, ya, Tanpa menengok kepadaku. Dalam perjalanan menjemput, satu-satunya yang aku takuti  adalah jika Rusman dan Rozali bersatu mengeroyok. Aku pasti kalah. Kalau satu lawan satu aku akan melawan Rusman Boy dulu. Kalau Rusman Boy kalah pasti Rozali tak akan berani melawanku. Taoi bagaimana kalau mengeroyok.

 

Sampai di sekolah. Bersamaan dengan kedatanganku, anak-anak baru saja keluar,berhamburan, berteriak lepas. Ada yang melempar tas ke atas kemudian berusaha menangkap kembali, ada yang memutar-mutar tas disabetkan kepada orang lain. Dan yang memutar-mutar tas itu adalah Rusman Boy. Anak Belanda ini mengarahkan sabetan tasnya kepada adikku. Aku menghampiri adikku. Pucuk dicinta ulam tiba. Pak Guru sudah ada di luar. Aku memeluk adikku. Berusaha menghalangi sabetan tas Rusman Boy.

                                                                                        

Aku berteriak keras melarang Rusman untuk tidak menggangu kami. Aku ingin teriakanku di dengar oleh Pak Guru. Anak-anal lainnya mengerumuni kami. Karena Rusman tetap saja dengan tingkahnya aku lepaskan adikku dari pelukan dan dengan nekad aku layangkan tinju kanan ke arah mukanya sambil menepis sabetan tas dengan tangan kiri. Tepisanku kurang kuat, atau tenaga Rusman yang kuat. Tas masih mengenai kepala tapi tidak seberapa sakit.

Tinju kananku diikuti oleh tinju kiri, juga ke arah mukanya. Mungkin Rusman tidak menyangka akan mendapat perlawanan, juga karena tas yang kutepis melibat tangan kanannya, maka hasilnya dua kali aku meninju wajahnya, 2 kali kena, dan Rusman menjerit, menangis sambil berjongkok dan menutup muka dengan kedua belah tangan.

 

Pak Suradi dan pak Ismail sudah berada diantara kami. Anak-anak tidak ada yang berteriak. Pak Ismail menghampiriku, Pak Suradi menghampiri Rusman. Jantungku berdegup keras. Aku takut dimarahi guru. Itu saja. Ternyata tidak. Hakimi, bawa adikmu pulang, hanya itu yang dikatakannya. Aku tidak menunggu lagi. Kupegang tangan adik, kupegang buku-bukunya dan aku pulang.

                                                                                       

Ada seorang yang memulai menyebut "ta in de" beberapa kali. Kontan diikuti oleh anak lainnya. Mereka meneriakkan ta in de. Ta in de itu artinya tamat. Selesai. Berasal dari kata "the end".

                                                                                       

Demikian bapak melatih, mengajar, mendidik. Masih tentang keberanian. Pagi itu -sekolah sedang libur, baru terima rapot- karena bapak kurang sehat, aku harus menggantikan beliau mengantar kue buatan Mak ke warung-warung di beberapa kampung ke arah Toboali. Tentu saja aku terkejut. Toboali -yang ketika itu menjadi Ibukota Bangka Selatan- jaraknya 68 km dari Koba, tempat tinggal kami. Sempat terpikir olehku, apakah bapak betul tidak sehat. Kulihat biasa-biasa saja. Aku tidak punya kesempatan menjawab karena semuanya sudah siap. Sepeda dan kaleng berisi kue sudah tersandar di tiang depan rumah, Sudah dihadapkan ke jalan, Tinggal menuntun beberapa langkah dan berangkat.

                                                                                       

Yang membuat aku jadi tambah berani adalah ketika bapak menyerahkan pisau belatinya kepadaku. Pisau itu adalah impianku. Seperti bapak yang terlihat gagah dengan belati bersarung kulit warna coklat, terselip di pinggang. seperti itulah aku kadang-kadang keinginan gagahku.

                                                                                        

Kuselipkan belati cap garpu itu di pinggangku. Setelah bersalaman dengan bapak dan emak aku berangkat. Tidak menoleh ke belakang, tidak bertanya dimana nanti aku makan. Tidak minta bekal uang. Sepeda kukayuh. Aku masih ingat, aku mengucap basmalah.

 

Tahun 1960an semua kondisi tenui tidak seperti sekarang. Di kampung yang kulewati rumah penduduk belum banyak, Juga warung tidak banyak. Jarak antar kampung dipisahkan oleh hutan. Paling tidak ada satu sungai yang harus dilewati di antara dua kampung. Dan jembatannya masih ada yang memakai batang kelapa.

 

Nibung, Airbara, Ranggas, Nangka, Airgegas sudah lewat. Kue yang kubawa sudah banyak laku. Sisanya tidak sampai setengah kaleng lagi. Nama kampung berikutnya aku tak begitu hafal. Kalau tidak salah ada kampung Pergam. Nama kampung ini sama dengan nama burung. Hari sudah lewat asyar ketika aku sampai di sebuah kampung. Ada 3 warung yang membeli kue. Semua kontan.

                                                                                       

Selesai di warung ujung kampung, yang mengarah ke Toboali, yang empunya warung menahanku untuk tidak berangkat. Katanya aku akan kemalaman karena jaraknya jauh. Hutannya lebat, tambahnya. Aku mengucap terima kasih dan kukayuh sepeda menuju kampung berikutnya.

 

Tidak begitu jauh dari kampung, ada air pemandian. Banyak orang sedang mandi. Lelaki, perempuan, tua, muda ada. Kayuhan aku lambatkan sedikit. Mandi di sungai sudah menjadi kebiasaan di Bangka. Entah sekarang. Kudengar hampir tidak ada sungai yang bisa dijadikan tempat pemandian karena airnya selalu keruh akibat penambangan liar. Tadinya aku ingin mandi tapi aku tidak membawa kain basahan. Aku berhenti sekedar membasahi kaki di air yang sangat jernih itu. Jernih, dingin menyegarkan. Penat kaki terasa berkurang. Tidak lama.

 

Melihat aku pandangan mereka hampir semua terarah kepadaku. Lalu ada yang menyapa "nek kemanau duri e". Aku tahu ini adalah sapaan akrab. Aku menjawab "nek ke hela' tiker e". Dan jawaban ini adalah jawaban akrab. Hehehe ... ada beberapa orang gadis tanggung melihatku sambil tersenyum. Ah, indahnya senyuman itu. Lalu seorang perempuan paruh baya melanjutkan "ngape ika' da' bemalem di kampung di kami jadi la, agik jau kampung nu e".

 

Ibu-ibu itu bertanya "mengapa tidak menginap di kampung, di rumah kami bolehlah menginapnya, kampung disana (berikutnya) masih jauh).

                                                                                       

Aku menjawab tawaran itu dengan kalimat "makaseh pon, ku nek lanjut la". Standar sepeda aku bebaskan dengan kaki kananku dan seiring aku bergerak, ramai mereka berkata "helamet jalan ao". Entah terdengar entah tidak oleh mereka, aku menjawab "ao" sambil meraba pinggang, meyakinkan bahwa "cap garpu: aman di pinggang.

 

Lama sudah aku mengayuh. Di jalan datar aku habiskan tenaga untuk mengayuh. Terasa lelah. Di tanjakan tanggung dan di depan tampak aman aku tidak turun. Ada rasa khawatir aku kemalaman di jalan. Di bagian puncak tanjakan pepohonan tidak bertaut tapi mulai mendekat akhir turunan pucuk pepohonan bertaut. Jadi agak gelap. Atau ini gelap karena memang sudah mendekati maghrib. Ah mengapa aku tidak menginap saja. Mengapa aku tidak menerima tawaran menginap dari bibi tadi. Setelah lewat sebuah tanjakan yang tidak seberapa aku dihadapkan dengan jalan menurun sangat panjang. Aku bisa menghemat tenaga, demikian perhitunganku. Tapi salah besar.

 

Bukan kayuhan sisa tenaga yang membuat sepeda meluncur cepat tapi memang turunan itu ternyata sangat menipu pandangan. Aduh, aku harus mengerem. Jika tidak aku akan terjepit di jembatan batang kelapa yang  jelas terlihat dipasang membujur. Aku segera mengerem. Saking gugupnya aku hentak rem. Dengan kaki kanan aku hentak sekuat tenaga. Dan rem torpedo ternyata tidak bisa ditahan sedikit-sedikit. Begitu kaki dihantakkan maka ban belakang mulai hanyut karena kerikil. Keseimbangan hilang. Aku pasrah. Sepeda lebih dulu meluncur, Aku terhempas, tutup kaleng terbuka, kue berhamburan. Sepeda berhenti pada jarak beberapa langkah ke jembatan.

                                                                                       

Baru saja aku akan berdiri, sambil menahan sakit pada kedua siku, aku dikagetkan oleh suara lutung. Tahu lutung? Ya, sebangsa monyet. Hitam,. ekornya panjang. Hek hok hek hok ramai. Beberapa ekor turun ke dahan terendah dan dekat kepadaku. Dahan digoyang-goyangkan. Ketika menyeringai terlihat taring putih berlatar warna gusinya yang merah.

 

 Aku tidak tahu. Lutung ini menakut-nakuti aku atau menertawai. Masa bodoh. Aku harus cepat membenahi kue yang berantakan. Selesai kue, diiringi suara lutung aku mengurus sepeda. Kuberdirikan. Setangnya bengkok. Untuk meluruskannya aku garus berdiri menjepit ban depannya. Ketika meluruskan inilah aku dikejutkan oleh kain putih di semak-semak terbang. O tidak, bukan terbang tapi bergerak turun naik seperti gelombang.

 

Ketakutanku makin menjadi ketika aku sadar bahwa kain putih yang bergerak melambai-lambai itu ternyata memayungi kuburan. Dan kuburan itu tanahnya masih merah. Apa artinya ketakutan dalam keadaan seperti itu?  Seperti halnya kekuatan ayam tersembunyi dalam "kelemahan"nya maka ketakutan pada puncaknya adalah keberanian.

                                                                                        

Diiringi hak hek hok lutung aku mendekati kuburan itu. Tapi gagal mendekat ketika aku sadar belati tidak ada di pinggang. Kusapu tempat aku jatuh dengan pandangan yang hampir terhalang oleh sore yang semakin redup. O, itu dia. Tergeletak dekat selokan. Kuambil dan aku kembali ke kuburan.

                                                                                       

 O hanya kuburan, demikian aku berbisik, Aku berbalik. Kaleng kue kuikat kembali ke bagasi sepeda, seperti tadi. Selesai itu sengaja aku memandang lutung-lutung yang bertengger di dahan. Tampaknya rombongan lutung telah menentukan pohon itu sebagai tempat singgah  untuk bermalam.

 

Aku menuntun sepeda. Tidak bisa kunaiki karena tanjakan sangat tajam. Ketika aku sampai ke kampung, orang-orang baru keluar dari surau. Baru selesai maghrib. Mereka mengerumuni aku. Bertanya ini itu.

 

 "Anak hape ika' ni? / Anak siapa kamu ini?" tanya salah seorang.

                                                                                       

"Aku anak Sarlan....." jawabku masih terengah-engah karena tajamnya tanjakan.

 

Yang bertanya kepadaku tidak berkata apa-apa lagi. Hanya memandang seperti kagum. Sedangkan yang lain ramai bersuara, tertawa.

                                                                                       

 "Hahahaha ... hame gile e. Da' ba' da' anak e..... (Hahahaha ...sama gilanya, Tidak bapaknya tidak anaknya.....") kata beberapa orang sambil melangkah pergi.

 

Tiga orang "memperebutkan” aku untuk menginap. Tapi akhirnya aku diputuskan untuk menginap di rumah seorang yang dia itu guru. Pak Guru itu sangat baik. Dia menuntun sepeda. Hanya beberapa puluh meter dari surau. Aku diantar mandi di sumur dibelakang rumahnya oleh anaknya lelaki. Seumur denganku.

 

Setelah makan Pak Guru minta aku bercerita bagaimana pengalaman di jembatan lutung. Aku ceritakan apa adanya. Selama aku bercerita matanya seakan tidak berkedip menatap wajahku. Dan  malam itu aku hampir tidak bisa tidur. Aku sangat takut. Pak Guru (aku lupa namanya) berkata bahwa lutung bisa saja ada dan memilih tempat singgah untuk tidur disitu tapi kuburan itu tidak ada.

 

"Apakah kau mau kembali ke jembatan itu untuk membuktikan bahwa kuburan itu tidak ada? Dulu bapakmu aku beri cerita seperti ini. Dia tidak percaya. Dia mengajakku kembali ke jembatan itu. Kalau saja tidak dengan bapakmu, aku tidak berani," kata Pak Guru."Kami kesana, pakai strongking. Dan... kuburan itu benar tidak ada."

 

Aku dibiarkan bangun siang. Sudah ada rebus ubi dan madu. Aku segera mandi. Aku ingat kue. Ketika aku siap-siap keluar, Pak Guru datang. Ia membawa uang dan diberikan kepadaku. Ternyata itu adalah uang kue. Semuanya terjual. Karena kue sudah habis maka hari  itu juga aku kembali ke Koba, menempuh jarak yang kutempuh kemarin. Setelah berpamitan epada Pak Guru aku beranjak pulang. Di jembatan lutung aku standarkan sepeda. Aku melihat kain putih itu masih ada. Tapi kubuannya, betul kata PakGuru. jembatan itu benar tidak ada.

Demikianlah hebatnya bapak melatih, mengajar, dan mendidik aku. Sorenya aku sudah sampai ke Koba dan bapak sedang ngobrol dengan tetangga. Melihat kedatanganku dia terburu-buru menyambut. Ibuku juga keluar menyambut. Adik-adikku bersorak gembira..."abang datang...abang datang..."

                                                                                        "Bagaimana....bagaimana.....ketemu Pak Guru?" tanya bapak.

                                                                                       

Aku tahu arah pertanyaannya. Aku tidak menjawab tentang Pak Guru.

                                                                                        

"Kain putihnya ada tapi kuburannya tidak ada," kataku. Lalu aku menyerahkan belati kepada bapak

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler