Skip to Content

Diam-diam Kuuntai Kasih VII

Foto Cahyamulia

Pergantian  kepala kantor terjadi lagi karena Pak Yono memang telah memasuki masa pensiun. Pak Hadi sebagai pengganti sebagai penggantinya begitu  tegas  dan disiplin tapi dalam komunikasi lebih terbuka dan rileks. Demikian pula kepemimpinan Pak Hadi lebih dapat membuat suasana kian terbuka dan membuat hubungan antar personal karyawan lebih rekat. Dan lagi-lagi, Pak Mulya lebih dekat dengan Pak Hadi sebagai pimpinan baru, bahkan hampir-hampir seperti teman bermain. Bahkan  dalam  memutuskan  sesuatu lebih banyak tergantung Pak Mulya. Maklum, faktor  penyebab  utamanya adalah kemampuan IT Pak Hadi masih jauh di bawah Pak Mulya. Termasuk juga dalam membuat berbagai konsep.

“Pak,” sapaku pada Pak Mulya pada suatu ketika.

“Apa Wulan,” sahut Pak Mulya.

“Kerja di lapangan itu enak ndak ya,” lanjutku bertanya.

“Ya...tinggal yang merasakan. Tapi dari pada di ruangan kalau saya enak di lapangan. Lebih menantang,” jawab Pak Mulya.

“Pingin nyoba ikut ke lapangan ta?” tanya Pak Mulya sambil senyum.

“Sesekali pingin juga sih. Tapi gimana dengan Pak Hadi. Apa boleh ya! Kalau  yang dulu-dulu kan ndak boleh karena tugasku sebagai admin,” tegasku sambil senyum dan mengarahkan lirikan mata pada Pak Mulya.

“Cobalah nanti Pak Hadi saya ajak ngobrol-ngobrol. Insya Allah nurut kalau saya usuli,” tegas Pak Mulya.

Seperti  biasa, satu minggu  sampai lima hari terakhir tiap akhir bulan  tugas membuat  laporan  akhir  menjadi tugas utamaku. Tapi dah dua bulan ini Pak Mulya hanya punya sedikit waktu untuk mendampingi. Aku menyadari kelihatannya ada kegiatan lain di luar.

“Wulan, gimana laporannya. Dua hari sebelum akhir bulan kira-kira apa siap. Karena saya akan cuti,” tanya pak Hadi.

“Insya Allah pak. Saya usahakan,” jawabku.

“O...ya, kata Pak Mulya  kamu  pingin  juga ke lapangan,” lanjut Pak Hadi.

“Sesekali ndak apa-pa ya pak?” tanyaku meyakinkan.

“Ndak apa-apa. Ya, antara minggu ke dua ke tiga kan kita biasanya agak longgar. Malah  kebeneran, nanti  kalau  melihat  fakta  lapangan ketika membuat laporan nanti akan lebih mudah. Terserah, ngikut siapa nanti. Atau ganti-ganti pasangan. Ha...ha...ha.....ha.......” tegas Pak Hadi.

“Ya pak, terimakasih,” jawabku selanjutnya.

“Tapi  jangan dengan ini! Ha...ha.....ha.....,” lanjut Pak Hadi sambil mengarahkan pandangan ke Pak Mulya ketika Pak Mulya menghampiri kami.

“Jangan-jangan nanti ndak bisa kembali......,” sambung Pak Hadi sambil tertawa.

“Aman...aman... kalau dengan saya,” sahut Pak Mulya sambil tertawa.

“Apa itu tadi yang dibicarakan,” tanya Pak Mulya menegaskan.

“Itu lo! Wulan sesekali mau ikut ke lapangan,” jawab Pak Hadi.

“Kalau siap saya ada kegiatan tanggal tiga belas. Nanti bisa melibatkan tiga-empat orang,” tambah Pak Mulya.

Awalnya aku  tak begitu yakin dengan apa yang disampaikan Pak Hadi maupun Pak Mulya. Karena semua lebih banyak diikuti dengan ketawa.  Namun dua hari jelang kegiatan Pak Mulya dilaksanakan benar-benar  diputuskan dalam  rapat dan melibatkan 4 orang, Pak Mulya sendiri, pak Hadi, aku dan Mbak Nur.

“Wulan siapkan?” tanya Mbak Nur di tengah-tengah rapat koordinasi.

“Tugasnya pokok ikut. Jadi pembantu umum, he...he....he...,” timpal Pak Mulya.

“Siap mbak! Kan cuma ikut. Nanti tak  jadi juru camera aja,” sahutku sambil tersenyum.

Pengalaman pertama mengikuti kegiatan lapangan terasa menyenangkan. Tapi ketika terik matahari kian menyengat dan kondisi  perut mulai terasa lapar, ternyata merasakan lelah juga.

“Wulan, gimana. Enak nggak kepanasan,” celetuk Pak Hadi di tengah-tengah kegiatan di bawah terik matahari.

“Panas tapi enak pak. Apalagi  jalan  kaki di tengah hamparan, meski agak lelah tapi menyenangkan,” jawabku.

Hampir  jam satu  siang  kami  baru  menemukan tempat berteduh di tengah hamparan lahan yang masih kering kerontang karena lama tidak turun hujan. Gubug  milik petani yang agaknya  juga  lama tidak digunakan dengan tempat duduk yang sebagian sudah kurang sempurna. Di gubug itulah  kami  bersistirahat dan  menikmati bekal  seadanya  yang dibawa oleh Mbak Nur.

“Wah, kalau  ngerti  di  tengah  hamparan  seperti  ini saya juga bawa makanan,” celetukku saat kami bersiap menikmati bekal.

“Kapan-kapan aja kalau ikut  lagi dan yang lebih masuk ke hamparan sana,” timpal Pak Mulya.

Dilihat dari kondisinya, gubung itu memang biasa saja tapi cukup memberi makna buatku. Ya...melindungi dan memberi  peneduh saat kondisi  kelelahan. Sederhana tapi tetap  bermakna. Apalagi  tanpa kusadari ternyata aku duduk berimpitan dengan Pak Mulya yang selama ini belum pernah kami lakukan meski kami tertaut rasa kasih sayang. Betul-betul tanpa  kusadari  karena  memang  hanya itulah adanya tempat. Atau memang kami berada di tengah antara Pak Hadi dan Mbak Nur telah disengaja oleh mereka berdua.

Gubung keasrian, itulah aku menyebut dan memposting dalam instagramku. Keasrian, karena tempatnya cukup unik bagiku dan dari situlah aku memperoleh kepuasan hati melebihi healing yang direncanakan.

Komentar

Tulis komentar baru

Materi isian ini bersifat rahasia dan tidak ditampilkan ke publik.


Terpopuler Hari Ini

Sebulan Terakhir

Terpopuler